Tag Archives: dbd

Test Diagnosa Cepat (RDT) Demam Berdarah Dengue

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit ini disebabkan infeksi Virus Dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang tersebar luas di daerah tropis dan subtropis seperti Indonesia. Diketahui ada 4 serotipe virus dengue. Infeksi dengue bersifat demam yang dapat sembuh sendiri, namun pasien yang terinfeksi kedua kalinya dengan serotipe virus yang berbeda lebih berpeluang menderita infeksi yang berat seperti DBD ataupun DSS (Dengue Shock Sydrome).

Pasien yang terinfeksi virus Dengue perlu didiagnosa lebih awal guna menentukan tindakan yang tepat selanjutnya, seperti penanganan pasien sesuai tatalaksana penyakit dan langkah pencegahan penularan penyakit.

Selama ini infeksi Virus Dengue didasarkan setelah kasus terdiagnosis DBD. Diagnosa tersebut berdasarkan criteria diagnosis klinis ditambah pemeriksaan serologi uji haemagglutination-inhibition untuk konfirmasi. Proses mendiagnosa DBD ini hanya dapat dilakukan di laboratorium. Untuk Kabupaten Maros dan mungkin di banyak kabupaten/kota lainnya, Laboratorium yang memadai ada di Rumah Sakit. Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di Indonesia belum memiliki fasilitas ini (pemeriksaan laboratorium lengkap). Sehingga, diagnosa Positif DBD hanya bisa dilakukan di RS, Puskesmas hanya bisa mendiagnosa secara klinis saja yang menghasilkan diagnosa sementara Tersangka/ suspek DBD.

Hal ini menyulitkan petugas kesehatan lain seperti epidemiolog untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya terutama mencegah penyebaran penyakit agar tidak meluas. Ada rentang waktu antara diagnosa pasti positif DBD dengan kemunculan awal penyakit. Kebanyakan pasien baru memeriksakan diri ke Puskesmas setelah mengalami demam paling cepat 3 hari (bahkan lebih) karena mengira demam biasa. Toh jika ternyata hasil diagnosa dokter di Puskesmas adalah tersangka DBD (dengan tanda minimal demam dan Rempelit positif), pasien biasanya langsung dirujuk ke RS untuk pemeriksaan lanjutan (periksa darah : Peningkatan hematokrit dan penurunan trombosit). Jika minimal keempat tanda ini muncul, barulah kemudian pasien didiagnosa Positif DBD. Proses ini memakan waktu lama, bisa seminggu atau lebih. Jadi diagnosa positif DBD baru muncul paling cepat 1 minggu setelah mulai demam. Lama bukan?

Masalah lain adalah keempat kriteria diagnosa positif DBD sebenarnya masih belum dapat dipercaya. Ada beberapa penyakit lain yang mempunyai gejala yang sama. Rempelit postif dan penurunan trombosit juga ada pada pasien demam tifoid. Peningkatan hematokrit juga belum tentu DBD, bisa jadi adalah penyakit lain.

Untuk itu, Program pengendalian DBD membutuhkan suatu tes yang cepat, praktis, dan dapat dipercaya untuk penentuan infeksi dengue primer dan sekunder. Saat ini telah dikenal Rapid Diagnosis Test (RDT) untuk mendeteksi infeksi dengue. Ada beberapa macam RDT DBD, antara lain RDT untuk mendeteksi NS1, IgG dan IgM.

NS1 adalah suatu glycoprotein yang muncul dengan konsentrasi tinggi pada pasien terinfeksi dengue pada tahap awal penyakit. Antigen NS1 ditemukan pada hari pertama hingga hari kesembilan sejak awal demam pada pasien-pasien dengan infeksi dengue primer maupun infeksi dengue sekunder.

Respon kekebalan dengan memproduksi antibodi IgM muncul pada hari ketiga hingga kelima sejak gejala dan bertahan untuk jangka waktu 30-60 hari. Antibodi IgG muncul sekitar hari ke-14 dan bertahan seumur hidup.

