600 Postingan, Ahh Sudahlah…

#600

16 November 2010, postingan pertama di blog ini lahir (tentu saja setelah Hello World yang saya hapus). Menginjak usia dua setengah tahun, blog ini baru berisi 600 postingan. Sudahi saja atau dilanjutkan? Tulisan ini diikutkan dalam 8 minggu ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketujuh.

Secara kuantitas, 600 postingan dalam tiga tahun termasuk masih sedikit dibanding blog kebanyakan. Jika dirata-ratakan, dalam 2 hari ada 1 postingan yang terbit. Secara kualitas? Jangan ditanya, tidak ada postingan berkualitas di blog ini, tak ada yang penting. Isinya hanyalah curhatan tak jelas, copasan, atau foto narsis.

Awalnya, blog ini lahir karena mencoba kemudahan ngeblog yang ditawarkan ponsel Blackberry. Sebelumnya saya sudah punya blog di blogspot yang juga terkelola secara awut-awutan. Saya cuma merasa sayang jika ponsel BB yang dibeli mahal dan akses internet yang tidak murah hanya digunakan untuk bernarsis ria dengan BBM, Facebook, dan Twitter. Jadilah pada awalnya blog ini berisi tulisan singkat dan cerita foto yang diposting lewat BB. Masalahnya kemudian, saya jadi semakin senang ngeblog lewat ponsel dan malas mengakses media sosial. Saya posting apa saja dikala mau dan sempat. Lama kelamaan trafik kunjungan ke blog ini meningkat, disertai perolehan pagerank. Itulah yang semakin membuat semangat ngeblog disini, hingga jadilah seperti sekarang ini.

Jika ngeblog dianggap sebagai beban, sudah banyak kerugian saya ngeblog. Rugi waktu yang paling terasa, selain rugi-rugi lain semisal rugi tenaga (mengetik) dan rugi pikiran (menulis. Ya, salin-tempel saja harus berpikir, apalagi menulis). Namun ngeblog saya anggap sebagai hobi, kesenangan. Seperti kesenangan manusia “normal” lain semisal karaokean, main futsal, ngeband, filateli, berkebun, shopping, travelling, dan hobi “normal” lainnya. Seperti tulisan sebelumnya, ngeblog seperti bermeditasi melepaskan beban pikiran yang menumpuk di kepala. Bahkan seperti Paman Tyo, ngeblog berfungsi menjaga kewarasan, juga kegilaan.

Lalu apa kira-kira yang terjadi jika saya tidak ngeblog, tidak pernah mengenal yang namanya blog? Entahlah, saya sulit berandai-andai. Mungkin tiap hari saya menghabiskan waktu ngobrol tak jelas di warkop, atau jadi atlet futsal, atau jadi drummer, atau keluyuran tak jelas, atau jadi anggota geng motor. Mungkin dunia saya akan teralihkan kesana, kesemuanya adalah kesenangan saya selain ngeblog.

Apa lagi yang terjadi jika saya tidak ngeblog? Mungkin juga semua kerjaan offline saya akan selesai tepat pada waktunya. Kadang (kalau tidak ingin dikatakan sering) kerjaan offline terlantar gara-gara ngeblog. Sampai di kantor bengong sendiri, kecapean karena telah menempuh perjalanan jauh, mengatur nafas sebelum mulai bekerja. Ide postingan kadang muncul disaat kepepet begini. Jadilah kerjaan kantor saya tunda dulu untuk kemudian menulis ide tersebut. Takutnya kalau tidak segera ditulis, ide langsung menguap, hilang tanpa jejak. Masalahnya, menulis itu tidak mudah dan butuh waktu dan energi untuk mengurai ide ke dalam sebuah tulisan. Standar waktu saya untuk membuat sebuah “tulisan” adalah satu jam, itupun tak ada yang istimewa dari tulisan tersebut. Setelah ide tertuang dalam sebuah tulisan, butuh waktu lagi untuk memulihkan energi. Bisa dibayangkan bagaimana kerjaan kantor tadi yang tertunda, batal terselesaikan dan semakin menumpuk.

Tapi saya bersyukur kenal yang namanya blog. Dunia social media saya teralihkan ke dunia blogging. Kadang saya kasihan sama teman-teman yang bisanya cuma bengong di kantor bila lagi sepi orderan, kadang sambil mengutak-atik handphone, bergosip sampai capek, atau membunuh waktu dengan main game atau buka-buka Facebook di komputer. Sungguh sayang jika waktu yang melimpah tidak digunakan untuk menulis, mengukir sejarah. Penampakan saya berbeda, seakan sibuk seharian di depan komputer. Mungkin mereka menyangka kerjaan saya super banyak (padahal tidak, kadang saya selingi dengan menulis blog). Mungkin mereka sebenarnya yang kasihan pada saya.

Saat asyik ngeblog, kadang saya merasa terasing sendiri dengan dunia “nyata”. Merasa tergila-gila dengan blog padahal ada “kerjaan nyata” di depan mata. Seperti saat membuat tulisan ini, teman yang lain sibuk, saya asyik dengan dunia saya sendiri, ngeblog. Kerjaan offline telah menanti. Sekarang sudah 600 postingan, kapankah berakhir kegilaan ini? Sudahi atau dilanjutkan? Ahh Sudahlah….

9 thoughts on “600 Postingan, Ahh Sudahlah…

  1. ngeblog bisa jadi terapi biar gak sering pusing ya ^^ kalau menuangkan kegelisahan yang kita rasakan, beban pikiran berkurang. terlebih kalau ada teman yang merespon dan memberi saran.

    iyaaa, buat pekerja kantoran, daripada bengong karena kerjaan kantor dah kelar, mending ngeblog daripada gosipin temen dan bos. hihi

    salam manis,
    arga litha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s