Kalau tak mendaftar dijamin pulsa tersedot habis. Walaupun kalau mendaftar tetap mahal. Tak usah menyebut “jagoan” murah kalau begini, jagoan mahal mungkin? Untunglah saya termasuk loyal dengan satu kartu sim default. Terasa sayang dengan kartu sim lama karena sudah ditahu seisi bumi. Terasa repot memberitahu sanak keluarga dan sahabat hingga relasi bisnis jika harus ganti kartu, sabar sajalah.
Selamat Jalan, Teman
8 JunTerima kasih telah menjadi teman yang baik, dalam susah terutama senang. Hadirmu sungguh luar biasa, menjadikan setiap momen abadi, setiap sudut ruang indah.
Maafkan jika aku tak menjagamu selama ini, bahkan menjadikanmu pelampiasan amarahku. Semoga tuan barumu bisa lebih menyayangimu. Selamat jalan, teman.
Bukan Sekedar Main Bulutangkis
7 JunHari Sabtu lalu, 1 Juni 2013 menjadi momen pertama saya nonton pertandingan bulutangkis langsung dalam stadion —GOR Sudiang,Makassar. Saya diajak Sar yang memang gandrung nonton bulutangkis di TV. Ini adalah pengalaman pertamanya juga nonton langsung, bukan di TV. Acara bertajuk Djarum Badminton All-Star ini memang bukan acara bulutangkis biasa, ada bintang-bintang bulutangkis legenda Indonesia semisal ganda putra legenda Indonesia Ricky Soebagja dan Rexy Maenaky, Sigit Budiarto dan Chandra Wijaya, Hariyanto Arbi, hingga Christian Hadinata. Saya sendiri baru pertama kali menginjak GOR Sudiang, jadinya hari itu lumayan spesial lah.
Satu dekade terakhir ini kadar suka saya terhadap bulutangkis memang mulai luntur. Ini karena prestasi Indonesia terus turun. Beda dengan saat masih SD hingga SMP saat Susi Susanti, termasuk Ricky-Rexy selalu juara, memenangkan berbagai kejuaraan dunia bulutangkis tak terkecuali emas olimpiade. Dulu pun saya pernah ikut pertandingan bulutangkis dalam rangka 17 Agustusan, walaupun level antar RT dan tidak juara, itu sudah membuktikan kalau sebenarnya saya suka bulutangkis.
Hadirnya bintang bulutangkis masa lalu ini seakan mengulang memori bagaimana kekaguman saya terhadap pemain bulutangkis masa lalu. Saya ingin menonton mereka secara langsung, kalau sempat berfoto bareng. Jadilah kami ke GOR Sudiang berkat iklan yang ada di koran. Acara hari itu adalah acara pamungkas setelah hari sebelumnya ada coaching clinic kepada pelatih bulutangkis di kota Makassar.
Kami masuk GOR sekitar jam setengah 5 sore. Ada beberapa ratus orang saja yang hadir, GOR tidak sampai penuh sesak, walaupun gratis. Pertandingan eksibisi yang sangat langka pun tersaji. Ada juara dunia ganda putra Sigit-Chandra melawan seniornya Ricky-Rexy. Permainan mereka sangat santai, terkesan hanya untuk memberi hiburan para penonton. Dan saya betul-betul terhibur. Teknik tinggi diperlihatkan kedua pasangan, dari smash tajam menyilang hingga backhand belakang dan tangkis bola lewat kedua paha (atau apakah nama gaya ini?). Terakhir, ada smash lewat bawah net. Sungguh menghibur.
Partai terakhir ada three on three badminton antara 3 keluarga Arbi (termasuk salah satunya juara dunia tunggal putra Harianto Arbi bersama 2 keluarganya, pebulutangkis senior saya lupa namanya) dan keluarga Maenaky (Rexy, Marleve dan satu lagi saya lupa namanya). Seumur-umur baru pertama kali saya lihat permainan bulutangkis tiga lawan tiga.
Kesimpulannya, saya puas menonton acara ini. Sepertinya saya akan jadi kembali suka nonton bulutangkis. Semoga penerus All-Star Legend bulutangkis Indonesia kembali hadir.
Urus Sana Urus Sini
31 MaySuatu hari saya izin terlambat masuk kantor. Mumpung tak banyak kerjaan yang deadline, kesempatan pada pagi hari itu saya pakai buat mengurus segala keperluan yang harus terselesaikan pada jam kantor. Saya menemani Sar mengurus Kartu Kuning, SKCK, dan membayar PBB.
Kartu Kuning
Ini bukan kartu kuning sepakbola, tapu kartu tanda pencari kerja. Karena warna kartunya kuning, jadilah masyarakat mengenal dan menyebutnya kartu kuning. Walaupun sekarang kartunya sudah berwarna putih, tetap dinamakan kartu kuning. Apalah arti sebuah nama, yang penting kita sepakat, semua orang tahu dan nyaman memakai namanya.
Dinas tenaga kerja adalah kantor yang berwenang menerbitkan Kartu Kuning. Di bilangan Jl. AP. Pettarani Makassar, di depan kantor BKKBN sebuah ruko berdiri, disitulah Disnaker Makassar berkantor untuk sementara waktu karena gedung kantor mereka yang asli —disebelah ruko— sedang direnovasi total.
Jam 8 lebih 10 menit kami tiba disana. Setelah memarkir motor, kami masuk ke ruko tersebut. Didalam belum ada aktifitas berarti. Satu-dua orang pegawai baru masuk mengisi kantor. Ada seorang bapak yang melayani kami, menuliskan bangko perpanjangan kartu. Tak sampai 10 menit, urusan kami selesai, tanpa biaya sepeserpun, tidak direpotkan. Saya tidak peduli dengan seberapa banyaknya kursi yang kosong karena pemiliknya belum hadir. Yang jelas urusan bisa selesai. Ada juga kantor yang penuh orang, hampir seluruh pegawainya yang hadir, tapi tak mampu menyelesaikan urusan apalagi masalah warga. Sungguh tidak efektif hal yang demikian. Intinya, kami puas dengan pelayanan Disnaker Makassar.
Perjalanan pagi itu kami lanjutkan. Rencananya kami ke kantor pos dekat Disnaker untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Sebagaimana yang tertulis di blangko pembayaran PBB, kami bisa membayar PBB di kantor pos dan beberapa Bank. Tapi sampai di kantor pos, ternyata kantor pos belum mampu melayani pembayaran PBB. Salah seorang karyawan mengarahkan kami ke kantor Dinas Pendapatan Daerah di Jl. Urip Sumoharjo. Untunglah saya tahu lokasi di Makassar, tak butuh waktu lama untuk mencari sampailah kami di kantor Dispenda, di depannya ada Bank BPD Sulsel dan tanda disitu bisa membayar PBB. Saat masuk bank, ternyata antrian cukup panjang. Kami mendapatkan nomor antrian 58 padahal baru nomor antrian 6 yang terlayani. Kami putuskan langsung ke Polwiltabes Makassar untuk urus SKCK sambil menunggu antrian di BPD SulSel.
Surat Keterangan Catatan Kepolisian
Sampai di Polwiltabes Makassar di Jl. Ahmad Yani, kami langsung keloket SKCK di lantai 3. Jam menunjukkan pukul 8.50, loket belum buka. Kami tunggu beberapa saat. Tepat pukul 9 loket pun dibuka. Belum banyak antrian di loket ini, jadilah kami bisa mengurus SKCK dengan cepat. Dengan biaya Rp 25 ribu, SKCK perpanjangan sudah ada di tangan. Kami puas dengan pelayanan loket SKCK Polwiltabes Makassar.
