Apa Kontribusi Anda untuk Lingkungan ?

Hari ini, 5 Juni 2011 bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Banyak ragam cara orang-orang yang “peduli” lingkungan “merayakannya”. Menanam pohon bersama-sama ataupun bersepeda massal adalah dua dari berbagai cara (setahu saya) memperingati HLHS ini. Mungkin ada juga yang berdemontrasi, membagikan leaflet dan selebaran tentang lingkungan, dan berbagai hal lain.

Kalau saya ? Tidak ada acara-acara demikian, saya sibuk sendiri dengan rutinitas akhir pekan, gowes, menikmati libur pagi. πŸ™‚

Gowes pagi ini saya sempatkan singgah di sebuah waduk, waduk Pampang namanya, sekitar 5km dari rumah. Baru kali ini saya ke waduk ini, ternyata asyik juga, segar pagi-pagi tanpa debu dan kebisingan kendaraan. Namun sepertinya suasana waduk hanya asyik dinikmati dipagi dan sore hari, pasalnya tidak ada pepohonan rindang di tepi waduk, niscaya pengunjung akan kepanasan dari jam 9 pagi hingga jam 4 sore. Gersang, ditepi waduk hanya ada pohon kecil yang baru ditanam dengan dipagari bambu. Sebagian pohon kecil ini telah mati kekeringan.

Kalau mau rindang, sepertinya saya harus menunggu 2 hingga 3 tahun kedepan, hingga pohon kecil yang bertahan hidup tumbuh merimbun. Akh tidak, 5 atau 6 tahun mungkin. Dengan catatan, pohon kecil ditepi waduk dipelihara dengan baik. Siapa yang bertanggungjawab “membesarkannya” yah ?

Dari waduk, gowes saya lanjutkan, tidak ada hal menarik selain debu yang berseliweran di jalan. Makassar sudah sangat berpolusi hingga ke “pinggiran” kota, sangat jarang ditemui pohon-pohon yang menyejukkan, ditambah jalan yang berdebu, sangat mengganggu aktifitas pergowesan. seperti biasanya, jalur gowes itu-itu saja, mulai membosankan.

Sekitar 3km dari rumah, di jalan pulang saya memberanikan diri singgah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Tamangapa. TPA ini beroperasi sejak tahun 90-an, melayani kebutuhan pembuangan sampah seluruh warga Makassar, jauh hari setelah banyaknya warga bertempat tinggal di daerah sini (Antang, Tamangapa, dan sekitarnya). Saya jadi mikir, apa alasan pemerintah memilih lokasi ini sebagai TPA? Padahal berada dekat dengan pemukiman warga.

Sudahlah, akan banyak tulisan nantinya mengenai TPA Tamangapa ini. Yang jelas, saya memberanikan diri masuk ke kawasan TPA. Sebenarnya dari dulu saya sangat “takut” masuk ke kawasan ini, ada pintu gerbangnya, pasti dilarang masuk oleh securitinya. Namun pagi ini saya langsung mikir, pemulung dan sapi saja bisa masuk, apalagi saya. Masa’ pemulung dan sapi bayar tiket masuk ? Tidak mungkin ! Benar saja, setelah melewati pintu gerbang dan penimbangan truk sampah, saya masuk dengan bebasnya ke kawasan TPA, tak ada yang melarang. Hanya ada tulisan di pintu gerbang “Hati-hati berada di lokasi TPA, dilarang keras berada di sekitar truk, kecelakaan dan keselamatan tidak ditanggung pemerintah dan menjadi tanggung jawab anda sendiri”.

Akhirnya masuk juga setelah sekian lama terpendam. Dengan sepeda, topi, dan masker saya masuk ke kawasan TPA. Seperti yang sudah diduga, panas dan bau dengan pemandangan jorok telah menyambut kedatangan saya. Tak ada pohon di kawasan TPA ini. Super gersang.

Heran saya, puluhan ekor sapi mencari makan disini, memakan sampah!! Berbagi dengan para pemulung yang mencari nafkah dari bongkahan sampah. Tentu saja, sapi-sapi disini (yang memakan sampah) tidak bisa dijamin kesehatannya, mungkin banyak cacing di perutnya, namun secara fisik sapi ini terlihat sehat dan gemuk-gemuk. Begitu pula dengan para pemulung, sangat berisiko menderita penyakit akut (diare, ispa, pneumonia) dan kronis (kankern dll) serta kecelakaan kerja. Perlu pemikiran khusus dari pemerintah dan kita semua menyikapi masalah ternak dan pemulung di lokasi TPA, demi kesehatan dan kesejahteraan semua.

Namun, bukan itu yang menjadi concern saya pagi ini, melainkan peran (kontribusi) sapi dan pemulung dalam mengeliminir sampah yang secara tidak langsung menjaga kelestarian lingkungan, walaupun berisiko terhadap kesehatan dan keselamatan mereka. Bayangkan saja jika tidak ada pemulung di dunia ini, khususnya di kota Makassar yang pengelolaan dan pengolahan sampah masih jauh dari baik. Entah seluas apa TPA ini jadinya, mungkin TPA ini sudah meluas hingga rumah saya.

Setelah puas memotret sana-sini, saya pulang dengan senang, membawa oleh-oleh buat dibagi di blog. (Maaf) foto-foto sampah. πŸ™‚

Semangat Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Apa kontribusi anda buat lingkungan yang lebih baik ?

Advertisements

6 thoughts on “Apa Kontribusi Anda untuk Lingkungan ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s