Hari Baru, Semangat Baru

Sarapan Pagi

Rasa lapar dan mau makan berkolaborasi pagi ini. Kalau lapar? Ya makan! Mau makan? Ya masak! Lalu apa yang bisa dimasak pagi ini? Saya bergegas ke dapur, masih ada stok mie goreng instan terakhir dan sebutir telur. Beruntung, Khal nyenyak dalam tidurnya, saya leluasa memasak.

Sekejap saja, mie goreng telur telah tersaji, siap santap. Tak lupa moment ini saya potret sekedarnya. Namun belum juga suapan pertama menemui mulut, Khal terbangun, tanpa tangisan. Andai indera keenam tak awas, bisa saja Khal jatuh terjengkang dari kasur.

Kami makan berdua dengan penuh khusyuk, di hari ulang tahun ke-32. Sarapan pagi, hidup sederhana, semangat baru!


Memotret Kapal dengan Teropong

Memotret Kapal dengan Teropong

Sambil menunggu waktu, Saya diajak kak Syahrir ke Markas peralatan TNI-AL di sekitaran pelabuhan Makassar. Kami naik kapal penumpang yang sedang bersandar. Kapal tersebut sedang menjalani perbaikan rutin, kak Syahrir adalah salah satu montirnya.

Di atas kapal kami disambut seadanya di ruang tamu yang sekedarnya pula. TV menyala dengan malas, gambar semutan. Kami terima saja, daripada menunggu di bandara tidak jelas sambil apa. Saya kemudian memotret suasana laut, ada dermaga, kapal, dan pulau Kayangan yang kelihatan kecil di kamera ponsel.

Sebuah teropong tergeletak di atas meja, teringat masa kecil, mau sangat punya teropong. Saya pakai teropongnya, dikoneksikan dengan kamera ponsel. Jepret!


Bahagia Itu (Tidak) Sederhana

Ayo Bermain

Bahagia itu sederhana, sesederhana bermain kejar-kejaran bagi Radit dan Aylmer, sesederhana naik mobil-mobilan bagi Khalila, dan sesederhana mendorong mobil-mobilan bagi Sophia. Asal tidak sampai jatuh dan sang anak tertawa gembira, disitulah bahagianya saya.

Bahagia itu sederhana. Bisa makan disaat lapar, bisa istirahat disaat lelah, bisa tidur disaat ngantuk, bisa ngutang disaat kepepet, bisa travelling disaat suntuk. Bahagia itu sederhana, bebas memotret sepuasnya, bebas ngeblog sepuasnya, bebas nonton film sepuasnya, bebas melamun sepuasnya, bebas bergosip sepuasnya, bebas main game sepuasnya.

Bahagia itu sederhana, melihatmu tersenyum bahagia. Tapi bahagia tidak sederhana, bahagia itu rumit, karena sulit melihatmu tersenyum bahagia. Bahagiakah kamu sekarang? Tersenyumlah!


Main Petik-petik Bunga

Petik Bunga

Sebagai seorang Bapak Rumah Tangga, saya sering berinteraksi dengan si Kecil. Setiap saat kecuali dia tidur, saya mesti menjaganya ekstra ketat, membuatnya senang namun tetap aman.

Hal yang membuat bayi senang adalah bermain, dan bermain. Sulitnya jika sang penjaga tidak doyan bermain dan bayi cepat bosan. Belum selesai permainan satu, bayi akan beralih ke permainan berikutnya. Sungguh sebuah pertarungan melawan kebosanan oleh seorang penjaga bayi.

Permainan kemarin adalah main petik-petik bunga. Sepertinya Khalila tidak bosan memetik bunga. Tapi permainan harus segera diakhiri sebelum diamuk EyangTi nya melihat bunganya habis dicabuti. Setelah memotret, saya memaksa Khalila berhenti main, dan dia berteriak sekeras-kerasnya.


Dini Hari di Rumah Sakit

Hunting Sunrise Makassar

Radith tetiba muntah-muntah dan diare, dini hari tadi mboke dan Sar langsung memboyongnya ke RS. Saya menyusul subuhnya dalam keadaan mengantuk dan tidak kenyang.

Balita apalagi bayi diare memang mengkhawatirkan dan pengawasannya harus ekstra ketat. Takutnya sang anak kehilangan banyak cairan dan melemah. Jika tak mau makan dan minum serta oralit tak mempan, segeralah bawa ke dokter agar tak menyesal kemudian.

Pagi menyapa, pemandangan sunrise dari lantai 6 RS Awal Bros cukup menggoda untuk dipotret. Sayangnya terhalang kaca dan jendela yang terkunci mati tak dapat dibuka. Difotolah seadanya dengan beragam noise dari debu di kaca dan pantulan bayangan. Semangat pagi Makassar.


