Cuci Uang

cuci uang
cuci uang

Bahasyim Assifie (59 tahun), Bekas pejabat Ditjen Pajak dihukum 12 tahun penjara oleh Mahkamah Agung (MA) karena mencuci uang dan korupsi selama menjabat pejabat Ditjen Pajak sejak tahun 1976.

Pencucian uang atau money laundry adalah mengolah dana dari hasil kejahatan menjadi dana legal. Alasan orang mencuci uang karena uang cash dari hasil kejahatan dalam jumlah besar tidak mungkin disimpan di rumah atau disimpan ke bank sebab akan ditanya oleh pihak bank darimana sumber dana tersebut. Untuk mengakalinya, maka uang tersebut dialirkan pelaku dengan membangun bisnis yang legal.

Pada kasus Bahasyim, dia mencuci uangnya dengan bisnis jual beli tanah, jual beli mobil, membuka bengkel, membuat studio foto, bisnis valas, membuka pemasangan flambing dan penyertaan modal di berbagai perusahaan. Usaha inilah yang membuat kantongnya menggendut hingga Rp 64 miliar. Bahkan, total volume transaksi di rekening istri dan anaknya mencapai Rp 932 miliar.

Setelah bisnis tersebut menguntungkan, maka hasil keuntungannya baru ditabung ke bank. Sehingga uang yang ditabung tersebut telah menjadi uang legal karena telah dicuci. Pihak bank pun akhirnya tidak menaruh curiga dari mana uang tersebut berasal.

Semua bisnis yang modalnya dari hasil kejahatan dapat disita. Sampai sejauh mana dana itu mengalir, itu yang disita. Tidak pandang bulu karena bisnis itu hasil kejahatan. Tapi yang harus diingat, pengelola perusahaan yang modalnya dari hasil pencucian uang maka bisa ikut menjadi terpidana. Sebab, patut diduga pengelola mengetahui dari mana asal muasal modal usaha tersebut. Seorang suami atau istri juga bisa dijerat dengan tindak pidana pencucian uang jika menerima uang hasil kejahatan pasangannya. Pihak kedua atau ketiga yang menerima hasil kejahatan bisa dijerat dengan tindak pidana pencucian uang jika pihak kedua atau ketiga tersebut sudah mengetahui atau telah menduga benda yang diterimanya merupakan hasil pidana.

Di Amerika Serikat, money laundry telah dikenal sejak era 1920. Saat itu, mafia terkenal dari Chicago, Amerika Serikat, Alphonse Gabriel Capone alias Al Capone mempunyai bisnis penjualan minuman keras, penyelundupan senjata, narkoba, perjudian dan prostitusi. Alhasil, keuntunganya pun sangat fantastis yaitu mencapai US $ 100 juta. Akhirnya, Al Capone pusing bagaimana memutar uang haramnya tersebut. Lalu dia membuka usaha pencucian pakaian / laundry. Sebab, orang membayar jasa pencucian uang dengan uang judi sama-sama, yaitu uang receh. Sehingga saat menabung di bank, pihak bank tidak curiga. Tidak cukup membuka bisnis pencucian uang, mafia keturunan Italia ini juga membuka bisnis jual beli properti. Selain itu, guna mengakali petugas pajak, Al Capone membuat laporan keuangan sangat rumit dengan pos usaha bermacam- macam. Karena kelicikan Al Capone inilah, dia baru bisa ditangkap dan divonis 11 tahun penjara. Tetapi karena menggelapkan pajak, bukan karena bisnis jahatnya tersebut.

Berbeda Al Capone, berbeda pula dengan Bahasyim Assifie. Bekas PNS Ditjen Pajak pun masih berusaha membela diri kala itu. “Saya bukan mafia pajak. Saya hanya PNS yang kreatif,” ujar Bahasyim waktu itu di PN Jaksel.

Source: http://www.detiknews.com/read/2011/12/02/071947/1780710/10/?992204topnews

One thought on “Cuci Uang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s