mengurus e-KTP

Sabtu 24 maret kemarin, saya ke kantor camat manggala makassar (mencoba) mengurus e-KTP (ktp elektronik). sebenarnya pengurusan e-ktp sudah sejak tahun 2011 lalu, namun saya baru sempat mengurusnya. selain itu, ada kabar bahwa per 1 april 2012 e-ktp tidak gratis lagi dan diharuskan membayar 250 ribu rupiah. entah berita itu benar atau cuma ancaman atau cuma april mop belaka? makanya saya menemukan semangat mengurus e-KTP. daripada bayar?!

saya ke kantor kecamatan membawa ktp asli, fotokopi kartu keluarga, dan surat pemanggilan. di surat pemanggilan ditegaskan bahwa :

sesuai ketentuan yang diatur dalam undang-undang nomor 23 tahun 2006 pasal 64 ayat (3) tentang administrasi kependudukan, bahwa dalam kartu tanda penduduk (KTP) harus disediakan ruang untuk memuat kode keamanan dan rekaman elektronik data kependudukan, olehnya itu disampaikan surat pemanggilan untuk perekaman pasphoto, tanda tangan, sidik jari, dan iris.

katanya, untuk menggenjot pelaksanaan pelayanan e-ktp ini, kantor camat pun buka setiap sabtu-minggu. katanya juga, saat-saat injury time begini orang yang datang mengurus tidak sebanyak awal-awal pengurusan dulu, tidak mengantri lagi. makanya, saya datang mengurus e-ktp hari sabtu ini. namun pukul 9 pagi petugas e-ktp kecamatan belum ada di kantor. katanya lagi (menurut penjaga kantor), biasanya kalau hari sabtu-minggu begini petugasnya datang jam 12 siang apalagi hari kejepit begini (kemarin libur). wah gawat nih, kalau kesabaran saya menunggu sudah habis saya bisa pulang nih. ada beberapa orang warga yang datang dengan niatan sama akhirnya pulang karena malas menunggu.

tapi syukurlah setelah setengah jam menunggu kesabaran saya membuahkan hasil, petugas e-KTP kecamatan datang. jadilah saya orang kedua terlayani karena yang lain telah pulang. orang pertama adalah seorang ibu ditemani suaminya. bukannya karena sabar, tapi si ibu beruntung karena pas datang berbarengan dengan petugasnya. tapi keberuntungan si ibu itu sirna setelah ternyata dia tidak bisa melakukan perekaman e-KTP hari itu. petugas bilang, data kependudukan si ibu yang ada di kartu keluarga belum diaktifkan di kantor catatan sipil. jadilah si ibu mesti mengaktifkannya dulu di kantor catatan sipil (di jalan sultan alauddin, jauh dari kantor camat sekitar 15 km plus macet) baru kemudian dapat melakukan perekaman e-KTP. parahnya, konon proses pengaktifan nomor induk kependudukan (NIK) ini memakan waktu sebulan. soal adanya NIK yang tidak aktif baru saya ketahui, koq ada gitu kartu keluarga yang tidak terdaftar? apakah kartu keluarga tersebut palsu? bisa jadi, yang jelas sepertinya proses mendapatkan kartu keluarga itu dulunya diperoleh dengan cara ilegal. lain lagi dengan penjelasan petugas kecamatan, mungkin keluarga tersebut tidak berada di rumah saat sensus penduduk dulu. entahlah.

karena si ibu batal jadi yang pertama mengurus e-KTP hari itu, jadilah saya yang menggantikan posisinya, buah kesabaran, hehehe… setelah saya, belum ada lagi warga yang mengantri, kantor camat masih sepi-sepi saja.

proses perekaman e-KTP singkat saja. ambil foto, tanda tangan, sidik jari, dan foto mata/ iris. jika lancar, proses berjalan sekira 2 menit saja. betullah kata orang, pembuatan e-KTP sebenarnya antrinya saja yang lama. demikian. untuk memperoleh e-KTP nya akan diberitahukan kemudian.

saya sempat berbincang dengan si petugas mengenai e-KTP ini. katanya, memang proses pembuatan e-KTP sedang digenjot karena masih jauh dari target. sepertinya masyarakat masih enggan datang, dikiranya masih mengantri. padahal saat awal-awal pengurusan, warga antri sejak pagi buta, bahkan ada yang mengantri sejak sebelum subuh, jam 3 pagi! (sepertinya petugasnya lebay). sekarang tidak lagi, malah jam 9 biasanya belum ada warga datang apalagi hari libur, mubazir juga kalau petugas datang jam 7 pagi tanpa ada warga. tidak ada kejadian, katanya. yo wes, sudahlah, yang jelas saya sudah mengurus e-KTP. terima kasih.

bagaimana dengan anda temans, sudah mengurus e-KTP?

Advertisements

One thought on “mengurus e-KTP

  1. Itulah birokrat Indonesia, meskipun mereka dibayar untuk melayani rakyat tapi selalu mengabaikan rakyat yg membayar mereka. Kapan majunya Indonesia kalo begini, gaji saja mintanya terus dinaikin tapi kinerja semakin turun… halah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s