Tanggung Jawab Dokter Spesialis

Lobby RS Ibnu Sina

Ini kali ketiga saya mengantar Kak Yanti ke Rumah Sakit Ibnu Sina. Beliau adalah dokter residen spesialis saraf yang sedang berdinas di RS ini. Waktu dinas sebenarnya Senin sampai Sabtu, pagi hingga petang. Selain itu on call, 24 jam 7 hari.

Masalahnya jika sudah di rumah tapi kemudian dipanggil ke RS lewat telepon. Tanggung jawab moral dokter membuat hal ini tetap dilakukan. Bisa saja dia menonaktifkan ponsel saat di rumah, namun dengan risiko pasien mati.

Dua kali sebelumnya mengantar beliau hampir tengah malam. Kali ketiga hari ini bertepatan dengan tanggal 17 Agustus, hari Ahad, hari libur, hari kemerdekaan Indonesia, sore hari.


Hari Merdeka, Tanpa Bendera

Merah Putih di Langit Biru

Hari H kemerdekaan Indonesia, tak ada bendera apalagi umbul-umbul yang berkibar di depan rumah. Kami belum punya bendera, belum beli, lagian kami untuk sementara tinggal di rumah mertua. Sang mertua pun tak memasang bendera.

Bukan hanya kami, tetanggapun tak memasang bendera. Sepanjang kompleks hanya dua rumah yang memasang bendera, itupun dengan tiang yang miring. Pesta rakyat menyambut hari kemerdekaan tidak sesemarak tahun-tahun sebelumnya, minimal suasana kemerdekaan dengan warna dominan Merah-Putih tak terlihat.

Konon kewajiban negara memberikan warga miskin sebuah bendera untuk dikibarkan di depan rumahnya. Mall pun sepertinya lebih ramai daripada upacara bendera. 69 tahun Indonesia Merdeka, lain masa lain penjajahnya.


Makan Tengah Malam (Lagi)

Mie Rebus Tengah Malam

Tetiba lapar tengah malam ini, mungkin pengaruh jalan-jalan seharian tadi ~alasan, atau mbatin karena MU baru saja kalah di laga pembuka Liga Inggris musim ini melawan Swansea City, di kandang sendiri pula ~alasan.

Yang jelas, saya sering (merasa) mau makan tengah malam padahal tidak lapar. Keinginan, bukan kebutuhan. Padahal makan tengah malam berbahaya pada melarnya perut. Padahal saya sudah berusaha bertekad untuk diet sejak dulu, sejak perut ini sudah zeropack.

Akhirnya saya memberanikan diri membuat mie rebus pakai sayur dan telur. Padahal orang-orang sudah tidur, di rumah mertua pula. Sungguh tak tahu malu! Ah sudahlah, nikmati hidup. Besok coba diet lagi.


Keliling Makassar dengan Trans Mamminasata

Bus Trans Mamminasata

Untuk kedua kalinya kami naik bus Trans Makassar. Rute dari Mall Panakkukang ke Trans Studio Mall. Berangkat siang, pulang petang.

Bus Trans Makassar bernama resmi Trans Mamminasata. Harga tiket Rp.4000 dengan melalui beberapa jalan protokol Makassar, lumayan sebagai alternatif keliling kota Makassar bagi backpakers, murah meriah.

Jalurnya adalah (Pergi) Mall Panakukkang, Boulevard, Pettarani, Urip Sumoharjo, Bawakaraeng, (sudut) Karebosi, Sudirman, Monumen Mandala, Mall Ratu Indah, Sam Ratulangi, Kakatua, Gagak, Garuda, (sudut) pantai Losari, Metro Tanjung Bunga, Trans Studio Mall. (Pulang) TSM, pantai Losari, Fort Rotterdam, Karebosi, Makassar Trade Center (MTC)/ Karebosi Link, Masjid Raya, MP. Syukurlah tidak transit lagi di Mall GTC.


Ayah Rumah Tangga Sekedarnya

Ayah Rumah Tangga

Sementara ini saya beralih profesi jadi Ayah Rumah Tangga. Profesi yang menjadi bahan tertawaan sebagian banyak orang. Kebetulan sedang libur sangat panjang. Tapi ini sebatas menjaga bayi, baby sitter, termasuk bermain bersama, membuatkan susu formula, cuci botol, ganti popok, sekali-sekali memandikan. Ini dilakukan sejak pagi hingga sore hari.

Profesi ini masih tabu di budaya timur termasuk Indonesia, karena selayaknyalah ibu yang mengasuh anak, bukan bapak!

Saya sangat menikmati pekerjaan baru ini. Kapan lagi bisa menjaga dan mengasuh si kecil Khalila? Kalau dia sudah besar, lain lagi ceritanya. Saya lalu tahu bagaimana susahnya menjaga bayi. Salam hormat buat seluruh Ibu Rumah Tangga.