Banjir, Basa Mami

Memasuki tahun 2013, hujan seakan enggan menggerimis, alih-alih reda dan berhenti turun. Selepas kembang api terakhir perayaan tahun baru, sang hujan merangsek turun membasuh bumi, seakan meminta jatah yang selama ini sedikit dia tahan. Seperti biasa, Makassar, kota yang lagi imut-imutnya menggeliat bertumbuh tak kuasa menahan sunnatullah turunnya hujan, banjir. Tak pentinglah menuduh siapa yang salah, namun seperti biasa pula, rakyat jelata yang kebanjiran hanya bisa mbatin. London dan Jakarta saja banjir, apalagi Makassar ji.

Hari ini, hujan mengguyur Makassar sepanjang siang. Jadilah air masuk ke rumah sejak sore. Rumahnya lebih rendah daripada jalan. Bedanya, tahun-tahun sebelumnya jika hujan reda air banjir juga surut, tidak ditahun ini. Konon, bendungan Bili-Bili yang dibuka karena takut jebol menjadi penyebab tak surutnya banjir. Sampai malam air tak juga surut. Beruntung kami masih sebatas mata kaki, di kompleks sebelah sudah se mata hingga penghuninya harus dievakuasi.

Seumur-umur baru kali ini kaki saya terendam air cukup lama, karena banjir. Semoga tidak kena muntaber, leptospirosis, atau penyakit banjir lainnya. Kaki benyek contohnya, atau dicapit lipan, dipatuk ular air. Sungguh 2013 disambut dengan air, basah, hujan, dan banjir. Banjir? Basa mami.

2 thoughts on “Banjir, Basa Mami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s