Infeksi dengue sekunder sering menghasilkan demam tinggi dan pada banyak kasus disertai dengan terjadinya pendarahan dan gangguan sirkulasi. Infeksi dengue sekunder ditunjukkan dengan tingkat antibodi IgG meningkat dalam 1-2 hari setelah gejala muncul dan merangsang respon antibodi IgM setelah 20 hari infeksi.

Penggunaan RDT mempercepat dalam mendiagnosa kasus infeksi dengue sehingga membuat pasien segera mendapatkan penanganan yang tepat, dan tindakan pengendalian penyakit seperti penyelidikan epidemiologi, penanggulangan fokus dapat segera dilakukan. Yang adiharapkan dapat membantu tercapainya sasaran program pengendalian DBD yaitu angka kesakitan penderita DBD sebesar 51 per 100.000 penduduk dan mengurangi angka kematian <1%.

RDT DBD ini harganya cukup mahal, tidak seperti alat tes cepat kehamilan yang dibanderol paling mahal 30 ribuan per strip, konon harga satu strip RDT berkisar 150 ribu. Masih teramat mahal. Jadi untuk mendeteksi infeksi virus Dengue bagi warga Kabupaten Maros yang berkisar 200-an suspek DBD per tahun, dibutuhkan dana sekitar 30 juta rupiah. Dengan asumsi pemeriksaan virus Dengue primer dan sekunder dananya dikalikan 2 jadi 60 juta. Itu baru tersangka DBD, belum jika dilakukan investigasi lapangan dan ditemukan beberapa penderita suspek DBD, maka dibutuhkan RDT DBD lebih banyak lagi. Untunglah Beberapa waktu lalu kabupaten Maros mendapatkan bantuan alat dan bahan RDT DBD ini dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan. Walaupun jumlahnya terbatas, semoga dapat bermanfaat untuk deteksi dini infeksi virus Dengue.

Yang menjadi masalah kemudian adalah soal distribusi RDT yang terbatas ke puskesmas. Yang dapat melakukan pemeriksaan RDT DBD adalah tenaga yang kompeten, yaitu tenaga laboran. Karena yang dibutuhkan untuk pemeriksaan RDT DBD adalah serum darah. Butuh pengolahan spesimen darah dengan cara sentrifuge untuk menghasilkan serum darah. Masalahnya adalah tidak semua puskesmas yang endemis DBD memiliki tenaga laboran, belum lagi soal tidak standbynya petugas laboran di puskesmas atau keengganan memeriksa mengambil darah karena tidak adanya alat suntik (spoid) khusus pengambilan darah DBD dan wadah serum (crotube) atau keengganan memeriksa karena ”belum ada pelatihan khususnya” atau yang paling parah soal anggapan ”program ini tidak ada uangnya” –-Jika memang ada petugas yang berpandangan seperti ini—Yah sudahlah, bekerja lebih sabar lagi dan tetap semangat.

Rencananya tahun depan akan ada pengadaan RDT DBD ini dari anggaran daerah. Namun soal alat dan bahan lain (spoid dan crotube) hingga honor laboran belum jelas adanya. Semoga masyarakat Maros tetap sehat, tetap waspada DBD. Pun kalau ada warga Maros yang mencurigai dirinya atau keluarganya menderita DBD, silahkan ke Puskesmas terdekat, disana ada pemeriksaan langsung cepat DBD, semoga anda terlayani dengan baik.

Petunjuk Teknis Penggunaan RDT untuk Penunjang Diagnosis Dini DBD dapat DIUNDUH DISINI


Angka DBD Kota Makassar Tahun 2011

Penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) patut diwaspadai, terutama pada musim hujan dengan intensitas tinggi. Data / Angka penderita DBD Kota Makassar Tahun 2011 menunjukkan jumlah kasus terbanyak pada Januari. Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar Naisyah Tun Azikin mengatakan, jumlah kasus DBD tertinggi tercatat pada Januari 2011 sebanyak 14 kasus. Laporan kasus DBD pada November yang masuk hanya tiga kasus. Secara umum, selama Januari sampai November 2011, jumlah kasus DBD yang tercatat dan terlaporkan sebanyak 80 kasus.

