Anjing (Pura-pura) Gila

Cerita bermula hari Jumat kemarin. Pagi menjelang siang saya baru tiba di kantor. Belum juga duduk tenang mengumpulkan nafas, Smile memberitahu kalau ada kasus gigitan anjing dia terima. “Laporan” awal Smile dapat dari Ride, mata-mata sekaligus corong kantor. Konon Ride menerima laporan langsung via telepon dari keluarga korban.

Sebagai corong dan mata-mata, reputasi Ride tak perlu dipertanyakan lagi. Jangankan kasus penyakit, jumlah janda di suatu desa pun mungkin Ride ketahui. Ride mengurus segala sesuatu, dari nasi rantang hingga jual beli kambing. Soal informasi jangan ditanya, selebritis kota pasti mengenalnya. Ride yang saya kenal adalah orang tersupel di muka bumi. Baik hatinya mengalahkan putri salju. Mungkin itulah sebabnya keluarga korban gigitan anjing terlebih dahulu menghubungi Ride pagi itu untuk meminta wangsit, kemana korban dibawa, ditangani. Dan konon Ride memberi petunjuk agar pasien dibawa ke Puskesmas dulu. Ada stok Vaksin Anti Rabies di kantor dan orang Puskesmas tinggal ambil jika betul pasiennya datang berobat.

Saya bergeming mendengar kabar dari Smile yang masih berlevel kabar burung itu. Saya hanya meneruskan kabar tersebut ke pimpinan, tak ada respon berarti selain respon klise, “tangani”. Sebagai petugas kabupaten, sebenarnya saya hanya menunggu kabar resmi dari Puskesmas. Tapi petugas Puskesmas tak saya tilpun, saya tak registrasi tilpun murah hari itu😀 . Pasif. Saya memang lagi egois, melihat kenyataan bahwa hasil kerja kadang tak diapresiasi. Walaupun itu sebatas “terima kasih”. Ahh, pledoi!! Maafkan saya!!

Siang harinya setelah Jumatan, saya baru ketemu Ride yang mengkonfirmasi kebenaran kabar burung tersebut. Korban sudah diarahkan ke Puskesmas, dan kepala anjing sudah dibawa ke Balai Besar Veteriner untuk diperiksa positif Rabies atau tidak. Akhirnya, Saya tunggu sampai sore hari, namun tak ada kabar dari Puskesmas akan kehadiran pasien GHPR (gigitan hewan penular rabies), tak ada juga yang datang minta VAR. Bosan menunggu, saya pulang. Batin saya, mungkin korban tak ke Puskesmas, langsung ke RS atau malah tak tertangani. Ada sesuatu yang ganjil dan tidak berjalan semestinya, dan dosa saya adalah karena membiarkannya.

image

Keesokan harinya, Sabtu, Bapak dan Ibu datang ke rumah, menengok bunga yang ditanamnya beberapa minggu lalu. Beliaus khawatir bunganya habis dikangkangi ayam peliharaan tetangga depan rumah. Bapak membawa koran, dan salah satu beritanya berisi kasus GHPR kemarinnya. Saya foto untuk verifikasi rumor nantinya. Ternyata dua orang korban GHPR langsung ke RS, entah mengapa tak mengindahkan titah Ride agar ke Puskesmas terlebih dahulu. Beruntung, tak ada kabar yang mencitrakan buruk pelayanan kesehatan terhadap pasien. Yang jelas pasien (merasa) tertangani (dengan baik), tatalaksana GHPR tepat atau tidak, itu urusan kesekian.

Sore, masih di hari Sabtu, saya dan Sar nemani Bunda Ulan pasang kawat gigi. Sambil nunggu, saya baca koran, dan berita yang sama tentang kasus GHPR terberitakan. Berita sama, koran berbeda. Saya mbatin, mungkin Jumat kemarinnya RS dipenuhi wartawan pemburu berita. Walaupun tak jadi headline, cukuplah berita koran menjadi isyarat kalau kasus ini cukup menghebohkan seantero kota. Herannya, tak ada kabar resmi melintas ke ponsel saya, dari atasan ataupun perpanjangan mata-telinga saya di Puskesmas dan RS. Barulah malamnya “Bos Tingkat 3” menelpon menanyakan ikhwal berita di koran. “Mengapa tak dituntaskan saat saya lapori ke anda?”, batin saya. Tak banyak tempo, saya bilang kalau Senin nantilah saya selidiki lagi, lagi libur boss.

