Jeneponto: Panas, Kering, dan Kuda

Jeneponto Kering

Jeneponto, kabupaten di ujung selatan pulau Sulawesi ini terkenal dengan kuda dan kegersangannya. Konon musim hujan hanya sebentar dan musim kemarau hampir sepanjang tahun. Jeneponto dikenal juga dengan nama Butta Turatea, kampung orang atas. Jeneponto memiliki laut dan gunung.

Masyarakat memanfaatkan air tadah hujan atau sumur umum yang sangat terbatas jumlahnya. Tiap hari ada saja orang yang saya temui di jalan sambil memikul air, entah sudah berjalan berapa jauh. Kehidupan yang keras, orang disini lebih suka makan kuda daripada sapi.

Saya sempat merasakan KKN disini, beruntung desa kami adalah desa yang relatif subur dengan air bersih yang cukup. Lihat saja fotonya.


Weekly Photo Challenge: Dreamy

Dreamy Bangkok

Sepanjang perjalanan saya hanya termenung sambil mendengarkan musik lewat earphone, kadang diselingi dengan tidur. Tak pernah terbayangkan sebelumnya menginjak tanah Bangkok dengan cara seperti ini. Rencana Tuhan memang ada-ada saja.

Tak mau melewatkan setiap momen, saya memotret membabi buta, memotret apa saja. Gedung, jalan, awan, langit tak lepas dari jepretan kamera ponsel. Sebenarnya pemandangannya sama saja dengan di tanah air. Tapi, kapan lagi saya kesini? Potret saja sesuka hati, toh tidak ada batasan quota memotret.

Foto ini hanya satu dari sekian banyak foto selama perjalanan. Kelak hasil foto akan saya buka kembali, menguak kenangan selama perjalanan, menceritakannya kembali dalam sebuah lamunan.


Pertunjukan Teater Terbaik di Dunia

Pre Show Siam Niramit

Siam Niramit Bangkok, konon merupakan pertunjukan teater terbesar dan terbaik di dunia. Menampilkan legenda dan sejarah kerajaan Thailand.

Awalnya saya biasa saja, maklum saya cenderung cepat bosan jika menonton pertunjukan teater, apalagi yang kebanyakan dialog. Namun setelah pertunjukan berjalan, saya dibuat takjub oleh settingan panggung yang berganti-ganti hingga tari-tarian yang indah. Kadang masuk hewan asli seperti ayam, kambing, hingga gajah. Bahkan, ada hujan dan sungai di atas panggung. Puncaknya, para pemain menari di tengah penonton bersama gajahnya. Tapi sayangnya, dilarang memotret selama pertunjukan. Kamera wajib dititip di luar teater. Foto ini hanyalah pertunjukan pemanasan di luar teater.

Bangkok, Benchmarking hari ketiga.


Samsung Note 3 Rasa Batam

GalaXy Note 3 Batam

Samsung Galaxy Note 3 ini dititip beli di Batam, tempat yang konon surga bagi pasar gelap dan barang palsu. Harganya sejutaan, delapan kali lebih murah dari yang aslinya.

Sekilas nampak mirip dengan aslinya. Bedanya “hanya” pada layar yang sedikit lebih kecil, kamera beresolusi rendah, sensitifitas layar yang buruk, baterei cepat kalah, dan penangkap signal yang lemah. Sisanya bisa di test di Antutu, CPU-Z, atau *#0*#. Namanya juga ponsel KW, sebandinglah dengan harga murahnya.

Saya lebih senang sama penjual yang berterus terang jika barangnya adalah KW kesekian, daripada yang mengaku asli padahal palsu. Ada sedikit sisa dana, smartphone-smartphonan ini buat mainan Khalila.


Weekly Photo Challenge: Signs

Priority Seat

Tanda seperti ini sering ditemukan di tempat umum. Gambar atau simbol yang dibawahnya ada tulisan “priority seat”. Gambar tersebut antara lain gambar bayi di atas stroller, ibu menggendong bayi, orang memegang tongkat, dan ibu hamil memegang perutnya.

Tanda tersebut ada pada sebuah kursi, saya potret di Bandara KLIA2. Artinya adalah “diprioritaskan untuk kalangan yang ada pada gambar”. Selain bayi dan ibunya serta orang tua dan ibu hamil, haram duduk disitu. Yang nekad duduk akan malu sendiri.

Andai saja tulisan “priority seat” bukan huruf latin berbahasa Inggris (huruf kanji atau lontara contohnya), yang melihat tidak sulit mengerti, kecuali bebal dan tidak sekolah.