Bayar PBB
Motor kembali melaju ke arah BPD Sulsel Urip. Saat sampai, ternyata nomor antrian kami sudah lewat 15 nomor, sudah nomor 73. Dan semakin banyak antrian. Aturan dari satpam, kami harus mengambil nomor antrian yang berlaku, alias nomor lama sudah hangus. Opsi lainnya, kami diarahkan ke BPD Perintis depan Dikbud —8 km dari situ— dengan ketidakpastian bisa dibayar disana atau tidak. Tapi untuk ada teman Sar yang melihat kami, ikut mengantri nomor 99. Beruntung pembayaran PBB bisa diwakilkan dan dititip pembayarannya. Kami titip saja sambil menunggu. Tampak seorang CS membalas BBM saat melayani pelanggan, memang BBMan saat menunggu loading jaringan yang super lelet, tapi tetap saja mengganggu batin saya. Yah mbok BBMannya nanti saja saat istirahat, bukan saat lagi padat-padatnya antrian. 20 menit kemudian, akhirnya pembayaran PBB tahun ini dan tunggakan tahun sebelumnya kelar. Sungguh repot di kantor terakhir ini.
Jelang siang saya mengarah ke kantor, urusan hari itu selesai. Saatnya mengurus rakyat, melakukan pengasapan DBD di daerah Panser (Padang Sessera), Mandai. Bau asap lagi.
(Seolah-olah) Investigasi Kasus Penyakit
31 MayMinggu lalu, ada kasus kematian misterius sepasang suami-istri, sempat dirawat di RS. Menurut kabar, salah seorang korban dari Arab Saudi beberapa bulan yang lalu. Kabar lainnya, korban mengalami gejala DBD. Dokter RS sendiri belum mendiagnosa pasti penyebab kematian pasiennya, hanya tertulis Suspek Typhoid di catatan rekam medisnya. Beberapa opsi tersebut membuat kami harus mengadakan pelacakan kasus di lapangan. Sebelum penyakit mewabah, jangan sampai ada warga yang menderita gejala penyakit yang sama. Masalahnya kemudian, tempat tinggal korban bukan di daerah kabupaten kami (kabupaten Maros), tapi di wilayah Bone. Pasien hanya numpang berobat ke RS Maros karena aksesnya lebih dekat dibanding ke kota Bone. Jadilah kami hanya berencana investigasi kasus di perbatasan wilayah saja, tidak sampai mengintervensi wilayah tetangga.
Desa di Balik Gunung
Selasa, 28 Mei 2013 kami (saya, boss eselon IV, Smile, dan Kapus) turun lapangan (atau lebih tepatnya naik gunung). Awalnya kami berencana naik motor saja ke lokasi desa perbatasan. Tapi akhirnya kami numpang mobil Kapus. Molor 2 jam dari rencana, akhirnya kami berangkat pakul 10 pagi. Tiba di Puskesmas Camba sekitar pukul 11 menjelang siang, Sebelum berangkat ke lokasi, kami sarapan khas daerah Camba ; Mi Instant, buras, dan telur asin. Sungguh kombinasi makanan yang selalu saya rindukan.
Kami berangkat dari Puskesmas ke lokasi sebelum jam 1 siang. Banyak sudah wejangan yang kami dapatkan dari warga lokal yang kebetulan bekerja di Puskesmas Camba. Hati-hati, apalagi kalau sampai hujan. Bisa-bisa pulang balik dengan tangan hampa. Kalau hujan, jalan becek dan tak dapat dilalui, katanya.
Saya juga teringat 7 tahun lalu saat menerima pengumuman lulus CPNS. Saya bukan warga Maros dan tak banyak tahu kondisi Maros. Banyak yang kasihan pada saya dan menyuruh bersabar. Saat itu, saya ditempatkan di Kecamatan Tompobulu, kecamatan antah berantah yang sepertinya tak ada pegawai yang mau di mutasi kesana. Ada yang sempat mengatakan kalau Tompobulu sangat jauh, butuh tiga musim kesana. Akses ke Tompobulu adalah dengan naik mobil ke Camba, kemudian dilanjutkan dengan naik kuda. Sungguh lelucon yang tidak lucu karena kenyataannya Tompobulu bisa diakses lewat beberapa jalan. Banyak jalan menuju Tompobulu.
Tapi, memori 7 tahun lalu tersebut kembali hadir saat saya berkesempatan menjejak perbatasan Maros-Bone di daerah gunung. Sekaranglah saatnya membuktikan kebenaran akses ke Tompobulu bisa dilalui dengan naik kuda dari Camba. Walaupun dengan membayangkannya saja.
Jarak dari Puskesmas Camba ke Desa Benteng sekitar 15 kilometer. Kami tempuh selama 1 jam dengan naik mobil Puskel Suzuki APV. Jalannya rusak parah, dari batu-batu gunung keras dan sebagian masih dari tanah. Beruntung Kapus Camba lincah bawa mobilnya, salut buat beliau yang tanpa gentar menembus medan berat. Saya sendiri hanya bisa komat-kamit di belakang kursi kemudi, berharap mobil tidak lari mundur atau tergelincir ke jurang. Saya mbatin, ada juga orang yang mau tinggal di daerah terpencil seperti ini walaupun akses pelayanan kesehatannya sangat sulit. Mungkin kecintaan terhadap desa dan tanah kelahiranlah yang membuat warga betah tinggal disini. Dan betul, katanya dibalik beberapa gunung yang mengelilingi desa, disana ada Kecamatan Tompobulu dan dapat diakses dengan jalan kaki atau kuda, ada juga Desa Mattirowalie Kabupaten Bone. Konon sudah ada perencanaan pembangunan jalan yang menghubungkan Maros-Sinjai-Bone di jalan Desa ini. Semoga saja.
Kami bertemu dengan Pak Kepala Desa yang menyambut kami dengan sangat hangat. Tidak ada signal ponsel GSM disini, kecuali beberapa tempat seperti di belakang rumah Kades. Setelah wawancara sedikit dengan kepala desa soal ada tidaknya warganya yang menderita gejala penyakit yang sama dengan korban yang meninggal, kami kembali pulang. Desa Benteng kami nilai masih aman.
Perjalanan pulang saya sempatkan foto-foto. Namun banyak momen pemandangan indah yang terlewatkan karena Tab P1000 yang saya pakai sering ngadat tepat saat mau mengambil gambar. Sekitar 30 kali tablet tersebut hang, dan harus di restart. Kapus masih menawarkan kami jalan-jalan ke Tanah Tengnga, sebuah tempat wisata favorit di Camba. Kita bisa melihat gunung menghampar luas dari lokasi ini katanya. Tapi waktu sudah menjelang malam. Kami langsung ke Puskesmas. Kami tiba di puskesmas sekitar jam 5 sore, dan menjelang jam 6 kami kembali ke kota Maros. Itulah investigasi kasus penyakit beberapa hari lalu. Doa saya semoga tidak ada kasus tambahan, semoga damai selalu di Desa Benteng, dan jalannya cepat diperbaiki.
In the Background
31 MayWeekly Photo Challenge : In the Background
One’s mind has a way of making itself up in the background, and it suddenly becomes clear what one means to do
- A. C. Benson
Bukan (Sekedar) Arisan
30 MayJanjian, ketemuan, dan deal. Setelah berbasa-basi sejenak, dan yang “naik” kali ini sudah ditetapkan, mari pulang ke rumah masing-masing. Apakah komunitas kita hanya sekedar arisan? Tulisan ini diikutkan dalam 8 minggu ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.
Menurut Maslow, ada 5 tingkatan kebutuhan manusia. Kebutuhan makan, rasa aman, dicintai, dihargai, dan yang terakhir adalah kebutuhan akan beraktualisasi diri, diakui orang lain, bersosialisasi, narsis. Kebutuhan akan aktualisasi diri ini seringkali tidak kita sadari berusaha kita penuhi dengan cara bersosialisasi. Kadang malah kebutuhan ini bagi sebagian orang harus lebih dulu terpenuhi dibanding kebutuhan lain, kebutuhan fisiologis seperti makan misalnya. Kadang saya pun demikian, berlama-lama di depan komputer dengan akses internet, ber socmed, melupakan kepentingan perut dan kroni-kroninya, makan.
