Sejarah, Bahaya, dan Gengsi PIZZA

Anda tentu kenal dengan pizza, makanan khas Italia yang terbuat dari roti tipis bundar dengan taburan berbagai macam bahan makanan diatasnya. Siapa sangka pizza jaman dahulu adalah makanan untuk orang miskin?

Pizza telah dikenal oleh masyarakat zaman kuno yang tentunya berbentuk lain dengan pizza zaman sekarang. Makanan ini berasal dari makanan kaum miskin yang dibuat dengan bahan-bahan yang sederhana dan mudah didapatkan seperti : Tepung terigu, Minyak, Garam dan Ragi. Sejarah Pizza dimulai pada saat orang Yunani yang pertama membuat adonan roti berukuran besar, bulat dan rata dengan menggunakan campuran rempah-rempah dan minyak. Pada saat itu tomat belum ditemukan, sehingga tidak dipergunakan dalam campuran tersebut.

Pizza adalah makanan Italia yang paling termashyur setelah Spaghetti. Konon kabarnya, Pizza-pun punya legenda yang tersebar dari mulut ke mulut dan didongengkan turun-temurun. Alkisah Sejak zaman dahulu, penduduk di sekitar kota Napoli-Italia mempunyai sejenis makanan yang terbuat dari bahan yang sangat sederhana, tetapi lezat. Makanan itu terbuat dari Tepung gandum, yang diuleni hanya dengan air, dibagi-bagi menjadi gumpalan-gumpalan bundar dan digepengkan dengan tangan. Lalu adonan ini dibakar di atas batu yang sudah dipanaskan di bawah terik matahari. Itulah bentuk awal dari pizza. Setelah manusia mempergunakan kayu dan api untuk memasak, mereka menggunakan semacam tungku tertutup, berbentuk setengah lingkaran, dan terbuka di bagian depan. Mereka membakar kayu di dalam tungku dan meletakkan adonan gepeng dan bundar itu di dalamnya. Pada abad ke-16, Benua Eropa mengenal tanaman baru yang berasal dari Peru, yaitu Tomat. Demikan pula kota Napoli segera mengenal tomat dan memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan mereka. Antara lain, yang selama ini menjadi makanan khas rakyat sekitar Napoli, menambahkan variasi baru bagi pizza mereka, yaitu dengan membubuhkan saos yang dibuat dari buah tomat. Ternyata saos tomat itu malah menambah lezatnya Pizza.

Kemudian sejarah menuliskan bahwa pada awalnya Pizza ini adalah makanan khas Italia dari kalangan rakyat jelata yang miskin, Pizza berasal dari pinggiran kota Napoli di utara Italia sekitar tahun 1720. pada saat itu Pizza dianggap sebagai makanan rakyat miskin dan hanya pantas disantap oleh masyarakat miskin. Makanan siap saji ini biasanya dijajakan di jalan-jalan sempit pinggiran kota Napoli, para penjajanya menjajakan dengan cara berkeliling dan berteriak-teriak mencari pembeli. Ada hal yang unik mengenai cara mereka menyimpan Pizza agar tetap hangat, caranya adalah dengan menyimpan Pizza tersebut di dalam sebuah wadah yang terbuat dari tembaga yang disebut Scudo, kemudian wadah tersebut disangga diatas kepala si penjaja.

Pada masa tersebut Pizza tidak pantas masuk ke dalam lingkungan istana kerajaan, karena Pizza dianggap sebagai makanan kelas bawah. Maka karena hal tersebut sang Ratu yang berkuasa saat itu bermaklumat dengan tegas melarang anggota kerajaan dan para bangsawan untuk memakan Pizza ini, karena sang Ratu menganggap apabila menyantap makanan ini bisa merendahkan dan mengurangi wibawa kerajaan.

