Andai Pahala dapat Dikorupsi

Shalat Jumat hari ini telah kulaksanakan, tersiar kabar seminggu lagi masuk bulan Ramadhan, kalau bukan hari Jumat, Ramadhan hari pertama jatuh pada hari sabtu. Bulan Ramadhan, bulan yang ditunggu-tunggu kehadirannya bagi si takwa atau yang berproses serius kesana. Aku yakin hampir semua khutbah Jumat di masjid bertema sama, menyambut bulan Ramadhan, sebagaimana judul khutbah Jumat tadi.

Aku membatin, mengingat-ingat kembali Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Seandainya tak ada bulan Ramadhan, apakah aku tetap seperti ini? Maksudnya, sepanjang ingatku Ramadhan tiap tahun begitu-begitu saja; ramai sebelum Ramadhan, semangat di hari-hari pertamanya, kendur di akhir-akhirnya, dan kembali lagi berulah nakal beberapa hari selepasnya. Mengapa ini terjadi berulang padaku tiap tahunnya? Analisis abal-abalku, si tertuduh yang menjadi penyebabnya adalah janji-janji materialis pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan.

Teringat saat kecil dulu, disuruh guru mengisi buku amaliyah Ramadhan yang isinya ritual ibadah di bulan Ramadhan, mulai puasa, shalat tarwih, hingga tadarusan dan hafalan surat pendek. Saya rajin dan jujur, yang terisi sesuai fakta di lapangan, entah dengan teman sepermainan lainnya yang selalu penuh isi bukunya padahal setahuku dia malas ke masjid bahkan sering berbuat onar. Disinkronkan dengan ceramah tentang pahala di bulan Ramadhan yang cenderung bombastis, aku dengan lugunya ikut mengharap pahala berlipat dari ritual tersebut. Mengharap banyak pahala berefek surga dan terjauh dari ancaman api neraka. Tidak heran, dulu aku rajin beribadah di bulan Ramadhan.

Itu dulu, sekarang saat usia matang memiliki anak, tidak ada lagi buku amaliyah Ramadhan, yang ada hanya keikhlasan melaksanakan ritual ibadah tersebut. Makanya kalau Ramadhan tiba, seperti hari-hari biasa lainnya, tidak ada yang berubah kecuali puasa menahan lapar dan dahaga. Kalau siang puasa, shalat tetap 5 waktu, tadarusan seadanya, memilih tidur daripada tarwih, dan hal biasa lainnya. Walau demikian, nilai-nilai kapitalis Ramadhan yang tertanam sejak dulu masih teringat. Janji-janji amal pahala yang berlipat, berpuluh, bahkan beratus kali lipat masih kuyakini hingga sekarang. Makanya, kadang juga aku “rajin” melaksanakan ritual ibadah jika sedang “sadar”.

Menurutku bukan soal amalan berlipat tersebut, namun efek sifat materialistis yang dihasilkannya sangat merusak batin. Bagaimana tidak, kadang bahkan selalu saja ibadah yang dilaksanakan dasar utamanya adalah soal memperoleh pahala yang banyak, persoalan keridhaan sang Pencipta hanyalah urusan kesekian. Padahal soal pahala adalah urusan pribadi si empunya amal dengan Tuhannya, dan masih ada faktor lain yang mempengaruhinya seperti persoalan ikhlas, pamer, dan lainnya. Itulah yang kusebut efek kapitalis Ramadhan, berlomba-lomba mendapatkan materi abstrak berupa pahala, selain kecintaan dan keridhaan Tuhan.

Sifat materialistislah salah satu yang membuat kita berperilaku alim sesaat saat Ramadhan menjelang hingga hari-hari awalnya, namun kembali nakal saat Ramadhan meninggalkan kita. Aku membatin, bagaimana seandainya pahala tersebut berwujud materi, minimal dapat dihitung? Mungkin sudah ada yang memperjualbelikan pahala Ramadhan, dia yang melakukan ibadah namun pahalanya dijual ke orang lain. Bahkan sangat mungkin ada yang mengkorupsi pahala, uang saja bisa di korupsi apalagi pahala.

Sudahlah, mungkin cara transfer ilmu kita akan amal ibadah, pahala, dan keridhaan Tuhan perlu diubah demi mental anak cucu kita kelak. Tidak melulu mengharap pahala berefek surga, namun semata-mata keridhaan Sang Pencipta. Akh, aku jadi teringat lirik lagu Chrisye, Jika Surga dan Neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya?? Semangat menyambut Ramadhan, semoga kita mendapat Ridha dan Cinta-Nya dalam meraih Taqwa.

Advertisements

3 thoughts on “Andai Pahala dapat Dikorupsi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s