Manusia disebut juga makhluk sosial. Sejak kecil manusia pasti butuh teman, saya juga demikian karena saya manusia. Otomatis, teman sepermainan saat kecil adalah komunitas pertama kita, dan selanjutnya adalah komunitas sekolah.
Saat kanak-kanak dulu, saya punya teman sepermainan. Teman satu lorong akhirnya membentuk sebuah komunitas geng pertemanan selorong, kami namakan JHOVEAQ. Entah dari mana nama ini lahir, namun yang masih membekas di ingatan adalah ide timbul begitu saja saat melihat merk celana dalam “Jovac”. Awalnya geng kami mengambil nama Jovac dengan sedikit modifikasi. Nama Jovec terpilih dan akhirnya diubah menjadi Jhoveaq biar lebih keren. Sungguh senang dan bangganya saya punya geng kecil, seakan diakui “ada” diantara sekian banyak anak kompleks. Tentu saja senang karena merasa aman, terlindungi, dan kesenangan tersalurkan. Saat sore hari sepulang sekolah, kami saling memanggil untuk pergi bermain atau sekedar ngobrol. Belum lagi teraktualisasinya kami secara pribadi dalam geng tersebut. Saat ada yang tanya “di mana rumahnya si Anu? yang anak Jhoveaq itu…”, betapa bahagianya.
Sebagai komunitas anak-anak, Jhoveaq eksis dengan peran “aktif” anggotanya. Terdiri dari tidak lebih dari 10 orang –saya yang paling tua, aktifitas kami termasuk beragam. Mulai main bola sampai mandi-mandi di bekas galian tanah. Banyak suka-duka kami jalani bersama, mulai berkelahi sesama “anggota”, sampai dimusuhi tetangga. Tak ada “tanda jadi” pendaftaran, tanpa kartu anggota, cukup rumah kami sebagai pembatas, anak se lorong otomatis jadi anggota Jhoveaq. Akhh.. saya jadi teringat Muchlis, Iyan, Eko, Aso, Natsir, Kurnia, dan (alm.) Aco. Sejak SD hingga SMA komunitas ini hadir mewarnai masa kecil kami hingga beranjak remaja. Dan akhirnya dunia perkuliahan memisahkan kami.
Di sekolah pun kehidupan sosial, berkelompok terjalin. Walaupun saya tidak pernah masuk di “geng” manapun, saya senang karena bisa memasuki semua kalangan walaupun tidak se”ideologis”. Saya bisa bergaul dengan anak gunung-gunung, musik-musik, hingga motor-motor, bergaulnya sebatas ngobrol dan tidak saling mengganggu.
Saat ini saya telah berkeluarga, diberikan istri yang cantik, Sar. Tapi entah mengapa, tambah tua saya sepertinya tambah malas bergaul, bersosialisasi, berkomunitas. Keluarga dan akses internet sepertinya sudah cukup memuaskan dahaga narsis dan eksis. Kalau dipanggil teman ngumpul, sepertinya malas keluar rumah. Saya mulai malas cerita basa-basi, menghabiskan waktu saja. Mengetahui kabar teman, cukuplah lewat Facebook atau ngintip BBM Sar. Kecuali ada bisnis baru yang real dan menjanjikan, dengan senang hati saya ikut ngumpul, ketemuan. Sekarang aktivitas sosial pasti ada, tapi tidak dengan berkomunitas. Paling ikut arisan bulanan di kantor, itupun tidak mengunjungi rumah anggota arisan secara bergilir, cukup arisan dikocok di kantor saja. Sesimpel itu. Eh, apakah arisan bisa dikatakan sebagai sebuah komunitas? Pun kalau dapat dikatakan komunitas, kelompok arisan adalah komunitas yang paling sederhana. Walaupun tak banyak berguna bagi kalangan luar anggotanya, paling tidak, arisan berguna sebagai alat bersosialisasi dan menabung. Tak mengapa, asal tidak meresahkan masyarakat, seperti geng motor.
Nah sekarang kebutuhan berkelompok, berkomunitas dalam diri saya kadang membuncah. Sesuai hobi dan kesenangan saya, ingin rasanya masuk jadi “anggota” komunitas blogger, fotografi, desainer, sepeda, dan traveller yang ada di Makassar. Bukan sekedar terakui sebagai “anggota”, namun ikut aktif berbagai kegiatannya. Bukan sekedar komunitas “janjian, ketemuan, deal” selayaknya arisan. Ada yang mau jadi teman saya?
Mengetik Dalam Mobil, Susah!!!
28 MayJam menunjukkan pukul 6.41 menjelang malam. Di daerah Kappang, kami masih di perjalanan pulang dari Camba ke Maros. Diiringi hujan dan jalan berkelok, mobil Chevrolet Captiva yang kami tumpangi berkecepatan 60an kilometer per jam………………..
Akh…begitu saja tulisan saya tadi, saya lanjutkan di rumah. Rencananya, kisah perjalanan hari ini saya tulis langsung dalam perjalanan, dalam mobil, mumpung saya hanya jadi penumpang, duduk di belakang. Daripada duduk bengong, tak bisa menikmati pemandangan di luar karena sudah gelap, mending menulis. Rencana tinggal rencana, saya tidak dapat menulis di ponsel karena mulai mual, pusing, mau muntah. Ternyata saya tak mampu menguasai diri untuk tetap normal, tidak mual. Kelokan jalan tak mampu saya taklukkan sambil mengetik. Agar tidak mual, saya mesti memperhatikan jalan di depan, bukannya tombol ponsel. Selain mual, saya tak mampu berkonsentrasi, menghasilkan alur cerita yang (menurut saya) baik. Jadilah cerita ke Camba hari ini tertunda untuk ditulis apalagi terpublikasikan di blog. Waktunya istirahat, memulihkan tenaga.
Selamat malam…
Anjing (Pura-pura) Gila
27 MayCerita bermula hari Jumat kemarin. Pagi menjelang siang saya baru tiba di kantor. Belum juga duduk tenang mengumpulkan nafas, Smile memberitahu kalau ada kasus gigitan anjing dia terima. “Laporan” awal Smile dapat dari Ride, mata-mata sekaligus corong kantor. Konon Ride menerima laporan langsung via telepon dari keluarga korban.
Sebagai corong dan mata-mata, reputasi Ride tak perlu dipertanyakan lagi. Jangankan kasus penyakit, jumlah janda di suatu desa pun mungkin Ride ketahui. Ride mengurus segala sesuatu, dari nasi rantang hingga jual beli kambing. Soal informasi jangan ditanya, selebritis kota pasti mengenalnya. Ride yang saya kenal adalah orang tersupel di muka bumi. Baik hatinya mengalahkan putri salju. Mungkin itulah sebabnya keluarga korban gigitan anjing terlebih dahulu menghubungi Ride pagi itu untuk meminta wangsit, kemana korban dibawa, ditangani. Dan konon Ride memberi petunjuk agar pasien dibawa ke Puskesmas dulu. Ada stok Vaksin Anti Rabies di kantor dan orang Puskesmas tinggal ambil jika betul pasiennya datang berobat.
Saya bergeming mendengar kabar dari Smile yang masih berlevel kabar burung itu. Saya hanya meneruskan kabar tersebut ke pimpinan, tak ada respon berarti selain respon klise, “tangani”. Sebagai petugas kabupaten, sebenarnya saya hanya menunggu kabar resmi dari Puskesmas. Tapi petugas Puskesmas tak saya tilpun, saya tak registrasi tilpun murah hari itu
. Pasif. Saya memang lagi egois, melihat kenyataan bahwa hasil kerja kadang tak diapresiasi. Walaupun itu sebatas “terima kasih”. Ahh, pledoi!! Maafkan saya!!