Jejak Batik di Thailand

Selamat Hari Batik

Sebelum berangkat benchmarking, kami diharapkan menggunakan pengenal ciri khas. Mestinya kami menggunakan jas almamater selama short course di Mahidol, namun tak semua mahasiswa punya termasuk saya. Akhirnya kami bersepakat menggunakan batik, terserah motif apa. Konon batik merupakan citra bangsa Indonesia, hingga ditetapkan hari ini (2 Oktober) sebagai hari batik Nasional.

Saya membawa dua lembar baju batik. Salah satunya adalah yang saya pakai ini. Batik ini sudah pernah ke Jepang. Sebenarnya sekarang sudah kekecilan dan tak layak pakai. Namun hanya ini batik yang tersisa. Di Thailand juga ada batik, malah menurut saya motifnya cantik-cantik dengan warna cerah menggoda.

Bangkok, Benchmarking hari ketiga.


Weekly Photo Challenge: Nighttime

Nightime Lampion

Malam tiba, waktunya mengerjakan tugas kuliah. Kalau siang, tugas-tugas ini terbengkalai, saya tak dapat bekerja sambil menjaga bayi. Multitasking itu sulit kawan. Kalau seluruh pekerjaan mau diselesaikan bersamaan, khawatirnya malah tak ada satupun yang tertuntaskan. Jadi, saya kerja malam saja, lebih tenang, lebih damai, lebih khusyuk.

Malam ini tugas sudah menumpuk, tapi rasa malas lebih menumpuk. Ini malam minggu kawan, mestinya kita bersantai menikmati malam akhir pekan. Kalau otak tak diistirahatkan, khawatirnya semakin tumpul.

Ditemani gigitan nyamuk, malam ini dilalui dengan upload foto. Foto ini adalah suasana malam di Siam Niramit Bangkok, bertabur lampion. Lampion memang lebih indah saat malam hari.


Selamat Jalan Pilkada Langsung

Demokrasi Kursi

Dahulu kala, saat Pilkada langsung, lahirlah Jokowi di Solo dan Jakarta, Tri Rismaharini di Surabaya, Ahok di Belitung Timur, Ridwan Kamil di Bandung, Nurdin Abdullah di Bantaeng, hingga Hatta Rahman di Maros. Mereka orang-orang hebat, sangat hebat malah. Mereka lahir langsung dari rahim rakyat, tanpa operasi caesar.

Sebelum era mereka? Setahu dan seingat saya tak ada! Para pendahulu mereka hanya bergelut di belakang meja kerja, berusaha menghabiskan anggaran, lobi sana lobi sini.

Patut ditunggu, penuh harap cemas sang penguasa yang lahir dari rahim wakil rakyat, dengan operasi caesar. Semoga saya hanya berprasangka buruk, akan lahir yang lebih baik daripada SBY. Mari.


Daya Tahan Sepatu Wakai

DSC_0600

Sepatu Wakai Nagare ini menemani selama perjalanan benchmarking Malaysia-Thailand. Awalnya saya ragu memakainya. Terkesan tidak kuat karena terbuat dari kain, modelnyapun terkesan santai, tidak formal, padahal akan dipakai di Universitas Mahidol Thailand untuk short course selama dua hari.

Saya malas membawa sepatu lain, merepotkan. Daripada membawa sepatu resmi, mending ruang di tas disiapkan untuk oleh-oleh. Saya berdoa saja semoga si Wakai kuat dan sehat wal afiat sampai di tanah air.

Setelah memakainya, ternyata daya tahan si Wakai cukup kuat. Padahal dibawa berjalan jauh hingga berlari kecil, terpapar panas dan hujan. Syukurlah, harganya yang ukuran kantong saya cukup mahal sebanding dengan kekuatannya.


Wisata Singkat Batu Caves

Batu Caves

Batu Caves, sebelum ke Malaysia, saya sudah browsing sana-sini melihat dan membayangkan keindahannya. Setelah melihatnya langsung, memang cantik. Konon dibuat oleh pendatang dari Cina yang membeli tanah disekitar karst bukit kapur, lalu membangun tempat sembahyangnya. Soal karst, lebih indah di Maros.

Patung Murugan berwarna emas dan karst menjulang tinggi menyambut para turis. Tour guide hanya memberi kami kesempatan memotret selama 15 menit. Tak boleh masuk ke goa disamping patung, waktu sangat terbatas dan masuk ke goa tidak gratis. Saya kalap, potret serampangan saja dengan Nikon D3100 dan Xperia ZL. Teriknya matahari siang itu tak saya pedulikan.

Kuala Lumpur, Benchmarking hari kedua.