Namun dibalik Maklumat sang ratu itu, diam-diam sang Raja yaitu Raja Ferdinand I (1751-1825) justru sangat menyukai jenis makanan ini, dan konon karena sangat gandrungnya dengan makanan ini sang Raja sampai menyamar menjadi rakyat biasa hanya untuk pergi ke wilayah kumuh di pinggiran kota Napoli dan menyantap makanan kesenangannya itu. Dan dalam perkembangan selanjutnya sang Raja mengatakan kepada para bangsawan lainnya bahwa Pizza itu tak seburuk yang diduga, ternyata Pizza itu adalah makanan yang sehat dan sangat lezat. Pada awalnya kalangan bangsawan dan istana merasa takut untuk mencobanya karena adanya larangan dari sang Ratu. Namun beberapa orang diantara kalangan istana berani mencoba mencicipi makanan ini dan akhirnya ajakan sang Raja-pun mendapat respon positif dari kalangan istana dan bangsawan, sehingga dengan terbuka merekapun menyatakan bahwa Pizza layak dan dapat masuk dalam kalangan istana dan siapapun dapat menikmatinya. Konon menurut beberapa sumber dikatakan bahwa kemudian cucu Raja Ferdinand I yaitu Raja Ferdinand II memerintahkan untuk membuat pemanggang dengan bahan bakar kayu di kebun istana Capodimonte pada tahun 1832 untuk menjamu para tamu dan bangsawan menyantap Pizza.

Kisah lain menceritakan bahwa Pada abad ke 18, jenis roti ini dikenal di Italia serta dijual di jalan-jalan dan pasar dengan nama ‘Pizza’. Pizza pada saat itu tidak mempunyai toping apapun melainkan hanya seperti roti tawar berbentuk bulat. Roti ini sangat mudah dibuat dan biayanya murah, karena itu kebanyakan dijual ke orang-orang miskin di daerah Naples.

Pada sekitar tahun 1889, Ratu Margherita dengan ditemani oleh suaminya Umberto I, melakukan perjalanan mengelilingi kerajaan Italia. Pada saat perjalanannya itulah, ia melihat banyak sekali orang yang makan roti berbentuk besar, bulat dan rata ini, terutama kaum petani. Karena penasaran, sang ratu memerintahkan pengawalnya untuk membeli roti tersebut, ternyata sang ratu sangat menyukainya sehingga setiap kali keluar kerajaan, maka ia akan makan roti tersebut. Hal ini menjadi bahan pembicaraan di kalangan kerajaan, karena mereka menilai sangat tidak pantas bagi seorang ratu untuk makan makanan kaum petani.

Ratu Margherita tidak memperdulikan protes kalangan istana, bahkan ia khusus mendatangkan Koki Rafaelle Esposito yang paling terkenal dengan Pizza-nya dan mempekerjakannya di istana untuk membuat berbagai macam Pizza sesuai dengan keinginan sang ratu. Koki Rafaelle Esposito membuat pizza special untuk sang ratu dengan menggunakan berbagai macam topping seperti Tomat, Keju Mozzarella, dan Daun kemangi segar, Pizza tersebut berwarna merah, putih dan hijau (sesuai dengan warna bendera Italia). Pizza ini kemudian menjadi Pizza favorit sang ratu dan dinamakan Pizza Margherita, karena sang ratu sangat menyukai Pizza maka Ia-pun menjadi sangat populer di kalangan rakyat Italia. Setelah itu Pizza pun menjadi semakin populer di seluruh Italia, dan mulai dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat. Jenis toppings Pizza dikembangkan oleh masing-masing daerah sehingga semakin banyak dan beraneka ragam.

Demikianlah sepenggal kisah tentang makanan yang disebut Pizza, makanan yang dulunya adalah makanan kaum miskin yang pada perkembangannya sekarang telah mendunia dengan cita rasa khas-nya, bahkan konon di Italia sendiri saat ini terdapat kurang lebih 30,000 kedai Pizza.