Siang harinya setelah Jumatan, saya baru ketemu Ride yang mengkonfirmasi kebenaran kabar burung tersebut. Korban sudah diarahkan ke Puskesmas, dan kepala anjing sudah dibawa ke Balai Besar Veteriner untuk diperiksa positif Rabies atau tidak. Akhirnya, Saya tunggu sampai sore hari, namun tak ada kabar dari Puskesmas akan kehadiran pasien GHPR (gigitan hewan penular rabies), tak ada juga yang datang minta VAR. Bosan menunggu, saya pulang. Batin saya, mungkin korban tak ke Puskesmas, langsung ke RS atau malah tak tertangani. Ada sesuatu yang ganjil dan tidak berjalan semestinya, dan dosa saya adalah karena membiarkannya.
Keesokan harinya, Sabtu, Bapak dan Ibu datang ke rumah, menengok bunga yang ditanamnya beberapa minggu lalu. Beliaus khawatir bunganya habis dikangkangi ayam peliharaan tetangga depan rumah. Bapak membawa koran, dan salah satu beritanya berisi kasus GHPR kemarinnya. Saya foto untuk verifikasi rumor nantinya. Ternyata dua orang korban GHPR langsung ke RS, entah mengapa tak mengindahkan titah Ride agar ke Puskesmas terlebih dahulu. Beruntung, tak ada kabar yang mencitrakan buruk pelayanan kesehatan terhadap pasien. Yang jelas pasien (merasa) tertangani (dengan baik), tatalaksana GHPR tepat atau tidak, itu urusan kesekian.
Sore, masih di hari Sabtu, saya dan Sar nemani Bunda Ulan pasang kawat gigi. Sambil nunggu, saya baca koran, dan berita yang sama tentang kasus GHPR terberitakan. Berita sama, koran berbeda. Saya mbatin, mungkin Jumat kemarinnya RS dipenuhi wartawan pemburu berita. Walaupun tak jadi headline, cukuplah berita koran menjadi isyarat kalau kasus ini cukup menghebohkan seantero kota. Herannya, tak ada kabar resmi melintas ke ponsel saya, dari atasan ataupun perpanjangan mata-telinga saya di Puskesmas dan RS. Barulah malamnya “Bos Tingkat 3″ menelpon menanyakan ikhwal berita di koran. “Mengapa tak dituntaskan saat saya lapori ke anda?”, batin saya. Tak banyak tempo, saya bilang kalau Senin nantilah saya selidiki lagi, lagi libur boss.
Minggu siang menjelang sore, kami ditraktir pacarnya Mamas nonton Need for Speed Fast n Furious 6. Filmnya keren. Kalau sempat, nantilah saya ceritakan. Pulang nonton, ada SMs entah dari siapa menanyakan kasus GHPR. Bukan wartawan, tapi sepertinya dari penanggung jawab program pencegahan dan penanggulangan (P2) Rabies tingkat Propinsi. SMS menanyakan apakah ada pasien GHPR yang masih dirawat di RS saat itu. Saya balas seadanya dan berjanji akan “turun lapangan” besoknya. Kalau ada yang masih dirawat, berarti lukanya parah, batin saya.
Senin, pagi tadi setelah ngantar Sar “mengelus” buah hati kami, saya langsung ke RS, kroscek, Penyelidikan Epidemiologi. Saya bertemu “mata-telinga” RS terlebih dahulu. Ternyata si petugas tidak tahu kasus GHPR ini, tak ada laporan mampir padanya. Apakah RS salah memilih “mata-telinga” ataukah kasusnya tidak seheboh di koran? entahlah. Kami langsung ke perawatan saraf. Nihil, tak ada pasien GHPR, hanya laporan simpang siur dari UGD. Kami kroscek ke UGD, benar ada dua pasien GHPR pada hari Jumat. Satu pasien (laki-laki, 43 tahun) sudah pulang, yang satunya (perempuan, 54 tahun) dirawat di perawatan dewasa. Setelah mencatat status dan riwayat sakit pasien, kami bergegas ke ruang perawatan, berniat mewawancarai langsung pasien. Beruntung, pasien tidak tidur, bisa diwawancarai walaupun dengan bahasa Indonesia yang terbatas. Untungnya, ada beberapa keluarga pasien yang bisa memandu dengan baik.
Si Ibu (pasien pertama) langsung bangun, duduk saat kami masuk ruangan. Tampak dahi beliau terperban, hampir menutupi kedua matanya, di bawah mata kiri tampak lebam merah. Katanya, lebam baru saja muncul, bukan karena digigit atau dicakar anjing. Entah karena apa. Beliau dengan lemah menceritakan perkelahiannya dengan anjing. Awalnya, Jumat pagi sekitar jam setengah tujuh, si Ibu di bawah kolong rumahnya tiba-tiba diserang anjing liar, melompat menerkam kepalanya. Konon, anjing gila yang terinfeksi Rabies memang rabun, menyerang apa saja yang bergerak, melompat menyerang bagian atas (kepala). Si Ibu sekuat tenaga melawan, hingga lengan kanannya ikut tergigit, jempolnya tercakar. Setelah menggigit si Ibu, anjing tersebut lari, menyerang tetangga si Ibu (yang juga adalah keponakannya), seorang Laki-laki yang sedang memperbaiki lemari, juga di bawah kolong rumahnya. Beruntung si korban kedua memakai topi, hanya menghasilkan luka 3 centi akibat terkaman anjing di pelipis kanannya. Mereka lalu ke klinik perusahaan dekat rumah, dan dirujuk langsung ke RS, bukan Puskesmas.
Pasien pertama (si Ibu) ditangani dengan Jamkesmas, sementara pasien kedua adalah pasien umum. Karena pasien umum, pasien kedua langsung pulang setelah mendapat perawatan dan membayar beberapa ratus ribu. Pelipis dijahit dan diperban. Sementara pasien pertama karena gratis, diharuskan melengkapi berkas berupa KTP yang ternyata belum diurusnya, jadilah si Ibu mesti tinggal di RS hingga KTPnya ada. Jika lewat dua hari, maka si Ibu dikenakan biaya seperti pasien umum. Kedua pasien akhirnya harus membeli masing-masing 2 vial VAR untuk suntikan pertama. Harga 1 vial VAR 145 ribu katanya. Seandainya ke Puskesmas, VAR diberikan secara gratis. Untuk suntikan VAR selanjutnya, saya telah sarankan kedua pasien ke Puskesmas saja.
Ada yang mengganjal di pikiran saya. Konon luka bekas gigitan atau cakaran hewan penular rabies tidak boleh dijahit dan diperban karena akan mempercepat proses masuknya virus ke ujung saraf. Kecuali hal tertentu yang lebih membahayakan, seperti untuk menghentikan pendarahan, bisa dijahit dan diperban. Tapi luka 2 pasien GHPR ini dijahit dan diperban. Apakah dokter yang menangani tahu tatalaksana perawatan luka GHPR? saya tak mau berdebat dan akhirnya berasumsi kalau luka memang harus dijahit untuk menghentikan pendarahan. Saya pun tidak ketemu dokter yang menangani pasien, sepertinya sedang tidak jaga, dan pengalaman sebelumnya, bakal ribet kalau berdebat dengan dokter.
Setelah sedikit wawancara tersebut, saya ke kantor dan melaporkan kejadian ini (terjahit dan terperbannya luka GHPR) kepada atasan tingkat 3. Beliau hanya “melenguh”, mengatakan tidak boleh demikian. Begitu saja sambil menginstruksikan observasi pasien oleh Puskesmas. Seorang “senior” pun mengatakan kalau luka tak boleh tertutup. Kalau tertutup, akan mempercepat virus ke ujung saraf pusat yang serta merta mempercepat kematian pasien. Saya tegaskan “mempercepat kematian pasien” karena jika memang betul kasus GHPR ini adalah positif Rabies, dipastikan cepat atau lambat Rabies akan membunuh pasien. Sekedar info, masa inkubasi Rabies adalah 7 hari sampai 2 tahun (sangat bervariasi tergantung tingkat keparahan luka, lokasi luka, dan daya tahan tubuh penderita). Perlu diingat kalau Angka Kefatalan Kasus (CFR – Case Fatality Rate) Rabies adalah 100%, dalam artian dari 10 pasien positif Rabies, semuanya akan mati karena Rabies, cepat atau lambat. VAR hanya membantu melambatnya virus ke sistem saraf pusat (*maaf kalau keliru menjelaskan).
