Ngaret, Paling Indonesia

Pernahkah anda telat? Seperti telat ngantor, telat rapat, telat sekolah, telat kuliah, telat ke kawinan, telat makan, telat tidur atau telat-telat lainnya? Tentu saja pernah. Jika anda tinggal di Indonesia, saya tambah yakin anda bahkan sering telat, sebagaimana saya yang hampir tiap hari telat ngantor tapi tidak telat pulang.

Telat bisa dikatakan telah membudaya, bahkan mendarah daging ditubuh kita, rakyat Indonesia. Entah dengan rakyat negara lain, walaupun saya baru sekali merasakan yang namanya luar negeri, sungguh saya rasakan budaya disiplin, tidak telat, tidak ngaret sangat jauh dari budaya masyarakat kita. Kunjungan ke Jepang tepat setahun lalu mengubah persepsi saya tentang waktu, tentang disiplin. Entahlah, mungkin saya keliru mengambil perbandingan antara budaya Jepang dan Indonesia yang sangat jauh berbeda.

Telat adalah bahasa gaul dan ringkas dari kata terlambat, sedangkan Ngaret dari kata “karet”. Kalau telat biasanya tidak disengaja, penyebabnya karena keadaan diluar kemampuan kita, Ngaret lebih ke kesengajaan, dari dalam pribadi kita. Sehingga, ngaret bisa menyebabkan telat dan tidak untuk sebaliknya.

Sifat dasar bahan karet adalah elastis, fleksibel, tidak kaku, berubah-ubah. Seperti asal katanya, Ngaret adalah istilah bagi ketidaktepatan waktu, atau dengan kata lain terlambat karena mengulur-ulur waktu atau malas. Jam adalah penunjuk waktu, sangat tegas dan nyata namun kalau waktu bisa difleksibelkan, molor sebagaimana karet, itulah dinamakan jam karet atau Ngaret.

Menurut saya budaya yang paling Indonesia adalah budaya telat dan ngaret. Mengapa? (Mungkin) dari Sabang sampai Merauke, seantero Nusantara telah terkontaminasi budaya ini. Seingat saya walaupun sedang pertemuan di pusat atau bawah pusat (daerah), selalu saja ngaret merajalela. Telat, molor, fleksibel adalah ciri utama pertemuan di Indonesia. Jangan dikata masalah delay nya penerbangan, hingga molornya kegiatan pembukaan suatu acara yang dibuka presiden pun, hampir pasti ngaret!! Sebagian kecil orang-orangnya saja yang anti telat dan ngaret. Sudah jamak ditemui suatu kegiatan diulur waktunya hampir diseluruh wilayah Indonesia.

Contohlah di Jepang sana, saat pelatihan setahun lalu, telah ada jadwal pasti mengenai aturan materi pelatihan sampai durasinya. Bahkan waktunya sangat detail. Misal disana waktu materi mulai pukul 9.05 sampai 10.35, instruktur akan masuk tepat waktu pukul 9.05 (bukan jam 9.00 atau jam 9.10) dan akan keluar pukul 10.35 walaupun ada banyak pertanyaan dari peserta diskusi. Penghargaan mereka (orang Jepang) akan waktu direalisasikan dengan disiplin, tidak ngaret. Beda dengan kita di Indonesia, taruhlah acara pembukaan suatu kegiatan sudah terjadwal, pukul 14.00, realisasinya bisa molor hingga pukul 19.30, canggihnya, itupun masih disertai dengan pemakluman, peserta kegiatan sudah paham, ini Indonesia bung, telat dan ngaret sudah biasa.

Telat dan Ngaret terkait erat dengan profesionalisme. Kalau di luar negeri sana seperti di Jepang orang yang sering telat dan ngaret dianggap tidak profesional, di Indonesia orang yang sering telat atau ngaret malah dianggap profesional. Yang lebih profesional lagi adalah manajemen ngaret. Ngaretnya orang-orang diatur sedemikian rupa sehingga kegiatan yang di-ngaret-i tetap bisa berjalan, syukur-syukur berjalan sukes, lancar, dan tanpa kendala. Profesional bukan?

Sangat jarang kita temukan orang-orang yang anti ngaret atau yang memerangi ngaret di negeri ini, kecuali orang-orang yang dapat hidayah dan pencerahan. Malah, orang yang anti ngaret tapi masih kelas pesuruh dan bawahan, jika boss nya ngaret akan ikut arus budaya ini. Ngaret Wave, seperti halnya K-Pop Wave telah menyebar luas di negeri ini.

