Aturan, Dibuat Untuk (Tidak) Dilanggar

Aturan dibuat untuk dilanggar, katanya. Jadi, mari kita sama-sama melanggar. Tulisan ini diikutkan dalam 8 minggu ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam.

Belum juga lampu merah padam berganti lampu hijau, beberapa kendaraan sudah saling berebut jatah jalanan di perempatan kampus Unhas – Perintis. Saya pun akhirnya ikut arus, daripada diklakson berkali-kali dari belakang. Itulah pemandangan hampir tiap hari di perempatan jalan tersebut, semrawut. Lampu lalulintas memang seakan tak mampu membendung hasrat pengguna jalan mengejar waktu, warna merah dan hijau seakan telah sama, tak ada bedanya. Untuk arus lalulintas dari kota Makassar ke arah Daya, lampu merahnya kadang masih dipatuhi, tapi akhirnya dilanggar jika dirasa “telah sepi”. Arus sebaliknya yang parah, lampu merah telah menyala namun tak ada satu kendaraan pun yang berhenti.

Kondisi seperti ini hampir terjadi di seluruh perempatan jalan berlampu lalulintas di Makassar, kecuali di “tengah kota” yang kemungkinan besar ada Polisinya. Saya jadi teringat cerita lucu Pak Polisi, Lampu Merah, dan Bikers. Ada seorang bikers yang menerobos lampu merah, ditahan polisi, dan terjadilah percakapan berikut ini :
Polisi : “Woi!! Ko nda liat itu lampu merah???”
Bikers : “Kuliat ji Pak…”
Polisi : “Kenapa ko terobos pale!!”
Bikers : “Nda kuliat ki’ Pak…”.

Saya sangat jengkel dengan kondisi lalulintas yang semrawut seperti ini, pengguna jalan menggunakan jalan seenak perutnya tanpa mengindahkan aturan yang ada. Memang kadang saya maklum jika fasilitas traffic light tidak ada, rusak atau lampu padam. Tapi jika lampu menyala dengan normal, saya pikir pelanggaran yang disengaja ini tidak boleh berlanjut dan dibiarkan begitu saja. Jika saya melihat ada yang melanggar lampu merah, saya selalu berdoa mudah-mudahan ada polisi di depan sana dan menilangnya. Kadang kalau lagi enak hati, cerita tentang pelanggar lampu merah diambil hikmahnya saja. Mungkin pelanggar buta warna, istrinya mau melahirkan, bernyawa sembilan, polisi, anak pejabat, atau mau bunuh diri.

Terus terang, (awalnya) saya termasuk patuh berlalu-lintas. Menggunakan helm jika naik motor walaupun tujuannya dekat, tidak melanggar lampu merah walaupun tidak ada polisi. Menurut saya kenyamanan akan tercipta jika ada keteraturan, dan keteraturan ada karena ada aturan. Kepatuhan saya terhadap aturan lalulintas makin menjadi-jadi setelah sempat jalan-jalan di Tokyo. Di sana, tidak ada yang melanggar lampu merah seperti di Makassar, walaupun jalanan sepi. Orang Jepang malu melanggar lalulintas, mereka sangat sopan dan sabar di jalan. Tidak ada cerita mobil berpindah mengambil jalur sebelah, walaupun jalur sebelah sepi. Saya pun hanya pernah mendengar bunyi klakson sekali saja. Bandingkan di Makassar, mobil bisa pindah jalur seenaknya, jangan ditanya soal klakson, klakson disini saling bersahutan walaupun membunyikannya sebenarnya sangat tidak penting.

Teringat beberapa tahun lalu, di perempatan Adyaksa – Pengayoman. Saat itu saya naik motor bersama Sar dari arah Adyaksa mau belok kanan ke Pengayoman. Lampu merah menyala, otomatis kami berhenti, (sepertinya) otomatis pula mobil di belakang kami membunyikan klakson tanda “masih bisa maju”. Agak jengkel karena bunyi klakson, saya menoleh ke belakang sebagai tanda “jangan klakson, sudah merah!”. Pengemudi mobil marah, kemudian menyalip motor saya tepat saat lampu hijau menyala, untung saya banting stir ke kiri sehingga mobil tak jadi menyenggol kami. Adu mulut terjadi, pengemudi mobil tak suka dilihat sinis. “Apa liat-liat!!”, katanya sambil membuka jendela. Emosi saya tersulut, adu mulut terjadi. Ada tukang becak yang melerai. Si pengemudi mobil berlalu sambil mengancam “Awas ko!!! kutunggu di Aspol!!!”. Oh, dia mungkin tinggal di Aspol, atau punya kenalan di Aspol, atau malah polisi yang lagi tidak berdinas. Polisi koq arogan, salah pula. Perkara lampu merah yang akan teringat hingga akhir masa.