Adapun pasien yang positif Rabies mestinya diberi Imunoglobulin berupa Serum Anti Rabies (SAR) yang disuntikkan ke luka dan sekitar luka. Walaupun tak banyak menolong pasien dari kematian, SAR juga dapat memperpanjang harapan hidup pasien. Masalahnya kemudian, SAR sangat sulit didapatkan dan harganya sangat mahal. Jika VAR disuntik 4 kali menghabiskan sekitar 600 ribu, SAR yang efektif untuk dosis anak-anak biayanya berkisar 6 juta dan untuk dosis dewasa bisa sampai 20 juta.
Bukannya mendahului takdir Tuhan, saya hanya berdoa mudah-mudahan ada keajaiban, semoga kedua pasien diberi kesembuhan dan umur panjang, atau anjing yang menggigit hanya pura-pura gila.
Silakan Coba, Gratis!
25 MayHarga termurah 30 ribu, es krim ukuran mini. Tadi yang tersisa yang harga 60-an ribu. Sangat mahal dengan versi kantong saya. Makanya (mungkin) diberi opsi bayar pakai kartu kredit, jadi orang tidak kecele kalau ternyata uang di dompet kurang.
Sebelum beranjak dari dudukan di depan gerai, sempat saya foto. Eh, ada tulisan di sudut kaca. Silakan (atau silahkan? ejaan mana yang benar?) coba disini (atau di sini? ejaan mana yang benar?) GRATIS. Ah yang bener? Untungnya saya masih punya rasa malu. Kalau tidak, sudah saya minta gratisan pada penjualnya. Mungkin ini hanya jebakan, penjual pikir semua orang ada malunya dan tidak berniat mencoba kalau tidak membeli. Coba saja mencicip sesendok es krim, dijamin dikutuk tujuh turunan kalau akhirnya tak jadi beli.
Kadang juga saya temukan tulisan di toko : Mencoba berarti membeli. Sangar nian, tapi penjual masih berbaik hati dengan memberi peringatan. Kadang saya temukan konsumen, pernah di gerai buah supermarket, mencoba beberapa buah, tanpa membeli. Mencicipi beberapa buah bukan “mencoba”, tapi doyan. Ahh sudahlah… Tidak ada yang gratis di dunia ini kecuali bernafas, mungkin.
600 Postingan, Ahh Sudahlah…
22 May16 November 2010, postingan pertama di blog ini lahir (tentu saja setelah Hello World yang saya hapus). Menginjak usia dua setengah tahun, blog ini baru berisi 600 postingan. Sudahi saja atau dilanjutkan? Tulisan ini diikutkan dalam 8 minggu ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketujuh.
Secara kuantitas, 600 postingan dalam tiga tahun termasuk masih sedikit dibanding blog kebanyakan. Jika dirata-ratakan, dalam 2 hari ada 1 postingan yang terbit. Secara kualitas? Jangan ditanya, tidak ada postingan berkualitas di blog ini, tak ada yang penting. Isinya hanyalah curhatan tak jelas, copasan, atau foto narsis.
Awalnya, blog ini lahir karena mencoba kemudahan ngeblog yang ditawarkan ponsel Blackberry. Sebelumnya saya sudah punya blog di blogspot yang juga terkelola secara awut-awutan. Saya cuma merasa sayang jika ponsel BB yang dibeli mahal dan akses internet yang tidak murah hanya digunakan untuk bernarsis ria dengan BBM, Facebook, dan Twitter. Jadilah pada awalnya blog ini berisi tulisan singkat dan cerita foto yang diposting lewat BB. Masalahnya kemudian, saya jadi semakin senang ngeblog lewat ponsel dan malas mengakses media sosial. Saya posting apa saja dikala mau dan sempat. Lama kelamaan trafik kunjungan ke blog ini meningkat, disertai perolehan pagerank. Itulah yang semakin membuat semangat ngeblog disini, hingga jadilah seperti sekarang ini.
Jika ngeblog dianggap sebagai beban, sudah banyak kerugian saya ngeblog. Rugi waktu yang paling terasa, selain rugi-rugi lain semisal rugi tenaga (mengetik) dan rugi pikiran (menulis. Ya, salin-tempel saja harus berpikir, apalagi menulis). Namun ngeblog saya anggap sebagai hobi, kesenangan. Seperti kesenangan manusia “normal” lain semisal karaokean, main futsal, ngeband, filateli, berkebun, shopping, travelling, dan hobi “normal” lainnya. Seperti tulisan sebelumnya, ngeblog seperti bermeditasi melepaskan beban pikiran yang menumpuk di kepala. Bahkan seperti Paman Tyo, ngeblog berfungsi menjaga kewarasan, juga kegilaan.
Lalu apa kira-kira yang terjadi jika saya tidak ngeblog, tidak pernah mengenal yang namanya blog? Entahlah, saya sulit berandai-andai. Mungkin tiap hari saya menghabiskan waktu ngobrol tak jelas di warkop, atau jadi atlet futsal, atau jadi drummer, atau keluyuran tak jelas, atau jadi anggota geng motor. Mungkin dunia saya akan teralihkan kesana, kesemuanya adalah kesenangan saya selain ngeblog.
Apa lagi yang terjadi jika saya tidak ngeblog? Mungkin juga semua kerjaan offline saya akan selesai tepat pada waktunya. Kadang (kalau tidak ingin dikatakan sering) kerjaan offline terlantar gara-gara ngeblog. Sampai di kantor bengong sendiri, kecapean karena telah menempuh perjalanan jauh, mengatur nafas sebelum mulai bekerja. Ide postingan kadang muncul disaat kepepet begini. Jadilah kerjaan kantor saya tunda dulu untuk kemudian menulis ide tersebut. Takutnya kalau tidak segera ditulis, ide langsung menguap, hilang tanpa jejak. Masalahnya, menulis itu tidak mudah dan butuh waktu dan energi untuk mengurai ide ke dalam sebuah tulisan. Standar waktu saya untuk membuat sebuah “tulisan” adalah satu jam, itupun tak ada yang istimewa dari tulisan tersebut. Setelah ide tertuang dalam sebuah tulisan, butuh waktu lagi untuk memulihkan energi. Bisa dibayangkan bagaimana kerjaan kantor tadi yang tertunda, batal terselesaikan dan semakin menumpuk.
Tapi saya bersyukur kenal yang namanya blog. Dunia social media saya teralihkan ke dunia blogging. Kadang saya kasihan sama teman-teman yang bisanya cuma bengong di kantor bila lagi sepi orderan, kadang sambil mengutak-atik handphone, bergosip sampai capek, atau membunuh waktu dengan main game atau buka-buka Facebook di komputer. Sungguh sayang jika waktu yang melimpah tidak digunakan untuk menulis, mengukir sejarah. Penampakan saya berbeda, seakan sibuk seharian di depan komputer. Mungkin mereka menyangka kerjaan saya super banyak (padahal tidak, kadang saya selingi dengan menulis blog). Mungkin mereka sebenarnya yang kasihan pada saya.
Saat asyik ngeblog, kadang saya merasa terasing sendiri dengan dunia “nyata”. Merasa tergila-gila dengan blog padahal ada “kerjaan nyata” di depan mata. Seperti saat membuat tulisan ini, teman yang lain sibuk, saya asyik dengan dunia saya sendiri, ngeblog. Kerjaan offline telah menanti. Sekarang sudah 600 postingan, kapankah berakhir kegilaan ini? Sudahi atau dilanjutkan? Ahh Sudahlah….
Escape
21 MayWeekly Phooto Challenge : Escape
You cannot escape the responsibility of tomorrow by evading it today.
- Abraham Lincoln
The object of life is not to be on the side of the majority, but to escape finding oneself in the ranks of the insane.
