Konsep Pusat Kota Pemerintahan

Putra Jaya

Saya berandai-andai, ibukota negara pindah ke tempat lain, bukan lagi di Jakarta. Makassar atau kota lain bisa jadi alternatif.

Tapi Malaysia punya cerita. Pusat pemerintahan berupa kantor dipindahkan dari pusat kota yang padat ke luar kota yang sepi nan tenang. Kota baru pusat pemerintahan Malaysia ini diberi nama Putra Jaya. Segala fasilitas ada disini, mulai perumahan PNS hingga sekolah. Konon segala urusan serba online, memotong birokrasi yang rumit dan berbelit. Entahlah, yang jelas saya suka suasananya, dengan ikon Masjid dan konsep kota masa depan, tempat ini jadi tujuan wisata sebelum wisatawan pulang ke negerinya masing-masing.

Kuala Lumpur Malaysia, Benchmarking hari ketujuh.


Pesona Kuil Wat Arun

Wat Arun

Di tengah sungai Chao Phraya ada kuil Wat Arun. Kuilnya tak sebesar candi Borobudur atau Prambanan, namun ornamennya cantik dengan warna cerah. Saya tak tahu darimana sudut yang bagus mengambil fotonya. Karena waktu yang terbatas, saya ambil seadanya.

“Simpan uangnya dan belanja di Wat Arun saja,” kata tourguidenya. Awalnya saya kira Wat Arun adalah pasar yang luas dan besar, ternyata sebuah kuil yang di sudut belakangnya ada tempat jual souvenir. Soal murah dan bagusnya lumayanlah. Ada aneka pakaian, tas, hingga gantungan kunci khas Thailand. Gara-gara lama memilih dan menawar, tidak sempat foto-foto di bagian atas kuil.

Bangkok Thailand, Benchmarking hari keenam.


Mengarungi Sungai Chao Phraya

Sungai Chao Phraya

Sebagai pemuncak, destinasi terakhir di Bangkok adalah Sungai Chao Phraya dan Kuil Wat Arun. Mengarungi sungai Chao Phraya dengan kapal motor sungguh menyenangkan. Dengan hamparan pemandangan yang indah. Seumur-umur baru kali ini saya merasakan wisata sungai.

Kebanyakan sungai di tanah air hanya jadi prasarana transportasi, alih-alih jadi tempat sampah dengan bau yang menyengat. Sungai Chao Phraya beda. Pemerintah Thailand mengelolanya dengan sangat baik. Entah darimana awalnya, tiba-tiba saja saya sudah di atas perahu, bersiap mengarungi sungai. Di tengah sungai ada segerombolan ikan patin besar, konon dikeramatkan. Sekitar 15 menit menyusur sungai, tibalah di Kuil Wat Arun.

Bangkok Thailand, Benchmarking hari keenam.


Taman Indah Nongnooch Village

Taman Nongnooch Village

Tengah perjalanan dari Pattaya ke Bangkok, kami disinggahkan di Nongnooch Village. Saya tidak mengerti ini tempat wisata seperti apa. Yang jelas, kami disambut hiasan tembikar tanah liat aneka bentuk dan rupa di pintu masuk. Saya kalap mengambil foto hingga tertinggal rombongan.

Ternyata hiasan tembikar tersebut bukan menu utama. Ada pertunjukan tarian khusus di dalam teater yang akhirnya terlewatkan. Berpindah arena, ada juga pertunjukan gajah menari, main bola, dan melukis. Ramainya tempat wisata ini mengalahkan bau gajah yang menyengat. Aneka pertunjukan tersebut disempurnakan dengan santap siang di restoran muslim dan menikmati indahnya bunga di taman yang luas.

Pattaya Thailand, Benchmarking hari kelima.


Pria Cantik Alcazar Show

Pria Cantik Alcazar Show

Pembuktian bahwa lelaki Pattaya lebih cantik daripada perempuannya dibuktikan malam ini, di Alcazar Show, pertunjukan para banci. Entah mengapa tourguide merekomendasikan tempat ini jadi salah satu destinasi wajib Pattaya, padahal saya sangat alergi dengan yang namanya banci, apalagi transgender.

Kami masuk teater, kabar baiknya, boleh memotret tanpa lampu blitz. Show dimulai, seperti pertunjukan teater, lagu dan tarian membahana dibawakan oleh para pria cantik selama sejaman. Iya… memang cantik, mungkin pengaruh malam dan saya sudah mengantuk. Setelah pertunjukan, ada sesi foto bareng banci dengan tarif 40 baht per banci. Banyak juga yang foto-foto, sambil raba sana-sini. Ampundeh!!

Pattaya Thailand, Benchmarking hari keempat.


