Jejak Batik di Thailand

Selamat Hari Batik

Sebelum berangkat benchmarking, kami diharapkan menggunakan pengenal ciri khas. Mestinya kami menggunakan jas almamater selama short course di Mahidol, namun tak semua mahasiswa punya termasuk saya. Akhirnya kami bersepakat menggunakan batik, terserah motif apa. Konon batik merupakan citra bangsa Indonesia, hingga ditetapkan hari ini (2 Oktober) sebagai hari batik Nasional.

Saya membawa dua lembar baju batik. Salah satunya adalah yang saya pakai ini. Batik ini sudah pernah ke Jepang. Sebenarnya sekarang sudah kekecilan dan tak layak pakai. Namun hanya ini batik yang tersisa. Di Thailand juga ada batik, malah menurut saya motifnya cantik-cantik dengan warna cerah menggoda.

Bangkok, Benchmarking hari ketiga.


Weekly Photo Challenge: Nighttime

Nightime Lampion

Malam tiba, waktunya mengerjakan tugas kuliah. Kalau siang, tugas-tugas ini terbengkalai, saya tak dapat bekerja sambil menjaga bayi. Multitasking itu sulit kawan. Kalau seluruh pekerjaan mau diselesaikan bersamaan, khawatirnya malah tak ada satupun yang tertuntaskan. Jadi, saya kerja malam saja, lebih tenang, lebih damai, lebih khusyuk.

Malam ini tugas sudah menumpuk, tapi rasa malas lebih menumpuk. Ini malam minggu kawan, mestinya kita bersantai menikmati malam akhir pekan. Kalau otak tak diistirahatkan, khawatirnya semakin tumpul.

Ditemani gigitan nyamuk, malam ini dilalui dengan upload foto. Foto ini adalah suasana malam di Siam Niramit Bangkok, bertabur lampion. Lampion memang lebih indah saat malam hari.


Selamat Jalan Pilkada Langsung

Demokrasi Kursi

Dahulu kala, saat Pilkada langsung, lahirlah Jokowi di Solo dan Jakarta, Tri Rismaharini di Surabaya, Ahok di Belitung Timur, Ridwan Kamil di Bandung, Nurdin Abdullah di Bantaeng, hingga Hatta Rahman di Maros. Mereka orang-orang hebat, sangat hebat malah. Mereka lahir langsung dari rahim rakyat, tanpa operasi caesar.

Sebelum era mereka? Setahu dan seingat saya tak ada! Para pendahulu mereka hanya bergelut di belakang meja kerja, berusaha menghabiskan anggaran, lobi sana lobi sini.

Patut ditunggu, penuh harap cemas sang penguasa yang lahir dari rahim wakil rakyat, dengan operasi caesar. Semoga saya hanya berprasangka buruk, akan lahir yang lebih baik daripada SBY. Mari.


Daya Tahan Sepatu Wakai

DSC_0600

Sepatu Wakai Nagare ini menemani selama perjalanan benchmarking Malaysia-Thailand. Awalnya saya ragu memakainya. Terkesan tidak kuat karena terbuat dari kain, modelnyapun terkesan santai, tidak formal, padahal akan dipakai di Universitas Mahidol Thailand untuk short course selama dua hari.

Saya malas membawa sepatu lain, merepotkan. Daripada membawa sepatu resmi, mending ruang di tas disiapkan untuk oleh-oleh. Saya berdoa saja semoga si Wakai kuat dan sehat wal afiat sampai di tanah air.

Setelah memakainya, ternyata daya tahan si Wakai cukup kuat. Padahal dibawa berjalan jauh hingga berlari kecil, terpapar panas dan hujan. Syukurlah, harganya yang ukuran kantong saya cukup mahal sebanding dengan kekuatannya.


Wisata Singkat Batu Caves

Batu Caves

Batu Caves, sebelum ke Malaysia, saya sudah browsing sana-sini melihat dan membayangkan keindahannya. Setelah melihatnya langsung, memang cantik. Konon dibuat oleh pendatang dari Cina yang membeli tanah disekitar karst bukit kapur, lalu membangun tempat sembahyangnya. Soal karst, lebih indah di Maros.

Patung Murugan berwarna emas dan karst menjulang tinggi menyambut para turis. Tour guide hanya memberi kami kesempatan memotret selama 15 menit. Tak boleh masuk ke goa disamping patung, waktu sangat terbatas dan masuk ke goa tidak gratis. Saya kalap, potret serampangan saja dengan Nikon D3100 dan Xperia ZL. Teriknya matahari siang itu tak saya pedulikan.