Sekarang, pizza menjadi makanan favorit orang-orang kota, orang-orang kaya, dan menjadi tren gaya hidup. Bagi saya pizza adalah makanan mewah, bisa dikatakan demikian karena tidak tiap minggu atau bulan saya makan pizza. Kecuali ada anugra (anu gratisan) seperti acara traktiran atau menang taruhan. Lihatlah di mall-mall di Indonesia (khususnya Makassar), orang-orang mengantri demi membeli dan mencicipi sepotong pizza. Harganyapun lumayan mahal, paling murah 20 ribuan per pieces. Seperti hari ini, saya berkewajiban mentraktir istri tersayang karena kalah taruhan, Belanda kalah di Euro 2012. Bayarannya tak tanggung-tanggung, 200 ribuan lebih untuk sekali makan, sepuluh persen dari gaji saya. Jadilah saya mesti ngutang, bayar dengan kartu kredit, walaupun diskonnya lumayan (20%), tetap saja mahal.

Walaupun termasuk junk food dan makanan berbahaya dikonsumsi berlebihan, orang-orang tak kapok mengkonsumsinya. Selain menggemukkan, ternyata pizza adalah sumber garam yang membahayakan. Meski rasa asinnya tidak mencolok, kadar garamnya sangat tinggi. Bahkan, penelitian terbaru mengungkap bahwa asinnya pizza mengalahkan kadar garam di laut Atlantik.

Consensus Action on Salt and Health (CASH) dan Association of London Environmental Health Managers (ALEHM) mengadakan survei tentang kandungan garam dalam pizza di Inggris. Peneliti menganalisis 199 buah pizza margherita dan pepperoni takeaway, dari restoran, dan yang dijual di pasar swalayan.

Angka mengejutkan pun diperoleh. Berdasarkan berita yang dilansir The Telegraph, pepperoni pizza dari restoran Adam & Eve di London mengandung 2.73 gram garam per 100 gram pizza. Sebagai perbandingan, per 100 gram air laut Atlantik saja hanya terdiri dari 2.5 gram garam.

Kandungan garam tertinggi terdapat pada pizza takeaway. Setengah dari jumlah pizza yang disurvei mengandung garam sebanyak jumlah rekomendasi harian, yaitu 6 gram. Dibanding pizza yang dijual di supermarket, pizza takeaway mengandung garam 2.5 kali lebih banyak. Tak hanya itu, sebanyak 84% pizza takeaway juga mengandung lemak trans.

Departemen kesehatan Inggris membuat target untuk dicapai pada akhir 2012 ini, yaitu maksimal 1.25 gram garam per 100 gram pizza. Sayang, hanya 16% pizza takeaway yang sesuai aturan tersebut. Sementara itu, tiga dari empat pizza supermarket telah mematuhi kebijakan ini.

Meski kadar garamnya lebih sedikit dibanding pizza takeaway, pizza dari supermarket masih dianggap tidak sehat. Berdasarkan survei, tidak ada pizza swalayan yang rendah garam, lemak, atau lemak jenuh.

“Perbandingan pizza dengan air laut digunakan agar konsumen sadar akan jumlah garam yang sangat besar dalam makanan,” ujar Profesor Graham MacGregor, ketua CASH. Menurut pria ini, pemerintah kurang memerhatikan jumlah garam dalam sektor takeaway.

“Garam bisa mempertinggi tekanan darah dan menyebabkan stroke. Mengurangi asupan garam dapat menyelamatkan ribuan orang dari bahaya penyakit tersebut,” jelas Profesor Graham.

Menanggapi temuan ini, pihak restoran Adam & Eve berterima kasih kepada CASH. “Kami tidak sadar akan tingginya kadar garam dalam pizza kami akibat kombinasi bahan-bahan tradisional tertentu,” tutur Gareth Leakey, manajer restoran tersebut. Merekapun mengubah resep dan meminta pemasok mengurangi kadar garam agar sesuai dengan jumlah yang disarankan.

Survei ini diselenggarakan setiap tahun sebagai bagian dari Salt Awareness Week. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya asupan garam yang berlebihan.

Bagaimana, masih suka makan pizza berlebihan??

Copasan :
http://m.detik.com/read/2012/03/27/092301/1877221/900/kadar-garam-pizza-lebih-tinggi-dari-garam-di-laut-atlantik
http://www.smartnewz.info/2011/07/fakta-menarik-tentang-makanan-pizza.html?m=1

Advertisements

3 thoughts on “Sejarah, Bahaya, dan Gengsi PIZZA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s