Lain lagi cerita juga beberapa tahun lalu. Saat itu saya pulang kantor, arah dari Maros ke Makassar, jalan protokol Bandara baru belum semacet sekarang. Di perempatan jalan protokol – Bandara, saya melambatkan motor karena lampu kuning hampir berubah menjadi merah. Tiba-tiba pete-pete (angkot) melaju dengan kencangnya dari belakang, saya hampir tertabrak. Dia nekad, padahal ada lampu merah dan polisi, kolaborasi yang mampu membuatnya ditilang. Saya hanya mbatin, komat-kamit bersyukur tidak tertabrak.

Begitulah kondisi jalan raya di Makassar, horor. Akhirnya saya yang patuh pun tidak tahan lagi, mulai mengikuti “kebiasaan” berlalulintas orang kebanyakan. Tidak pakai helm kalau kira-kira tidak ada polisi, menerobos lampu merah kalau sepi atau kendaraan di depan mulai menerobos, sampai melawan arus biar cepat sampai. Karena saya seakan bodoh sendiri patuh terhadap aturan lalulintas. Bayangkan saja jika lampu merah, terus saya sendiri tidak jalan padahal yang lain maju, bisa di klakson membabibuta saya dari belakang, dan disangka “orang goblog”.

Yah begitulah, dua sisi ini yang kadang berbenturan di batin saya. Antara patuh aturan dengan budaya “tidak sabar” kebanyakan orang. Cerita di atas baru soal lalulintas, bagaimana soal lain yang mungkin lebih besar dari sekedar sengaja melanggar lampu merah, korupsi contohnya. Ah Sudahlah…

Advertisements

5 thoughts on “Aturan, Dibuat Untuk (Tidak) Dilanggar

  1. Saya juga suka sebal kalo sedang macet atau di lampu merah baru di belakang ta’ kendaraan2 pada klakson, ih kayak ndak punya mata saja. Kayak tong kalo diklakson2 berubah hijau itu lampu atau lalu-lintas mendadak sepi πŸ™‚

  2. Ya memang tak mudah merubah kebiasaan yang telah berakar Pak… Tapi jangan putus asa akan perubahan yang minimal dimulai dari diri sendiri. Namun kalaupun kita idealis ingin merubah tapi jalannya tak selalu mudah.

    Tapi tetaplah pakai helm, karena helm bukan agar tak ditilang polisi, tapi agar jika terjadi kecelakaan (yang kita tak pernah tahu kapan itu akan terjadi, semoga saja tak pernah menimpa kita) minimal helm bisa melindungi kepala, terlepas dari takdir yang telah Allah tetapkan. Tawakal tetap harus berusaha kan? Maaf jika menggurui, saya hanya ingin berbagi, karena dulu pernah juga tertabrak diperempatan dan kepala terbentur aspal yang keras, alhamdulillah menggunakan helm. πŸ™‚

  3. Di jakarta malah lebih parang cess..sudah padat, melanggar pula, polisi seperti tak udah jenuh mau nilang, karena jumlah pelanggar daripada polisi tidak berimbang, mungkin karena polisi lebih memilih tinggal di kantor daripada panas2san di jalan. πŸ™‚

    Dan mungkin saja para pengendara itu ingin menciptakan musik yang unik sehingga sangat gemar menekan klaksonnya. hehehe.. benar2 memekakan telinga..,

    Dan juga, karena jalanan adalah sistem umum yang berlaku, maka jika banyak yang melanggar maka yang lain kena imbasnya, paling tidak terseret juga ke arah pelanggaran meski terbilang kecil pelanggarannya. Itulah berangkali lahir ungkapan jalan adalah the jungle.. hehehe..

    salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s