Foto di Warung Pangsit Bakso Juta Rasa, jalan Pettarani Makassar. Belum saatnya saya ceritakan betapa nikmatnya pangsit bakso disini.
Saat masuk, kami disambut plastik air, tergantung di atas meja. Ada sekitar 3 plastik. Saya mbatin, plastik gantung ini untuk apa? Ada beberapa pikiran nyeleneh muncul di kepala : pengusir hantu, penglaris, pengusir lalat, pendingin ruangan (es dalam plastik sudah mencair), atau dekorasi perwarungan saja. Awalnya saya malu bertanya pada penjaga warung, ndak enak kalau ditertawai karena tidak tahu. Istri saya tanya, di jawab ala kadarnya, mungkin lem lalat, mungkin ada lem di talinya. Saya pegang talinya, tak ada lemnya, tak ada lalat juga nempel disitu.
Setelah makan, kemaluan saya kecilkan, beranikan diri bertanya. Jawaban tukang bakso mengambang, katanya itu penghalau lalat, entah mengapa lalat hinggap di talinya saja.
Masih penasaran, saya gogling, mencari alat pengusir lalat tradisional. Hasilnya, ada beberapa cara mengusir lalat (terutama di warung makan) antara lain menaburkan cengkeh kering, menyalakan lilin, menggantung plastik transparan berisi air bersih, dan beberapa cara lainnya.
Ternyata benar, ada plastik transparan pengusir lalat. Tapi, proses mengusirnya dijelaskan secara logis. Konon, Kantong plastik transparan yang biasa dipakai untuk membungkus gula pasir dan minyak goreng curah bisa kita manfaatkan untuk membuat lalat takut dan terbang tunggang langgang. Kita tinggal isi dengan air bersih lalu digantung di tempat yang kena cahaya. Kantung plastik yang berisi air tersebut dapat mengganggu penglihatan atau navigasi lalat karena adanya refleksi cahaya dari kantong plastik tersebut.
Konon pula, cara ini sudah dipakai sejak lama oleh pemilik rumah makan Padang. Sudah lama ternyata ilmu mengusir lalat digunakan. Catat, diusir tidak dibunuh.





logis banget penjelasannya Mas. :’)