Melihat data kasus DBD tersebut, penyebaran penyakit antara Januari sampai Maret perlu diwaspadai. Musim hujan menimbulkan banyak genangan dan menjadi tempat hidup dan berkembangnya nyamuk aedes aegepty pembawa virus DBD.

Sedikitnya 30 daerah yang rawan penyebaran penyakit DBD di Makassar. Kelurahan yang rawan penyebaran DBD di antaranya Kelurahan Sudiang Raya, Daya, Tamalanrea Jaya, Tamalanrea Indah, Parangloe, Tamalanrea, Mariso, Lette, Barombong, Pattingaloang Baru, dan Pattingaloang. Daerah rawan penyebaran penyakit DBD tersebut tersebar di 10 kecamatan. Identifikasi daerah penyebaran DBD terbanyak ditemukan di Kecamatan Biringkanaya, Tamalanrea, Wajo, Ujungpandang, Mamajang, Panakkukang, Ujung Tanah, Makassar, Mariso dan Tamalate.

Kerawanan suatu daerah terhadap penyebaran penyakit DBD diukur berdasarkan angka bebas jentik. Suatu daerah dikatakan rawan terjangkit penyakit DBD bila angka bebas jentik masih di bawah 75 persen. Selama ini, penanganan penyakit DBD di antaranya dilakukan dengan fogging atau penyemprotan di seluruh daerah. Disediakan pula serbuk abate untuk ditaburkan di lokasi yang dianggap rawan menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegepty.

Namun, penanganan seperti fogging hanya bersifat sementara karena sekadar membunuh nyamuk dewasa. Telur dan jentik nyamuk tidak bisa dibasmi dengan fogging.

Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk memberantas penyebaran penyakit DBD di wilayah masing-masing. Paling tidak, masyarakat melakukan tindakan 3M dengan menguras bak air, menutup tempat yang dapat menjadi sarang nyamuk, mengubur barang-barang bekas yang bisa menampung air.

sumber: fajar


Berasap di Lingkungan Macowa

kumuh, tergenang

mengasapi

sampah

Musim hujan lagi lucu-lucunya sekarang ini. Kelucuannya membuat berbagai penyakit tertarik untuk muncul dan mengganggu ketentraman rakyat. Salah satu penyakit yang berkaitan erat dengan hujan, khususnya air adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). DBD yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti mulai bertelur di genangan air bersih yang tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Telurnya kemudian menetas dan berkembang menjadi jentik di tempat tersebut, begitupula jentik ini akhirnya berkembang menjadi nyamuk dewasa yang siap mencicipi darah manusia sambil menyebarkan virus dengue.

Makanya, bisa dipastikan di daerah endemis DBD akan sangat cepat ditemui kasus DBD apalagi disertai dengan banyaknya wadah-wadah air berupa sampah yang tidak dikubur.

Beberapa hari lalu, ada surat yang berasal dari rakyat agar dilakukan penyemprotan DBD di daerahnya karena ada beberapa orang yang sudah terkena DBD, 2 orang sempat dirawat di RS. Jika surat seperti ini langsung ke dinas kesehatan (bukan Puskesmas), berarti ada sistem yang kurang jalan atau miskomunikasi karena seharusnya rekomendasi permintaan penyemprotan mestinya dilakukan oleh Puskesmas setelah penyelidikan epidemiologi.

Namun demi pelayanan kepada rakyat, tim penanggulangan DBD turun menyemprot mengasapi rakyat mengusir nyamuk. Lokasi memang sangazt semrawut menjurus jorok, air tergenang dimana-mana, sampah tak terurus. Dan inilah beberapa dokumentasi pengasapan, termasuk konsumsi yang disediakan rakyat. Mau??

[Muhammad Yasir]