“Puru Tanah”, Sang Penyakit Misterius

Matanya masih sembab, sesekali menahan air mata yang masih mau keluar. Kondisi ini sudah berlangsung lima hari, dimulai saat anak perempuannya yang ke-4, Dewi (sebut saja namanya demikian) meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Hari Kamis, delapan hari yang lalu Dewi (perempuan, 13 tahun, kelas 1 SMP) masih ke sekolah walaupun lagi tidak enak badan. Keesokan harinya, demam yang dideritanya semakin parah, disertai nyeri pada perut dan tenggorokannya. Dewi tidak ke dokter ataupun petugas kesehatan di desa (bidan desa yang bertugas di Poskesdes) ataupun ke pak mantri. Kepercayaan keluarganya adalah cukup dengan air jampi-jampi dan air kelapa dengan pertolongan Yang Kuasa, sembuh.

Diagnosa masyarakat bugis tentang penyakit Dewi adalah Puru Tanah. Saya belum pernah dengar penyakit ini sebelumnya. Tapi sakit puru atau biasa juga disebut Sarampa sering saya dengar. Di Sulawesi Selatan, penyakit Puru atau Sarampa sebenarnya adalah penyakit Campak. Mungkin Puru Tanah adalah sejenis Sarampa juga namun dengan tingkatan yang lebih parah. Puru atau Sarampa dalam istilah medisnya adalah Cacar, Varicella, Morbili, atau Campak. Tapi berbeda dengan cacar air, sarampa tidak berair, hanya bercak merah/ruam diseluruh tubuh atau beberapa bagian tubuh saja.

Campak disebabkan virus yang menyerang kekebalan tubuh. Campak adalah demam disertai rash (ruam, bercak merah seperti biji keringat) diseluruh tubuh. Campak dikenal juga dengan sebutan Morbili (Medis), Measles (Inggris), Rubella (Latin), ataupun Puru/Sarampa (Bugis-Makassar).

Kepercayaan masyarakat Bugis-Makassar, sarampa bisa disembuhkan dengan meminum ramuan “kasumba terate”, entah dari tanaman apa, banyak dijual di pasar tradisional Makassar, kalau diseduh seperti air teh. Fungsi kasumba terate adalah mengeluarkan rash dari dalam tubuh, karena jika tidak keluar bisa sangat berbahaya karena menyerang dari dalam, bahkan bisa menyebabkan kematian. Dengan kasumba terate dan jampi-jampi dari orang pintar, puru (bercak merah) akan cepat keluar.

Kepercayaan masyarakat mengenai sarampa antara lain adalah penderita tidak boleh diobati dengan cara modern, apalagi disuntik. Pantangan penderita sarampa adalah tidak boleh kena angin, tidak boleh didekat orang yang sedang menggoreng, dan tidak boleh mandi.

Karena kepercayaan ini, Dewi dirawat dirumah saja, diberi air jampi-jampi dan air kelapa. Tapi sakit Dewi makin parah, demam makin tinggi, sakit perut, dan sakit tenggorokan. Hari Minggu, mukanya membengkak. Senin pagi, muncul bercak merah-hitam ditubuhnya, dan akhirnya jam 10an pagi Dewi menghembuskan nafasnya yang terakhir, tanpa pertolongan tenaga medis.

Keluarga menganggap sakit Dewi parah karena sarampanya tidak keluar. Katanya, menurut pengalaman sebelumnya, orang yang menderita Puru Tanah hidupnya tidak bertahan lama, seperti kondisi pendahulunya (penyakit ini pernah muncul tahun 1997an, merenggut nyawa anak tokoh masyarakat sekitar situ). Entahlah, mungkin Puru Tanah disini berarti Puru yang tidak keluar.

Saya tidak terlalu masalah soal sarampanya, itu sudah biasa terjadi di masyarakat walaupun mestinya dapat dicegah dengan surveilans rutin campak. Yang saya sesalkan adalah tidak tertanganinya penderita oleh tenaga medis, padahal rumah penderita mudah dijangkau, dan dekat dengan Poskesdes. Untunglah penyakit ini tidak mewabah. Setelah dilakukan penyelidikan epidemiologi, tidak ditemukan penderita lain dengan gejala yang sama disekitar tempat tinggal Dewi.

Sudahlah, semoga ini jadi pelajaran berharga agar kita lebih waspada dengan penyakit menular disekitar kita.

Advertisements

One thought on ““Puru Tanah”, Sang Penyakit Misterius

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s