Senyum Kecut, Senyum Kekalahan

Pilkada Gubernur DKI Jakarta berlangsung hari ini. Hasilnya? Jokowi unggul pada perhitungan cepat dengan perolehan 42% suara, mengungguli incumbent Foke sekitar 10% di bawahnya. Walaupun belum final, perolehan ini mengejutkan kubu Fauzi Bowo yang menggadang-gadang pilkada gubernur satu putaran saja. Kekalahan yang memalukan bagi seorang incumbent.

Lalu apa lacur? Senyum di bibir Foke yang selama ini tersembunyi di balik kumisnya semakin kecut. Memang selama ini saya jarang melihatnya tersenyum, kecuali saat kampanye, itupun dengan senyum yang terkesan dipaksakan. Dibalik karakter emosionalnya, sepertinya Foke tidak berbakat untuk tersenyum, apalagi tersenyum manis. Itulah yang sempat saya lihat di tv sore tadi, wajah foke tampak tegang mengetahui hasil quick count. Bibir di balik kumisnya yang selama ini tersenyum jauh dari kesan sumringah, semakin kecut karenanya.

Mimik wajah yang dipancarkan dari senyuman menggambarkan dengan jelas kondisi psikologis seseorang. Walaupun bukan ahli psikologi, kita kebanyakan tahu mana senyum kebahagiaan, dan dapat membedakannya dengan senyum kesedihan atau kekalahan. Namun dengan karakter wajah Foke yang sangar, sangat jarang tersenyum, kita akan sulit menebak suasana hatinya apakah lagi senang atau sedih. Saya lalu membayangkan saat Foke bekerja, jadi gubernur, sungguh tertekan bawahannya dalam menghadapi karakter seperti ini. Kalau jadi bawahannya, mungkin sudah jauh hari saya minta dimutasi, secara fisik jauh darinya. Nah, sore tadi saya lihat di tv, Foke tersenyum walaupun dengan senyum sangat kecut.

Coba anda lihat foto Foke dengan pakaian dinas gubernur, senyumnya sungguh jauh dari kesan manis. Bisa anda bayangkan senyumnya sekecut apa sore tadi?

Saya pun demikian, senyum saya jauh dari kesan manis, saya tidak berbakat tersenyum manis. Hanya senyum kecut dan dipaksakan yang senantiasa menghias wajah ini. Apalagi hari ini, saya hanya bisa tersenyum kecut dalam hati karena beberapa hal. Kalah dalam lomba menulis blog, dan merasa kalah dengan keadaan.

Ya, hari ini pengumuman lomba blog paling Indonesia kerjasama Telkomsel dan komunitas blogger Makassar Anging Mammiri. Walaupun tulisan yang saya ikutsertakan di blog ini tidak terlalu saya harapkan juara, namun entah mengapa saya bolak-balik buka blog angingmammiri sejak tanggal 9 Juli lalu sekedar melihat pengumuman. Hadiah iPhone 4S bagi sang juara membuat saya tergiur, pun kalau tidak juara, masak juara hiburan pulsa 500 ribu juga tidak didapat? Dan akhirnya, pengumuman pemenang hari ini, beberapa kali membaca pengumuman nama saya tetap tidak ada di daftar pemenang. Dan saya pun sadar, saya gagal menang lomba blog untuk sekian kalinya. Tapi saya mengakui kekalahan ini, tulisan juara memang layak jadi pemenang, sangat jauh diatas kualitas tulisan saya. Memang saya tidak mempersiapkan dengan baik tulisan yang saya ikutsertakan dalam lomba tersebut, selain kualitas kepenulisan saya memang masih di kelas abal-abal. Tapi tetap ada sedikit senyum sebagai pembenaran tulisan saya, sang juri pun ngaret dalam mengumumkan sang pemenang yang serta-merta membenarkan tulisan saya tentang Ngaret yang paling Indonesia. Sedikit senyum kecut kekalahan saja di awalnya, dan saya tetap tidak patah arang melanjutkan hobi nyeleneh ini, menulis abal-abal.

Senyum kekalahan yang lain? Sudahlah, nyesek dada ini mengingatnya.

Advertisements

One thought on “Senyum Kecut, Senyum Kekalahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s