Fenomena Penulis Bayangan Dibalik Buku Si Anak Singkong

Beberapa hari ini, berita heboh peluncuran buku Biografi Chairul Tanjung, si Anak Singkong, pemilik CT Corp (Bank Mega, Trans TV, Trans7, Trans Studio, dll) menyeruak di media, utamanya media sosial Twitter. Bukan soal laku kerasnya buku di pasaran, tapi pengakuan seseorang bahwa dialah sebenarnya sang penulis buku, bukan si penulis terkenal yang tercantum di sampul buku.

Hasil googling sipemimpi, singkat ceritanya seperti ini. Setahun lalu Chairul Tanjung (CT) berniat membuat buku biografinya sebagai ajang pencitraan, menarsiskan diri. CT minta jasa temannya, Tjahja Gunawan Adiredja (TGA), seorang wartawan senior media tersohor -Kompas, untuk menulis bukunya. Karena sibuk, TGA meminta jasa Inu Febrina (IF) untuk menulis buku pesanan CT. IF mengiyakan dengan syarat belanja modal disediakan TGA, royalti urusan belakang. Belakangan IF, atas permintaan ibundanya meminta namanya dicantumkan dalam sampul buku CT sebagai penulis, minimal asistenlah. Singkat cerita dengan perjuangan berat akhirnya buku selesai dibuat oleh IF tepat pada waktunya. Namun permintaan agar namanya ada di sampul buku tidak dikabulkan, bahkan IF tidak diundang dalam peluncuran buku. Marahlah IF kepada TGA dan membongkar kasus ini lewat media sosial Twitter. Hebohlah kisah penulis bayangan buku CT si Anak Singkong, si penulis siluman, the Ghost Writer.

Kisah lengkapnya dapat dibaca disini.

Si Pemimpi tersontak, sesadis itukah dunia kepenulisan hari ini? Si Pemimpi yakin banyak penulis bayangan yang tidak terekspose kisahnya, sekuat penulis terkenal menutup rapat pembantu penulisan bukunya. Yah itulah realitasnya, makanya jangan langsung percaya jika ada nama penulis dicantumkan dalam buku tapi sebenarnya bukan dia si penulis aslinya, sangat mungkin dia dibantu oleh seorang atau beberapa penulis bayangan.

Penulis bayangan atau penulis siluman adalah penulis profesional yang dibayar untuk menulis buku, artikel, cerita, laporan, atau teks lain yang secara resmi dikreditkan ke orang lain. Selebriti, eksekutif, dan para politisi sering menyewa penulis bayangan untuk menulis draf atau menyunting otobiografi, artikel majalah, atau bahan tertulis lainnya.

Penulis bayangan mungkin memiliki berbagai tingkat keterlibatan dalam pembuatan sebuah karya, sedangkan beberapa penulis bayangan dipekerjakan untuk menyunting dan membersihkan draf kasar. Dalam kasus lain, Penulis bayangan melakukan sebagian besar penulisan berdasarkan sebuah garis besar yang diberikan oleh penulis yang akan diakui secara resmi. Dalam beberapa proyek karya tulis, penulis bayangan akan melakukan penelitian mendalam, contohnya saat seorang penulis bayangan dibayar untuk menulis sebuah otobiografi untuk orang terkemuka. Penulis bayangan juga dibayar untuk menulis cerita fiksi dengan gaya penulis yang diakui secara resmi, seringkali sebagai cara untuk meningkatkan jumlah buku yang dapat diterbitkan oleh penulis populer. Penulis bayangan akan sering dapat menghabiskan waktu dari beberapa bulan sampai satu tahun penuh untuk meneliti, menulis, dan menyunting karya non-fiksi untuk klien, dan mereka akah dibayar per halaman, dengan biaya rata, atau persentase dari royalti penjualan karya tulis, atau kombinasi cara-cara tersebut. Penulis bayangan kadang-kadang akan diakui secara resmi oleh penulis atau penerbit untuk jasanya menulis.

