Pengabdian Tak Berbatas

Tema 8 Minggu Ngeblog minggu ketiga kali ini adalah tentang PEREMPUAN INSPIRATIFKU. Saya yakin tema ini muncul sekaitan dengan Hari Kartini 21 April yang lalu. Sampai hari ini saya belum menemukan ide menulis tentang tema ini, otak saya buntu. Maklum sosok perempuan yang paling inspiratif menurut saya adalah Ibu dan Istri saya sendiri. Menulis kisah salah satu diantara mereka sepertinya kurang adil dan bisa menimbulkan kecemburuan (hehehehe). Aha…. Kali ini mungkin saya menuliskan kisah hidup seorang perempuan, Mbah Yah. Semoga seluruh pihak terutama Mbah Yah berkenan akan tulisan ini. Postingan ini diikutkan dalam 8 minggu ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.

Nama lengkapnya Aslamiyah, begitu yang tertulis di pintu masuk rumah mertua pada sticker tanda daftar pemilih pada Pilkada Gubernur Sulsel yang lalu. Saya tak perhatikan berapa usia yang tertulis di sticker tersebut, yang jelas sudah lebih 60 tahun, lebih tua dari kedua mertua saya.

Ibu mertua kadang memanggilnya Yuk Yah. Karena kami masih muda, kami memanggilnya Mbah Yah, panggilan bagi seorang nenek dalam bahasa Jawa, disambungkan sehingga pengucapannya menjadi Mbayyah. Mbayyah adalah asisten rumah tangga mertua saya. Saya mengenalnya pertama kali saat ngapel ke rumah pacar (istri saya saat ini), saat itu beliaulah yang membuat dan menyuguhkan minuman. Awalnya saya pikir Mbayyah adalah ibu atau nenek dari pacar saya. Namun jika ibu, mengapa setua ini? Wajahnya juga tak mirip dengan pacar saya. Kalau nenek, mengapa beliau sungguh baik membuat dan membawakan langsung minuman buat saya? Seterhormat itukah saya sampai dibuatkan sendiri oleh calon nenek mertua? Pacar saya mengerti dengan raut muka tanya di wajah saya, kemudian memberitahukan kalau yang membawakan minum adalah Mbayyah, sudah lama tinggal di rumah tersebut. Saat itu pacar saya tidak spesifik menyebut Mbayyah sebagai “pembantu rumah tangga”, saking hormatnya kepada Mbayyah.

Konon, Mbayyah sudah lama “mengabdi” di keluarga mertua, sejak tahun 80-an, saat kakak ipar saya yang pertama baru lahir. Dimanapun mertua pergi, Mbayyah selalu ikut. Sorong, Sidoarjo, Surabaya, Palopo, dan Makassar telah dijejaknya demi ikut pada “tuannya”. Selain membantu pekerjaan rumah tangga (masak, nyapu, ngepel, nyuci, setrika), Mbayyah juga ditugaskan mengasuh anak. Bahkan, ayah mertua saya konon diasuh oleh Mbayyah sewaktu kecil. Saat mertua belum berumah tangga, Mbayyah memang mengabdi pada nenek mertua saya sebelum kemudian diakuisisi oleh ayah mertua yang membutuhkan kehadiran seorang asisten rumah tangga.

Saya tak banyak tahu kehidupan pribadi Mbayyah, namun menurut cerita istri saya Mbayyah dulu memiliki suami dan anak, namun suami dan anak Mbayyah meninggal karena penyakit misterius. Sekarang Mbayyah hanya mempunyai saudara di Sidoarjo, berdekatan rumah dengan nenek mertua. Mbayyah juga mempunyai keluarga di Makassar, yah kami-kami ini. Saat lebaran tiba, Mbayyah kadang pulang kampung ke Sidoarjo melepas kangen pada keluarga dan sahabat disana, kadang juga tidak pulang.

Walaupun sudah dianggap keluarga, upah Mbayyah sebagai asisten rumah tangga tetap diberikan oleh ibu mertua. Walaupun tidak seberapa, namun upahnya cukup untuk ditabung dan berinvestasi emas. Kadang pula kami pinjam jika keuangan kami sudah minus, dan Mbayyah tak pernah menagih piutangnya, cukuplah kesadaran kami mengembalikannya.

Tiba-tiba saja sosok Mbayyah tercerita di postingan ini. 30 tahun lebih pengabdiannya sebagai asisten rumah tangga sangat saya kagumi. Tanpa banyak berkeluh kesah tentang hidupnya, Mbayyah tetap bekerja, mengabdi “mengurusi” rumah tangga mertua dan juga kami. Asisten rumah tangga yang kini menjadi keluarga, ibu bagi kami. Bandingkan dengan asisten rumah tangga jaman sekarang, sudah gajinya tinggi, tak jarang dari mereka yang tak tahu apa-apa, bahkan diajari oleh majikannya baru bisa bekerja. Pun kalau sudah ada yang lumayan bisa bekerja, kadang mereka tak betah dan pulang kampung dengan alasan menikah atau sakit. Sungguh beruntung keluarga mertua mendapatkan asisten seperti Mbayyah.

Interaksi saya dan Mbayyah intens terjadi setelah menikah, dan kami (saya dan istri) masih menumpang hidup di rumah mertua. Selayaknya seorang ibu yang memperhatikan anaknya, Mbayyah menyiapkan makanan dan minuman saat kami bersiap berangkat atau pulang kantor.

Entah apa dipikiran Mbayyah memandang makna hidup, hidupnya sendiri, mungkin hanya “mengabdi, mengabdi, mengabdi”. Teringat waktu banjir lalu, Mbayyah tak hentinya bekerja mengepel lantai padahal air belum juga surut. Beliau hingga dimarahi oleh ayah mertua, saking sayangnya. Tapi Mbayyah curhat pada saya dan mengatakan (yang dalam Bahasa Indonesianya) “Mu, sakit badanku kalau tidak bekerja, takutnya tertidur kalau hanya duduk diam”. Sungguh pengabdian tanpa batas di mata saya.

Sekarang Mbayyah sudah tua, banyak sudah obat yang rutin beliau konsumsi untuk menjaga kebugarannya. Seperti juga Alex Ferguson yang abadi di Manchester United, semoga Mbayyah tetap sehat, menikmati masa pengabdiannya, menikmati masa tuanya. Terima kasih Mbayyah.

Advertisements

One thought on “Pengabdian Tak Berbatas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s