Cerai, mau?

Talak adalah sebuah istilah dalam agama Islam yang berarti adalah perceraian antara suami dan istri. Pada zaman sebelum Islam datang ke tanah arab, masyarakat jahiliyah jika ingin melakukan talak dengan istri mereka dengan cara yang merugikan pihak perempuan. Mereka mentalak istrinya, kemudian rujuk kembali pada saat iddah istrinya hampir habis, kemudian mentalaknya kembali. Hal ini terjadi secara berulang-ulang, sehingga istrinya menjadi terkatung-katung statusnya. Dengan datangnya Islam , maka aturan seperti itu diubah dengan ketentuan bahwa talak yang boleh dirujuki itu hanya dua kali. Setelah itu boleh rujuk, tetapi dengan beberapa persyaratan yang berat.

Talak 1, 2, dan 3

Talak satu adalah talak yang dijatuhkan pertama kali oleh suami kepada isterinya. Masa iddah si isteri adalah 3 kali suci (menurut Syafi’iyyah) atau tiga kali haid (menurut Hanafiyyah) (kurang lebih 3 bulan, lihat dalam surat al-Baqarah: 228). Selama masa iddah ini, isteri tidak boleh dandan dulu, dan tidak boleh menerima lamaran orang lain. Apabila sudah habis masa iddah dan si suami tidak rujuk, maka si isteri boleh menentukkan pilihan lainnya, juga boleh menikah dengan yang lainnya.

Talak dua adalah talak yang dijatuhkan oleh suami kepada isterinya untuk yang kedua kalinya. Masa iddahnya sama dengan talak pertama.

Talak tiga, adalah talak yang dijatuhkan suami yang ketiga kalinya. Untuk talak ketiga ini, si isteri masa iddahnya sama dengan talak satu dan dua. Hanya, sekalipun dalam masa Iddah, si suami tidak boleh kembali kepada mantan isterinya itu. Tidak ada rujuk dalam talak tiga. Suami boleh kembali ke mantan isterinya apabila si isteri tersebut sudah menikah
dengan laki-laki lain secara sah, dan keduanya telah berhubungan badan (QS. al-Baqarah: 229, 230). Kemudian apabila ia cerai dengan suami itu, maka mantan suami pertamanya boleh kembali lagi ke mantan isterinya itu.

Masa iddah isteri dikecualikan apabila sedang hamil. Bila sedang hamil, maka masa iddahnya adalah sampai ia melahirkan (QS. at-Thalaq: 4). Demikian juga apabila suaminya meninggal, masa iddahnya adalah 4 bulan 10 hari (QS. al-Baqarah: 234).

Maka berhati-hatilah wahai para suami, jangan mengucapkan kata “cerai” atau “talak” bila sangat emosi. Kata tersebut jika di iyakan dalam hati hanya bisa diucapkan dua kali seumur hidup, yang ketiganya? Harus menikah lagi. Mau?

Advertisements

3 thoughts on “Cerai, mau?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s