- Marcus Aurelius
Maybe you don’t like your job, maybe you didn’t get enough sleep, well nobody likes their job, nobody got enough sleep. Maybe you just had the worst day of your life, but you know, there’s no escape, there’s no excuse, so just suck up and be nice.
- Ani DiFranco
Writing is a form of therapy; sometimes I wonder how all those who do not write, compose or paint can manage to escape the madness, melancholia, the panic and fear which is inherent in a human situation.
- Graham Greene
You will find peace not by trying to escape your problems, but by confronting them courageously. You will find peace not in denial, but in victory.
- J. Donald Walters
Your belief in God is merely an escape from your monotonous, stupid and cruel life.
- Jiddu Krishnamurti
Of all escape mechanisms, death is the most efficient.
- Henry Ward Beecher
Every person has free choice. Free to obey or disobey the Natural Laws. Your choice determines the consequences. Nobody ever did, or ever will, escape the consequences of his choices.
- Alfred A. Montapert
Es Teler Racing
17 MayEs teler adalah minuman (kalau bentuk es dimakan mungkin yah?) yang terdiri dari aneka buah-buahan segar. Menurut saya, bedanya dengan es buah adalah kalau es teler ditambah susu (kental atau bubuk), sirup, atau gula karamel, sedangkan es buah (sepertinya) ditambah air gula saja. Namun apalah arti sebuah nama, es teler bersaudara kembar dengan es buah, kembar tidak identik. Varian es teler pun beragam, tergantung selera lidah orang di daerah masing-masing. Sepertinya di daerah jawa ditambah susu, spesifik daerah Jakarta ditambah susu bubuk (seperti es teler tanah abang). Kalau di Makassar biasanya ditambah sirup DHT atau karamel, tidak lupa ditaburi Kacang Disco.
Entah bagaimana sejarahnya sampai dinamakan es teler. Ada beberapa versi yang saya dapatkan di internet. Wikipedia menulis kalau es teler awalnya dibuat oleh mertua pemilik gerai Es Teler 77 yang menjuarai kontes membuat minuman Nasional 30 tahun lalu. Namun kalau ada nama “es teler 77″ sebagai brand, pastinya telah lahir “es teler” jauh hari sebelumnya. Konon pada cerita lain, akhir tahun 70-an seorang ibu di Jakarta membuat es campur dari buah-buahan, entah mengapa anak mahasiswa UI Depok kemudian menyebutnya es teler, meskipun tidak ada yang teler setelah minum es ini. Sepertinya hanya lucu-lucuan saja dan agar namanya mudah diingat. Jadilah nama es teler dikenal hingga hari ini.
Lalu bagaimana dengan judul di atas, Es Teler Racing. Bukannya minum es sambil balapan, atau balapan sambil minum es (eh, sama saja yah?), atau adu cepat minum es teler. Bukan. Es Teler Racing yang saya maksud adalah es teler yang dijual di jalan Racing Centre, jalan penghubung antara jalan Urip Sumoharjo depan kantor Gubernur dan jalan Abdullah Dg Sirua. Sejak tahun lalu, jl Racing Center berubah nama menjadi jalan Prof. Basalamah, walaupun warga Makassar lebih familiar dengan nama jalan Racing Center.
Tadi sepulang kantor kami singgah minum es teler Racing, sungguh nikmat. Dinamakan Jl Racing Center, sebab di pertigaan jalan itu di tahun 1983, dibangun arena balapan go kart pertama di Indonesia Timur, yang kemudian dikenal dengan Racing Center. Kini arena balapan itu sebagian sudan berubah jadi dua kompleks perumahan, tapi orang terlanjur mengenalnya sebagai “daerah racing”.
Kembali ke es teler. Es teler racing nikmat, nikmat di leher dan di kantong. Per porsi sangat terjangkau Rp 5 ribu saja. Ada juga es-es lain dijual disini, seperti es campur, es buah, es kelapa, dan es pisang ijo. Ada sekitar 7 penjual es berjejer di tepi jalan, tinggal pilih, semuanya enak. Mau?
Aturan, Dibuat Untuk (Tidak) Dilanggar
16 MayAturan dibuat untuk dilanggar, katanya. Jadi, mari kita sama-sama melanggar. Tulisan ini diikutkan dalam 8 minggu ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam.
Belum juga lampu merah padam berganti lampu hijau, beberapa kendaraan sudah saling berebut jatah jalanan di perempatan kampus Unhas – Perintis. Saya pun akhirnya ikut arus, daripada diklakson berkali-kali dari belakang. Itulah pemandangan hampir tiap hari di perempatan jalan tersebut, semrawut. Lampu lalulintas memang seakan tak mampu membendung hasrat pengguna jalan mengejar waktu, warna merah dan hijau seakan telah sama, tak ada bedanya. Untuk arus lalulintas dari kota Makassar ke arah Daya, lampu merahnya kadang masih dipatuhi, tapi akhirnya dilanggar jika dirasa “telah sepi”. Arus sebaliknya yang parah, lampu merah telah menyala namun tak ada satu kendaraan pun yang berhenti.
Kondisi seperti ini hampir terjadi di seluruh perempatan jalan berlampu lalulintas di Makassar, kecuali di “tengah kota” yang kemungkinan besar ada Polisinya. Saya jadi teringat cerita lucu Pak Polisi, Lampu Merah, dan Bikers. Ada seorang bikers yang menerobos lampu merah, ditahan polisi, dan terjadilah percakapan berikut ini :
Polisi : “Woi!! Ko nda liat itu lampu merah???”
Bikers : “Kuliat ji Pak…”
Polisi : “Kenapa ko terobos pale!!”
Bikers : “Nda kuliat ki’ Pak…”.
Saya sangat jengkel dengan kondisi lalulintas yang semrawut seperti ini, pengguna jalan menggunakan jalan seenak perutnya tanpa mengindahkan aturan yang ada. Memang kadang saya maklum jika fasilitas traffic light tidak ada, rusak atau lampu padam. Tapi jika lampu menyala dengan normal, saya pikir pelanggaran yang disengaja ini tidak boleh berlanjut dan dibiarkan begitu saja. Jika saya melihat ada yang melanggar lampu merah, saya selalu berdoa mudah-mudahan ada polisi di depan sana dan menilangnya. Kadang kalau lagi enak hati, cerita tentang pelanggar lampu merah diambil hikmahnya saja. Mungkin pelanggar buta warna, istrinya mau melahirkan, bernyawa sembilan, polisi, anak pejabat, atau mau bunuh diri.
Terus terang, (awalnya) saya termasuk patuh berlalu-lintas. Menggunakan helm jika naik motor walaupun tujuannya dekat, tidak melanggar lampu merah walaupun tidak ada polisi. Menurut saya kenyamanan akan tercipta jika ada keteraturan, dan keteraturan ada karena ada aturan. Kepatuhan saya terhadap aturan lalulintas makin menjadi-jadi setelah sempat jalan-jalan di Tokyo. Di sana, tidak ada yang melanggar lampu merah seperti di Makassar, walaupun jalanan sepi. Orang Jepang malu melanggar lalulintas, mereka sangat sopan dan sabar di jalan. Tidak ada cerita mobil berpindah mengambil jalur sebelah, walaupun jalur sebelah sepi. Saya pun hanya pernah mendengar bunyi klakson sekali saja. Bandingkan di Makassar, mobil bisa pindah jalur seenaknya, jangan ditanya soal klakson, klakson disini saling bersahutan walaupun membunyikannya sebenarnya sangat tidak penting.