Pantai Pattaya yang Biasa

Pantai Pattaya

Sore menjelang saat bus yang kami tumpangi tiba di Pattaya. Setelah menyimpan barang di hotel, kami bergegas ke pantai, tak ingin ketinggalan momen sunset ala Pattaya. Sayangnya, matahari terhalang awan, akhirnya gagal foto sunset.

Sepintas, pantai Pattaya mirip pantai Kuta Bali, namun jika ditelisik, pantai Kuta lebih indah, lebih luas, lebih panjang. Suasananya yang sangat mirip. Dentuman musik membahana kala malam menjelang. Uniknya, di Pattaya banyak bancinya, ekstremnya: transgender. Makanya saat di Pattaya saya kebanyakan menunduk. Bukannya sok alim, tapi saya tak mau terkecoh, konon lelaki disini lebih cantik daripada perempuannya. Bencana bila tertipu kecantikan pria.

Pattaya Thailand, Benchmarking hari keempat.


Jeneponto: Panas, Kering, dan Kuda

Jeneponto Kering

Jeneponto, kabupaten di ujung selatan pulau Sulawesi ini terkenal dengan kuda dan kegersangannya. Konon musim hujan hanya sebentar dan musim kemarau hampir sepanjang tahun. Jeneponto dikenal juga dengan nama Butta Turatea, kampung orang atas. Jeneponto memiliki laut dan gunung.

Masyarakat memanfaatkan air tadah hujan atau sumur umum yang sangat terbatas jumlahnya. Tiap hari ada saja orang yang saya temui di jalan sambil memikul air, entah sudah berjalan berapa jauh. Kehidupan yang keras, orang disini lebih suka makan kuda daripada sapi.

Saya sempat merasakan KKN disini, beruntung desa kami adalah desa yang relatif subur dengan air bersih yang cukup. Lihat saja fotonya.


Weekly Photo Challenge: Dreamy

Dreamy Bangkok

Sepanjang perjalanan saya hanya termenung sambil mendengarkan musik lewat earphone, kadang diselingi dengan tidur. Tak pernah terbayangkan sebelumnya menginjak tanah Bangkok dengan cara seperti ini. Rencana Tuhan memang ada-ada saja.

Tak mau melewatkan setiap momen, saya memotret membabi buta, memotret apa saja. Gedung, jalan, awan, langit tak lepas dari jepretan kamera ponsel. Sebenarnya pemandangannya sama saja dengan di tanah air. Tapi, kapan lagi saya kesini? Potret saja sesuka hati, toh tidak ada batasan quota memotret.

Foto ini hanya satu dari sekian banyak foto selama perjalanan. Kelak hasil foto akan saya buka kembali, menguak kenangan selama perjalanan, menceritakannya kembali dalam sebuah lamunan.


Pertunjukan Teater Terbaik di Dunia

Pre Show Siam Niramit

Siam Niramit Bangkok, konon merupakan pertunjukan teater terbesar dan terbaik di dunia. Menampilkan legenda dan sejarah kerajaan Thailand.

Awalnya saya biasa saja, maklum saya cenderung cepat bosan jika menonton pertunjukan teater, apalagi yang kebanyakan dialog. Namun setelah pertunjukan berjalan, saya dibuat takjub oleh settingan panggung yang berganti-ganti hingga tari-tarian yang indah. Kadang masuk hewan asli seperti ayam, kambing, hingga gajah. Bahkan, ada hujan dan sungai di atas panggung. Puncaknya, para pemain menari di tengah penonton bersama gajahnya. Tapi sayangnya, dilarang memotret selama pertunjukan. Kamera wajib dititip di luar teater. Foto ini hanyalah pertunjukan pemanasan di luar teater.

Bangkok, Benchmarking hari ketiga.


Samsung Note 3 Rasa Batam

GalaXy Note 3 Batam

Samsung Galaxy Note 3 ini dititip beli di Batam, tempat yang konon surga bagi pasar gelap dan barang palsu. Harganya sejutaan, delapan kali lebih murah dari yang aslinya.

Sekilas nampak mirip dengan aslinya. Bedanya “hanya” pada layar yang sedikit lebih kecil, kamera beresolusi rendah, sensitifitas layar yang buruk, baterei cepat kalah, dan penangkap signal yang lemah. Sisanya bisa di test di Antutu, CPU-Z, atau *#0*#. Namanya juga ponsel KW, sebandinglah dengan harga murahnya.

Saya lebih senang sama penjual yang berterus terang jika barangnya adalah KW kesekian, daripada yang mengaku asli padahal palsu. Ada sedikit sisa dana, smartphone-smartphonan ini buat mainan Khalila.