Kebanjiran? Tak Usah Cengeng

Hari ketiga, PMI masih kebanjiran. Air masih sebatas mata kaki, kadang naik jika hujan deras lagi, dan sangat lambat surut. Seisi rumah hanya bisa mbatin, sambil berdoa hujan deras tidak turun. Saya pun sudah mulai menderita penyakit akibat banjir, gatal-gatal, tangan dan kaki memerah dengan benjolan kecil. Untunglah persediaan obat masih ada, minyak kayu putih dan CTM, dioleskan dan diminumkan istri tersayang. Tak banyak mengeluh kepada pemerintah, ini musibah. Padahal kami tahu tak ada walikota Makassar hari ini, beliau sedang berkampanye mendulang pengikut di daerah lain, mau jadi gubernur. Bagaimana dengan pak gubernur? Sama saja, berkampanye entah dimana untuk jadi gubernur. Malah mungkin tenda-tenda pengungsian sudah penuh spanduk kampanye. Kami tak banyak mengeluh, semoga bukan karena apatis, sudah tahu pemimpin kota ini tak mampu berbuat banyak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Terbaca kabar di linimasa dan media sosial online lainnya, Kabupaten Maros -tetangga kota Makassar, tempat saya mencari nafkah- telah terendam banjir. Kantor bupati yang saya anggap cukup tinggi muncul di dunia online dengan wajah lain yang dipenuhi air. Sehari sebelumnya, kecamatan Camba yang di atas gunung sudah lebih dahulu terendam air. Jalan poros penghubung antara Makassar-Maros-Bone lumpuh total, macet, menunggu surutnya air di jalan.

Apa yang harus dilakukan? Tak banyak selain melakukan evakuasi. Evakuasi yang utama karena sangat genting, berusaha menyurutkan air selanjutnya, yang kemudian mengurusi kesehatan pengungsi. Saya sedikit kecewa dengan keluhan seorang teman di facebook, mempertanyakan usaha pemerintah Kabupaten Maros (khususnya pak Bupati) mengatasi banjir yang menggenangi jalan poros. Mungkin kendaraannya tidak bisa lewat karena macet total selama berjam-jam. Yah mbok sabar, ini musibah, doakan yang baik-baik saja biar banjirnya surut. Saya yakin pak Bupati melakukan segala daya dan upaya menghalau air, mungkin beliaulah orang paling stress hari ini. Maros memang daerah rendah, ada sungai besar yang membelah kota, menandakan daerah Maros adalah daerah rendah. Banjir besar seperti ini pernah terjadi 20-an tahun lalu, saat saya masih SD. Kalau sudah begini mau diapa lagi? Mengeluh hanya menghabiskan energi.

Advertisements

One thought on “Kebanjiran? Tak Usah Cengeng

  1. ya ampuuun…semoga cepet surut mas ya. Keknya emang ada yang tersumbat di salah satu saluran airnya atau ada yang ditutup gitu deh. Dulu pernah gitu juga di Surabaya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s