Kisah Bang Maman dan Memori Si Kecil

Hingga saya sebesar ini, walaupun tidak hobi membaca, entah berapa tumpukan buku yang sudah pernah saya khatamkan. Meski saya yakin tidak sebanyak yang readingholic habiskan, saya bangga pernah membaca buku. Namun, dari sekian banyak buku tersebut buku apa yang paling membekas? Saya yakin banyak diantara kita yang menyebut buku di masa kecil akan selalu teringat, walaupun berbentuk buku gambar dan mewarnai. Buku tersebut bagaimanapun jadulnya senantiasa akan kita ingat, membekas di memori kita.

Hal itu karena otak kita dimasa kecil sangat mudah menampung memori apapun, baik-buruk, baik-jahat, akan masuk semua tanpa terkecuali. Orangtua lah yang berperan besar menyaring segala informasi tersebut dengan pendidikan dalam keluarga. Adapun di sekolah, guru bertanggung jawab sebagai pengganti orang tua membentuk karakter anak. Seharusnyalah guru juga berfungsi menyaring segala informasi yang masuk ke otak anak didiknya. Perihal kalau besar nanti si anak menjadi apa, itu persoalan belakang, yang penting adalah usaha menjadikan anak cerdas dengan menjejali otaknya dengan berbagai macam informasi, informasi yang positif tentunya.

Saya masih ingat buku yang saya miliki pra sekolah dulu, buku gambar tipis berkertas putih di dalamnya. Saya ingat, waktu itu bapak (ayah saya) membelikan buku gambar sangat banyak. Saya senang sekali karena tidak “ragu-ragu” lagi harus menghemat lembaran buku gambar tersebut, saking banyaknya. Saya puas coret sana coret sini, gambar sana gambar sini. Gambar yang selalu saya buat adalah gambar pemandangan (yang umum digambar anak-anak seusia saya kala itu yang tidak tahu menggambar) yang ada dua buah gunungnya dengan matahari yang terselip diantaranya, sawah, jalan raya, dan tiang listrik. Sesekali juga saya menggambar superhero Goggle (bukan mesin pencari google), Satria Baja Hitam, atau Kura-kura Ninja. Dengan begitu, buku yang paling saya ingat saat kecil para sekolah adalah buku gambar.

gambar pemandangan anak
gambar pemandangan anak

Saya sendiri sangat ingat buku pertama yang saya miliki (selain buku sekolah tentunya) adalah buku dongeng anak, bergambar yang saya dapat dari guru saat kelas II SD dulu, karena berhasil ranking I di sekolah. Isinya adalah dongeng berisi kisah hidup teladan, agar kita tidak membantah orang tua, disiplin, rajin, menghemat, dan cerita moral lainnya. Buku selanjutnya adalah Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) sebagai hadiah dari guru karena berhasil jadi ranking pertama di sekolah saat kelas IV SD dan sekaligus persiapan mengikuti cerdas cermat tingkat SD.

Semua buku tersebut terekam di memori saya sampai saat ini. Mengingat buku-buku tersebut, saya jadi teringat kebaikan bapak-mamak (orang tua saya) dan guru-guru saya dulu. Betapa mereka ingin saya jadi anak yang pintar, cerdas, dan bermoral baik tentunya.

Pengalaman saya ini sesuai dengan tulisan di VOA, Buku Masa Kecil Umumnya akan Selalu Terkenang. Menurut tulisan tersebut, dari semua buku yang kita baca, mungkin yang paling penting adalah buku yang kita baca dan warnai semasa kecil. Buku-buku itu bisa tetap berada di hati dan pikiran kita selamanya. Susan Stockdale (seorang penulis dan ilustrator buku anak-anak yang pernah memenangkan penghargaan) telah menggunakan karyanya untuk memperkenalkan anak-anak kepada hewan dan alam. Diungkapkan betapa senangnya anak kecil yang dibacakan dongeng sebelum tidur atau mewarnai sebuah buku bergambar. Memori indah masa kecil tersebut akan diingat sang anak sepanjang masa. Dengan pendekatan yang hati-hati pada karyanya, Susan Stockdale terus berusaha menyuguhkan kepada anak-anak hal-hal yang menarik dari alam.

Saya juga jadi teringat buku, yang memuat sebuah tulisan kontroversial Bang Maman dari Kali Pasir dan istri simpanannya. Kontroversial karena buku tersebut dicetak untuk dibaca oleh anak kelas II SD. Saat kelas II SD tersebut saya masih disuguhi dongeng dan kisah yang menggugah hati, bukan cerita perselingkuhan seperti ini. Mungkin sudah banyak dari anda yang membacanya karena sudah tersebar luas di dunia maya.


Saya jadi tak bisa membayangkan, bagaimana jika anak-anak yang telah membaca kisah Bang Maman ini sudah besar nanti. Sungguh saya pastikan mereka akan sangat menyesal pernah mendengar kisah dari buku “sampah” seperti ini. Saya membatin, mengapa pihak penerbit “sebodoh” itu menerbitkan buku dengan isi seperti itu yang anak SMA pun menurut saya tidaklah cocok membaca kisah perselingkuhan seperti itu. Tidakkah mereka berpikir jika suatu saat buku itu akan dikenang oleh anak-anak dan menjadi kenangan yang buruk? “Saat SD kelas II, saya sudah membaca kisah perselingkuhan Bang Maman, yang opa-opa dulu baca kisahnya masih tabu. Hebat bukan?”. Hebat?

Copasan gambar : uniqpost

Advertisements

2 thoughts on “Kisah Bang Maman dan Memori Si Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s