Teringat beberapa tahun lalu, di perempatan Adyaksa – Pengayoman. Saat itu saya naik motor bersama Sar dari arah Adyaksa mau belok kanan ke Pengayoman. Lampu merah menyala, otomatis kami berhenti, (sepertinya) otomatis pula mobil di belakang kami membunyikan klakson tanda “masih bisa maju”. Agak jengkel karena bunyi klakson, saya menoleh ke belakang sebagai tanda “jangan klakson, sudah merah!”. Pengemudi mobil marah, kemudian menyalip motor saya tepat saat lampu hijau menyala, untung saya banting stir ke kiri sehingga mobil tak jadi menyenggol kami. Adu mulut terjadi, pengemudi mobil tak suka dilihat sinis. “Apa liat-liat!!”, katanya sambil membuka jendela. Emosi saya tersulut, adu mulut terjadi. Ada tukang becak yang melerai. Si pengemudi mobil berlalu sambil mengancam “Awas ko!!! kutunggu di Aspol!!!”. Oh, dia mungkin tinggal di Aspol, atau punya kenalan di Aspol, atau malah polisi yang lagi tidak berdinas. Polisi koq arogan, salah pula. Perkara lampu merah yang akan teringat hingga akhir masa.
Lain lagi cerita juga beberapa tahun lalu. Saat itu saya pulang kantor, arah dari Maros ke Makassar, jalan protokol Bandara baru belum semacet sekarang. Di perempatan jalan protokol – Bandara, saya melambatkan motor karena lampu kuning hampir berubah menjadi merah. Tiba-tiba pete-pete (angkot) melaju dengan kencangnya dari belakang, saya hampir tertabrak. Dia nekad, padahal ada lampu merah dan polisi, kolaborasi yang mampu membuatnya ditilang. Saya hanya mbatin, komat-kamit bersyukur tidak tertabrak.
Begitulah kondisi jalan raya di Makassar, horor. Akhirnya saya yang patuh pun tidak tahan lagi, mulai mengikuti “kebiasaan” berlalulintas orang kebanyakan. Tidak pakai helm kalau kira-kira tidak ada polisi, menerobos lampu merah kalau sepi atau kendaraan di depan mulai menerobos, sampai melawan arus biar cepat sampai. Karena saya seakan bodoh sendiri patuh terhadap aturan lalulintas. Bayangkan saja jika lampu merah, terus saya sendiri tidak jalan padahal yang lain maju, bisa di klakson membabibuta saya dari belakang, dan disangka “orang goblog”.
Yah begitulah, dua sisi ini yang kadang berbenturan di batin saya. Antara patuh aturan dengan budaya “tidak sabar” kebanyakan orang. Cerita di atas baru soal lalulintas, bagaimana soal lain yang mungkin lebih besar dari sekedar sengaja melanggar lampu merah, korupsi contohnya. Ah Sudahlah…
Obat Wasir Aman Untuk Ibu Hamil
15 MayWasir atau ambeien (dalam bahasa Inggris atau Latin disebut Hemorrhoid dan dalam bahasa kedokteran disebut Piles) adalah penyakit atau gangguan pada anus dimana bibir anus mengalami pembengkakan yang kadang-kadang disertai pendarahan. Penyebabnya antara lain kebiasaan buang air besar tidak teratur (konstipasi atau diare), olahraga, nutrisi (diet rendah serat), peningkatan tekanan intra-abdomen (berkepanjangan tegang), genetika, tidak adanya katup dalam vena hemoroid, dan penuaan.
Selain faktor tersebut di atas, ambeien juga bisa terjadi pada ibu hamil. Penyebabnya antara lain.
1. Perubahan hormon dalam tubuh. Selama masa kehamilan, kadar hormon progesteron meningkat untuk memperkuat atau menahan janin di dalam rahim. Di waktu yang sama, hormon tersebut menghambat gerak peristaltik otot pencernaan yang diperlukan agar perjalanan makanan dari saluran pencernaan hingga saluran pembuangan berjalan lancar.
2. Ukuran janin yang kian besar. Akibatnya, seringkali janin mendesak sejumlah pembuluh darah di sekitar perut dan panggul. Darah yang meningkat, baik volume maupun alirannya, jadi terhambat.
3. Sembelit. Bisa terjadi karena asupan zat besi yang cukup tinggi selama hamil. Zat besi penting untuk calon ibu agar terhindar dari risiko anemia. Tetapi pada sebagian calon ibu, ini menyebabkan kesulitan buang air besar hingga akhirnya terjadi wasir.
4. Beban yang ditanggung ibu hamil. Beban janin dan dirinya sendiri menyebabkan lambung dan rahim saling berhimpitan, sehingga dorongan sedikit saja pada bagian anus akan menyebabkan pembuluh darah di sekitarnya pecah lantas menjadi wasir. Tak jarang peredaran zat makanan pun terhambat hingga akhirnya ibu hamil sulit buang air.
5. Gerakan fisik terutama bagian perut (abdominal) yang terbatas selama hamil. Ini juga salah satu penyebab kerja usus jadi “malas”.
Repotnya jika wasir terjadi saat hamil, tidak boleh sembarangan minum obat, apalagi jika terjadi pada kehamilan trisemester pertama. Mengkonsumsi sembarangan obat bisa membahayakan janin. Tapi, wasir yang parah disertai keluarnya darah lebih mengkhawatirkan lagi, tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah atau mengatasi wasir, yakni:
1. Perbanyak konsumsi makanan berserat, seperti buah-buahan dan sayuran.
2. Minumlah cairan yang cukup banyak. Paling tidak 2 liter dalam sehari.
3. Biasakan buang air secara rutin pada waktu-waktu tertentu, seperti di pagi hari. Sebelum buang air, minum air hangat.
4. Minumlah yogurt atau susu fermentasi yang dapat merangsang kerja usus agar lebih aktif. Jumlah konsumsi saat hamil dapat dikonsultasikan dengan dokter gizi.
5. Lakukan renang atau olahraga ringan, seperti jalan kaki yang sesuai dengan ibu hamil. Gerakan yang dilakukan ini diharapkan dapat membantu otot-otot di saluran pencernaan untuk bergerak mendorong sisa makanan ke saluran pembuangan.
6. Hindari mengejan ketika buang air besar saat hamil. Dengan tidak mengejan, ini berarti kemungkinan terjadinya pembengkakan maupun peradangan pada pembuluh-pembuluh darah di daerah anus bisa diperkecil.
Wasir sendiri tak terlalu berbahaya. Tapi, karena gangguan ini, tak jarang calon ibu tak bisa menikmati kehamilan. Bahkan ada ibu hamil yang kapok untuk hamil lagi.
Saran saya, apabila wasir dan perdarahan menimbulkan rasa nyeri dan menyebabkan sulit melakukan aktivitas, konsultasikan hal ini kepada dokter kandungan, jangan malu-malu
.
Istri saya, Sar menderita wasir. Awalnya, tidak parah, namun sekarang mengeluarkan darah. Tidak enaknya, usia kehamilan 5 bulan membuat kami tak bisa berbuat banyak. Jadilah Sar periksa dan konsultasi ke dokter kandungan. Diberi Cefadroxil (diminum) dan Faktu (dimasukkan ke a**s). Sebenarnya saya khawatir dengan obat yang diminum. Tapi ini dengan berat dilakukan demi mengurangi rasa sakit. Kata dokter kandungan, obat ini aman.
Selain ke dokter, konsultasi juga dilakukan dengan teman yang pernah mengalami atau tahu obat tradisional wasir yang aman buat ibu hamil. Berikut ini daftarnya.
1. Daun sirih. Lebih baik ujung pucuk tangkainya. Ditempel di pant**, mengurangi rasa sakit dan bau.
2. Daun ubi jalar. Ditempel di pant**, mengurangi rasa sakit. Diminum, menambah darah.
3. Daun mengkudu.
4. Minyak Pak Oles Bokashi. Dioles di tempat yang sakit, diminum dalam campuran 2 tetes dan segelas air.
5. Sabun cap Tangan. Dilarutkan dalam air hangat, rendam pan*** dalam baskom berisi larutan ini.
Sar saya sarankan menggunakan obat luar saja, tidak diminum, cukuplah Cefat yang dikonsumsi. Untuk point 5 belum sempat dilakukan. Hasilnya, sampai hari ini lumayanlah, darahnya sudah tidak banyak yang keluar, lukanya mengering, dan tidak terlalu perih lagi. Semoga bermanfaat, dan semoga derita istri saya cepat berakhir.
