Kisah Sang Ibu yang Melahirkan di Rumah

Sebut saja namanya Isitti, tangannya gemetar memegang perutnya yang sedang kesakitan. Entah sudah berapa jam. Sang suami (sebut saja Enal) dan kelima anaknya hanya melihat tertegun orang yang disayangnya sambil memanjatkan doa-doa. Beberapa saat kemudian, terdengar suara tangis seorang bayi perempuan mungil menyeruak erangan sang ibu. Ya, sang ibu melahirkan di rumah tanpa bantuan petugas kesehatan seperti juga kelahiran lima anak sebelumnya.

Tali pusar si bayi masih ada, maka dipanggillah dukun seberang dusun untuk memotongnya. Beribu jurus kemudian, datanglah sang dukun membawa sebilah bambu. Tanpa sungkan, dengan berbagai jampi dia melaksanakan tugas kesehariannya yang sudah ditekuninya berpuluh-puluh tahun, memotong tali pusar si bayi. Barulah keesokan hari, Bidan ke rumah sang ibu memberikan obat sekaligus pencerahan. Seperti anak-anak sebelumnya, si ibu tak kunjung tercerahkan, tak mau ditolong oleh sang bidan. Alasan klasik, mahal ongkosnya.

Seminggu kemudian si bayi mungil jatuh sakit. Demam dan badan menjadi kaku, diapun kejang bila disentuh atau diterpa cahaya. Sang ibu dan ayah panik, tidak pernah seperti ini sebelumnya. Maka dibawalah si bayi ke puskesmas. Tak ada diagnosa pasti, dokter dan bidan puskesmas menyerah dan menyarankan merujuk si bayi ke rumah sakit di kota. Sang ibu dan ayah menolak, dia memilih menandatangani cap jempol pernyataan menolak rujukan daripada ke kota, alasan yang sama, mahal ongkosnya. Mereka pun pulang ke rumah, masih dengan was-was.

Seminggu berselang si bayi tak kunjung sembuh, sakitnya makin parah, badan semakin kurus. Tak tega melihat ini, kedua orangtua ”terpaksa” minta dokter puskesmas merujuk si bayi ke Rumah Sakit. Namun terlambat, dokter RS mendiagnosa ”Suspek Tetanus Neonatorum” yang menandakan nyawa si bayi sulit tertolong lagi. Namun dengan segala upaya dilakukan agar si bayi tak menemui ajalnya.

—–

* Cerita diatas hanya rekaan belaka.
* Tetanus Neonatorum (TN) adalah setiap bayi lahir hidup umur 3-28 hari sulit menyusu/ menetek, dan mulut mencucu dan disertai dengan kejang rangsang.
* Masihkah ada cerita seperti ini di kampung anda di era Jampersal (Jaminan Persalinan) yang serba gratis?
* Don’t try this at home

Advertisements

4 thoughts on “Kisah Sang Ibu yang Melahirkan di Rumah

  1. I will be speechless. This can be a superb blog site and very enticing too. Fantastic work! Which is now not in reality so much via an beginner publisher at all like me, but it surely’s most I may simply say soon after diving into your posts. Great grammar and vocabulary. In contrast to different websites. You in reality know what you happen to be speaking roughly too. Such a great deal that you made me want to check out more. Your blog post has are a stepping stone to me, my friend.

  2. bruakakak…
    Kirain cerita beneran hadeh.. Udah baca serius2 di bawah tulisannye beda hahay,
    seep mas bro ide kreatif patut di kreasikan bruakakak…
    Nice share sob

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s