Contoh paling sederhana dari ngaret, kalau kita janjian ketemuan sama orang Indonesia sebaiknya mengatakan jam lebih awal dari yang sebenarnya. Karena prinsip orang Indonesia adalah “pasti yang lain ngaret!” dengan begitu kita semakin tidak akan pernah bertemu dengan orang yang tidak ngaret karena semua orang Indonesia berprinsip demikian. Jika anda mengatakan akan bertemu jam sembilan pagi itu artinya jam sepuluh pagi yang sebenarnya. Sebab, orang Indonesia menganggap jam sembilan pagi adalah waktu keluar dari rumah. Padahal semestinya jam sembilan pagi harusnya sudah ada di tempat tujuan.

Namun ada alasan kenapa telat dan ngaret tumbuh subur di Indonesia. Alasan utama telat karena semua yang ada di Indonesia itu unpredictable, tidak dapat diprediksi atau diperkirakan. Contohnya kita tidak akan pernah bisa mengira-ngira berapa waktu yang diperlukan untuk pergi ke suatu tempat (misalnya waktu dari rumah ke tempat kerja) walaupun perjalanannya dirasakan hampir tiap hari. Sangat sulit untuk memprediksi berapa waktu yang kita butuhkan untuk itu. Kenapa? Karena banyak sekali halangan yang akan terjadi ketika kita sudah berada di jalan. Misalnya macet untuk yang berangkat dengan kendaraan pribadi ataupun sopir angkot lelet menunggu penumpang bagi yang bepergian dengan angkot.

Tetapi, lihatlah ke negeri lain yang lebih menggunakan bis atau busway atau kereta listrik sebagai sarana angkutan umum daripada kendaraan pribadi. Tidak ada istilah busway dan kereta listrik menunggu penumpang, yang ada adalah penumpang yang menunggu bahkan mengejar. Penggunaan jenis kendaraan seperti itu lebih predictable, dapat diperkirakan dibandingkan dengan angkotnya Indonesia. Sewaktu di Tokyo tahun lalu, saya lihat orang Jepang lebih memilih memarkir mobil mewahnya di rumah dan ke kantor naik kereta bawah tanah diselingi jalan kaki karena kereta listrik sangat tepat waktu. Orang sana pun lebih mendeskripsikan jarak dalam satuan waktu saking tepat waktunya. Kalau kita orang Indonesia bertanya pada orang Jepang “berapa jarak kota A ke B?”, maka jawabannya adalah “sekian menit. Sekian menit jalan kaki ditambah sekian menit naik kereta”, yang kalau orang Indonesia ditanya pasti jawabannya “sekitar sekian kilometer”. Selain faktor malas, faktor unpredictable itulah menurut saya penyebab ngaret dan telatnyanya orang Indonesia.

Telat dan Ngaret telah menjadi bagian dari budaya Indonesia yang tidak mencerminkan kedisiplinan masyarakat Nusantara. Anda belum menjadi masyarakat Indonesia sejati kalau belum pernah merasakan yang namanya telat, atau berperilaku ngaret. Anda boss maka anda lebih berhak ngaret, dan masih dianggap profesional. Meskipun demikian, budaya ngaret sama sekali tidak membanggakan dan harus dikikis sampai hilang. Ngaret bukanlah hal yang baik untuk dilestarikan. Semua hal yang bisa membuat kita telat dan ngaret seharusnya bisa disiasati dengan baik. “Lebih baik menunggu daripada ditunggu” adalah prinsip yang harus kita lestarikan bersama untuk mengikis habis budaya ngaret, walaupun kebanyakan dari kita masih memegang prinsip utama “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”.

Aku telat maka aku ada, Aku ngaret maka aku Indonesia.

Advertisements

6 thoughts on “Ngaret, Paling Indonesia

  1. aaaaaahh.. artikel anda sangat menarik. sangat relevan dengan keadaan indonesia yang sangat menghargai budaya “ngaret”

    apakah artikel ini menang di lomba blog juli kemarin? saya harap anda juara utama 🙂

  2. Permisi temen2, mungkin temen2 disini ada yg dah pernah nyobain game online MMORPG PUTRA LANGIT ??, jadi gini aku baru-baru ini main game gokil keren ini neh – PUTRA LANGIT ONLINE – dah nyobain wa waktu itu pas masa alpha test gameplay-nya addicted banget loh banyak fitur menarik, klo mo tau lebih lanjut masuk aja fanspagenya di -> http://www.facebook.com/putralangit.online, dan MICROSITE-nya => http://putralangit.capple.net/microsite/ , game ini diangkat dari komik terkenal TONY WONG “LEGENDA PUTRA LANGIT” yang terkenal itu loh, cekidot aja biar lebih jelasnya di link2 yg ane kasih klo suka jangan lupa di like yo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s