Pattern
13 MayWeekly Photo Challenge : Pattern
“No, I will be the pattern of all patience; I will say nothing”
-William Shakespeare
Tanggal Merah
9 MayHari ini libur, tanggal merah. Setiap tanggal merah hati berbunga-bunga, karena liburnya. Entah bagaimana jika di kalender hari libur dan hari kerja ditukar warnanya, libur warna hitam, kerja warna merah. Belum pernah ada yang mencoba, mungkin kalendernya dianggap salah dan tidak terbeli.
Memang sejak kapan kalender diberi warna merah untuk hari libur? Konon sejak jaman Romawi sudah ada, kemudian budaya ini dibawa bangsa Belanda sambil menjajah Tanah Air. Jadilah sekarang semua hari libur berwarna merah, termasuk hari Minggu.
Besok hari Jumat, hari kejepit Nasional. Oh iya, kadang saya temukan kalender yang hari Jumat nya berwarna hijau. Mungkin di Arab sana hari Jumatnya berwarna merah, karena libur. Oh iya lagi, karena hari sabtu saya libur, apakah sebaiknya diberi tanda merah? Atau warna jingga saja biar netral bagi yang tak libur di hari Sabtu.
Selamat hari libur, selamat tanggal merah, semangat saja
Cinta (Blog) Pertama
8 MaySaat perasaan begitu gelisah karena belum menulis sesuatu di blog hari ini, apakah itu yang namanya gila, candu, atau cinta? Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kelima.
Tema 8 minggu ngeblog kali ini adalah tentang cinta, cinta pertama. Saya sebenarnya sangat sulit menulis tentang cinta -apalagi tentang cinta pertama, karena menurut saya cinta itu absurd. Dulu, kadang perdebatan terjadi antara saya dan Sar (mantan pacar) tentang defenisi cinta, sayang, dan suka. Perdebatan tersebut kadang berakhir pertengkaran, yang ujung-ujungnya saya mengalah dan malas membahas tentang cinta. Logika dan perasaan sangat sering berbenturan jika membicarakan tentang cinta. Pada kesimpulannya, defenisi cinta itu sangat subjektif, bergantung pada individu masing-masing.
“Kita tidak bisa hidup tanpa cinta, semua pasti setuju. Bukan hanya cinta kepada mahluk, kepada lawan jenis tapi juga cinta pada alam semesta, pada benda ciptaan manusia dan tentu saja pada sang Maha Pencipta. Tuliskan cinta pertama Anda, bagikan ke semua orang biar kita makin sadar betapa pentingnya cinta dalam kehidupan kita”. Itulah kalimat pembangun ide menulis dari Pacca untuk tema tentang cinta pertama. Namun menceritakan romantisme masa lalu disini bisa jadi menimbulkan masalah baru, makanya pilihan cerita cinta pertama saya jatuh pada tema tentang cinta hobby atau kegemaran, kesenangan menulis pada blog. Mari kita mulai.
Saya lupa tepatnya kapan perkenalan dengan dunia blog dimulai, sepertinya sekitar tahun 2004 saat media pertemanan Friendster lagi booming dan meluncurkan program baru, blog. Jadilah saya memiliki blog pertama di Friendster, isinya beberapa tulisan dan lirik lagu. Buka cinta (blog) pertama saya, ketidakpedulian akan nasibnya menjadikan saya yakin ini bukan cinta pertama saya. Entah bagaimana nasib blog pertama saya kini, pastinya sudah jadi sampah jika kemudian tidak menguap seiring menguapnya jejaring sosial Friendster.
Blog selanjutnya sekitar tahun 2005-an dimasa akhir perkuliahan, saat itu seorang aktivis kampus menulis “sesuatu” di mading kampus dan menyertakan sebuah “link” di bawah tulisannya. Saya lalu tertarik membuka “link” tersebut, dan ternyata itu adalah sebuah blog pribadi. Dari situlah saya tahu dan makin penasaran kalau ada yang namanya “blog” pribadi, tanpa nebeng di media sosial. Walaupun kagum dengan pandangan pertama, saya tidak serta merta membuat blog, karena sulitnya minta ampun. Saat itu ada teman yang minat ngeblog sampai rela membeli buku tutorial membuat blog. Namun butuh kode-kode tertentu untuk membuat sebuah blog (semacam kode html) yang membuat saya menyerah membuat blog. Sang aktivis kampus sendiri melanjutkan blognya, meninggalkan kuliah kedokterannya demi membangun perusahaan blognya. Sang mantan aktivis kampus bahkan sempat meraih penghargaan sebagai pemenang kedua tingkat nasional kategori pengusaha muda Mandiri dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2008, pengusaha Blog!!! Namun saya bergeming, karena kesibukan tugas akhir saya tidak sempat ngeblog, hanya membuat alamat blog tanpa isi.
Tahun 2010-an lalu, membuat blog sudah tidak sesulit dahulu, tampilannya pun semakin menarik membuat saya sedikit demi sedikit belajar ngeblog. Saya iseng-iseng membuat blog di blogger dengan nama iseng-iseng pula, (daengrompa.blogspot.com). Isinya abal-abal dan sebenarnya tak layak posting. Namun disitulah awalnya saya mencintai dunia blog, sekedar membuat sebagai catatan harian dikala sempat. Cinta (blog) pertama saya tersebut berisi beberapa tulisan original dan tak sedikit berisi copasan. Karena mendapat pertentangan besar dari Sar, Blog tersebut akhirnya saya hapus. Sar tidak menyukai nama blognya karena mengingatkan pada memori buruk kelam masa lalu saya. Isinya kemudian saya pindahkan ke (yaszero.blogspot.com) yang kemudian saya pindahkan lagi ke (hoaxcitytravel.blogspot.com). Bagaimana nasib cinta (blog) pertama saya? Konten telah berpisah dari domainnya. Domainnya tetap aktif setelah diakuisisi oleh blogger luar negeri.
Bagaimana dengan blog ini? seperti biasa awalnya karena iseng. Saya buat karena ada fasilitas ngeblog wordpress di Blackberry. Setelah BB saya berganti dan akhirnya hilang, blog ini tetap hadir. Sempat taubat ngeblog karena dibekukan oleh WordPress, semangat hadir lagi setelah blog ini dilahirkan kembali. Isinya? tetap abal-abal.
Mengapa saya cinta ngeblog? Menurut saya lebih baik mengelola blog daripada seharian melirik Facebook atau Twitter, atau keluyuran tak jelas. Blog lah yang menjadi pelipur lara dikala sumpek dan kehilangan gairah hidup. Ngeblog layaknya melakukan meditasi, mengeluarkan sampah pikiran yang menumpuk di kepala. Walaupun sampai hari ini saya belum tidak mendapatkan keuntungan finansial dari aktivitas ngeblog, saya terlanjur mencintai dunia blog, entah sampai kapan.
From Above
5 MayWeekly Photo Challenge : From Above
Lord, Protect me from above, from Your Arsy.
-Muhammad Yasir-
Panorama Air Terjun Bantimurung
4 MayHari ini ada family gathering PPDS UNHAS di Air Terjun Bantimurung. Kami berdua ikut, gratis. Jalan-jalan sambil photo hunting. Bantimurung, adalah salah satu Kecamatan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Jaraknya sekitar 45 km dari Makassar atau 15 km dari pusat kota Maros. Air terjun Bantimurung adalah salah satu tujuan wisata favorit di Sulawesi Selatan. Air terjun Bantimurung masuk dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.
Mau masuk ke kawasan ini, cukup bayar 15 ribu untuk wisatawan lokal, atau 50 ribu untuk turis mancanegara. Harga tiket masuk ke Air Terjun Bantimurung ini berlaku sejak awal tahun 2013 ini. Lewat aplikasi panorama di Samsung Tab, saya potret suasana di Bantimurung. Jalan-jalan kesini, mau?













































Recent Comments