Seorang konsultan atau penasehat karier mungkin akan membayar untuk mendapat sebuah karya tulis ditulis secara bayangan tentang topik di bidang profesional mereka, untuk membangun atau meningkatkan kredibilitas mereka sebagai ‘ahli’ di bidangnya. Pejabat umum dan politisi mempekerjakan perwira korespondensi untuk menanggapi besarnya jumlah volume korespondensi mereka. Beberapa ensiklik kepausan tercatat telah ditulis oleh penulis-penulis bayangan. Di bidang medis, perusahaan farmasi akan membayar penulis profesional untuk menghasilkan karya ilmiah dan kemudian membayar dokter atau ilmuwan lain atau melampirkan nama mereka pada karya ilmiah ini sebelum diterbitkan dalam jurnal medis atau sains.

Pada tahun 2000-an, sebuah tipe baru penulis bayangan yang berkembang sebagai “web log”, atau “blog” menjadi populer: “Penulis bayangan blog”. Perusahaan atau organisasi yang berharap untuk mendapat ketertarikan publik pada situs blog mereka kadang-kadang menyewa penulis bayangan untuk mengirim komentar ke blog mereka, di mana mereka mengambil peran sebagai orang yang berbeda dan menggunakan nama samaran. Banyak murid perguruan tinggi dan mahasiswa universitas menyewa penulis bayangan dari pabrik esai untuk menulis esai kelayakan masuk, makalah, tesis dan disertasi.

[wikipedia]

Fenomena penulis bayangan ini sebenarnya lekat di kehidupan kita, terutama di dunia pendidikan, khususnya lagi di dunia kampus. Lihat saja jasa penulisan dan penyusunan penelitian skripsi dan tesis, kebanyakan yang berdarah-darah menuntaskannya adalah mahasiswa dan dengan seenak perutnya sang dosen pembimbing mencantumkan namanya pada sampul buku bila penelitiannya bagus dan dibuatkan bukunya. Kebanyakan si mahasiswa yang setengah hidup mengerjakan penelitian di lapangan hingga menyusun tulisan tidak dicantumkan namanya, lebih ekstrim lagi bila tidak diberikan royalti atas hasil penjualan bukunya. Mau contoh nyata lagi? Lihat saja jasa penulisan di tempat pengetikan komputer, bedanya jasa penulisan komputer tidak perlu berpikir keras mengenai materi tulisan, cukup salin lurus saja dengan bayaran beberapa ribu rupiah per lembar kertas. Setelah dibayar, habis perkara, namun tetap saja ini disebut the Ghost Writer, si Penulis bayangan. Belum lagi soal maraknya kepala daerah (di Sulawesi Selatan, Makassar) menulis buku, disela tugasnya, apakah sang kepala daerah punya waktu untuk menulis buku? Mungkin dia menyewa jasa penulis bayangan.

Akhirnya, apakah anda tahu profesi the Ghost Writer, Penulis Bayangan? Ataukah anda sendiri adalah seorang GW? Akh, si Pemimpi jadi tertarik nonton film THE GHOST WRITER yang rilis tahun 2010 silam, sepertinya filmnya menarik. Semangat berkarya…

Copasan: wikipedia

Advertisements

6 thoughts on “Fenomena Penulis Bayangan Dibalik Buku Si Anak Singkong

  1. Terlepas dari etis atau tidaknya, seharusnya ada kesepakatan yang matang terlebih dahulu antara si ghost writer dengan yang hendak menggunakan jasanya. Di kasus bukunya CT, sebetulnya saya bukan mau permasalahkan etis atau tidaknya IF yang tidak dicantumkan … Tapi, masalahnya adalah komitmen yang dibangun antara IF dan TGA. Kalau benar, TGA sepakat mencantumkan IF dan ternyata tidak, berarti ia sudah membohongi. Tapi, kalau memang di awal tidak ada kesepakatan bahwa IF harus dicantumkan dan kemudian IF memblow up, dia yang sudah keliru.

    Ghost writer kan bukan fenomena baru di dunia penerbitan. Hanya saja perannya sering disamaratakan dengan para joki skripsi/tesis. Ghost writer punya ‘aturan main’ yang berbeda dengan para joki. Ini setahu saya aja lho hihihi :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s