Kuala Lumpur, Benchmarking hari kedua.


Weekly Photo Challenge: Endurance

Oldman Face Clay

Sketch of a human face in such a wide, formed from clay. The real face of human endurance will not be able to match this clay face.

Clay is able to survive in the long term. Remembering clay pottery from ancient man-made that can survive in the soil layers over thousands or even hundreds of thousands of years.

The human face of this clay you can see directly in Nong Nooch Village, Pattaya Thailand. In addition to these sketches, there is also the composition of the clay bowl shaped like a car and garden decoration. Creative, may human creativity last longer.


3 Tahun, Masa Rawan Pernikahan?

Bunga Mekar Merekah

3 tahun pertama usia pernikahan, konon adalah masa-masa paling rawan pernikahan. Saat itu merupakan waktu untuk saling mengenal dan mengetahui karakter dan sifat masing-masing pasangan. Di usia rawan pernikahan ini akan ditemukan pasangan yang sering bertengkar, masalah sepele bisa menjadi besar. Bahkan tidak sedikit yang memutuskan untuk bercerai walaupun sebenarnya masalahnya bisa dikompromikan.

Dengan usaha yang sungguh-sungguh diharapkan kedua belah pihak dapat melalui 3 tahun pernikahan dengan mulus. Usaha tersebut antara lain ikhlas, sabar, komunikasi, berusaha menjadi lebih baik, dan mencintai pasangan dengan tulus.

17 September kemarin, pernikahan kami genap berusia 3 tahun. Doakan kami semoga jadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.


Menara Petronas, Ikon Malaysia

Twin Tower Petronas

Sudah pernah ke Malaysia? Kalau Anda menjawab sudah, berarti Anda sudah pernah ke menara kembar Petronas. Paling tidak, Anda pernah berfoto atau meludah di depannya.

Menara Petronas menjadi ikon Malaysia. Gedung ini menjadi kebanggaan Malaysia karena pernah menjadi gedung tertinggi di dunia. Sekarang menara Petronas menjadi gedung tertinggi keempat di dunia. Kami sempat singgah di dekat menara Petronas, walaupun tidak tepat di depannya. Konon masuk ke kawasan gedung tidak gratis, makanya tour guide hanya mengizinkan kami berfoto di dekatnya saja, selain karena waktu yang tidak banyak. Menurut saya, gedung Pinisi Tellu Cappa di Makassar lebih cantik.

Kuala Lumpur, Benchmarking hari kedua.


Selamat Pagi Kuala Lumpur!!!

Selamat Pagi Kuala Lumpur

Pagi telah tiba, ini adalah moment pertama suasana pagi saya di Kuala Lumpur. Misi selanjutnya adalah memotret sunrise. Siapa tahu matahari terbit di Malaysia lebih indah daripada di tanah air.

Shalat Subuh di KL adalah jam 6 pagi. Secara geografis sebenarnya sama waktu dengan Jakarta. Namun entah mengapa jam waktu KL sama dengan Makassar. Setelah menunaikan kewajiban, tiba saatnya menunggu matahari terbit. Kebetulan jendela kamar menghadap ke timur. Kamera SLR dan ponsel saya siapkan. Dengan hati-hati membuka jendela kamar bagian atas, sambil memanjat kursi. Tak sempat melihat matahari, mesti mandi dan bersiap-siap sarapan. Selamat pagi Malaysia!

Kuala Lumpur, Benchmarking hari kedua.


Suasana Malam di KL

Lampion Hijau

Setelah mengisi perut, kami berinisiatif keluar hotel, menikmati suasana malam pusat kota Kuala Lumpur. Bayar mahal-mahal ke Malaysia hanya untuk tidur? Rugi! Kalau mau tidur, ke Soppeng saja! Kata profesor dosen kami.

Karena baru ke KL, kami bingung sendiri mau kemana malam-malam begini. Sebagian teman termasuk prof makan nasi goreng dan minum tarik di SK corner di depan hotel. Kami sudah makan mie instant di kamar, dan sedikit saja bekal ringgit membuat saya dan Uchenk keliling-keliling saja di sekitaran hotel. Mengambil beberapa foto jalan dan suasana malam, gratis tanpa keluar ringgit sepeserpun. Menghemat bukan? Hehehe hehehe.

Kuala Lumpur, Benchmarking hari pertama.