Minggu siang menjelang sore, kami ditraktir pacarnya Mamas nonton Need for Speed Fast n Furious 6. Filmnya keren. Kalau sempat, nantilah saya ceritakan. Pulang nonton, ada SMs entah dari siapa menanyakan kasus GHPR. Bukan wartawan, tapi sepertinya dari penanggung jawab program pencegahan dan penanggulangan (P2) Rabies tingkat Propinsi. SMS menanyakan apakah ada pasien GHPR yang masih dirawat di RS saat itu. Saya balas seadanya dan berjanji akan “turun lapangan” besoknya. Kalau ada yang masih dirawat, berarti lukanya parah, batin saya.

Senin, pagi tadi setelah ngantar Sar “mengelus” buah hati kami, saya langsung ke RS, kroscek, Penyelidikan Epidemiologi. Saya bertemu “mata-telinga”  RS terlebih dahulu. Ternyata si petugas tidak tahu kasus GHPR ini, tak ada laporan mampir padanya. Apakah RS salah memilih “mata-telinga” ataukah kasusnya tidak seheboh di koran? entahlah. Kami langsung ke perawatan saraf. Nihil, tak ada pasien GHPR, hanya laporan simpang siur dari UGD. Kami kroscek ke UGD, benar ada dua pasien GHPR pada hari Jumat. Satu pasien (laki-laki, 43 tahun) sudah pulang, yang satunya (perempuan, 54 tahun) dirawat di perawatan dewasa. Setelah mencatat status dan riwayat sakit pasien, kami bergegas ke ruang perawatan, berniat mewawancarai langsung pasien. Beruntung, pasien tidak tidur, bisa diwawancarai walaupun dengan bahasa Indonesia yang terbatas. Untungnya, ada beberapa keluarga pasien yang bisa memandu dengan baik.

image

Si Ibu (pasien pertama) langsung bangun, duduk saat kami masuk ruangan. Tampak dahi beliau terperban, hampir menutupi kedua matanya, di bawah mata kiri tampak lebam merah. Katanya, lebam baru saja muncul, bukan karena digigit atau dicakar anjing. Entah karena apa. Beliau dengan lemah menceritakan perkelahiannya dengan anjing. Awalnya, Jumat pagi sekitar jam setengah tujuh, si Ibu di bawah kolong rumahnya tiba-tiba diserang anjing liar, melompat menerkam kepalanya. Konon, anjing gila yang terinfeksi Rabies memang rabun, menyerang apa saja yang bergerak, melompat menyerang bagian atas (kepala). Si Ibu sekuat tenaga melawan, hingga lengan kanannya ikut tergigit, jempolnya tercakar. Setelah menggigit si Ibu, anjing tersebut lari, menyerang tetangga si Ibu (yang juga adalah keponakannya), seorang Laki-laki yang sedang memperbaiki lemari, juga di bawah kolong rumahnya. Beruntung si korban kedua memakai topi, hanya menghasilkan luka 3 centi akibat terkaman anjing di pelipis kanannya. Mereka lalu ke klinik perusahaan dekat rumah, dan dirujuk langsung ke RS, bukan Puskesmas.

Pasien pertama (si Ibu) ditangani dengan Jamkesmas, sementara pasien kedua adalah pasien umum. Karena pasien umum, pasien kedua langsung pulang setelah mendapat perawatan dan membayar beberapa ratus ribu. Pelipis dijahit dan diperban. Sementara pasien pertama karena gratis, diharuskan melengkapi berkas berupa KTP yang ternyata belum diurusnya, jadilah si Ibu mesti tinggal di RS hingga KTPnya ada. Jika lewat dua hari, maka si Ibu dikenakan biaya seperti pasien umum. Kedua pasien akhirnya harus membeli masing-masing 2 vial VAR untuk suntikan pertama. Harga 1 vial VAR 145 ribu katanya. Seandainya ke Puskesmas, VAR diberikan secara gratis. Untuk suntikan VAR selanjutnya, saya telah sarankan kedua pasien ke Puskesmas saja.

Ada yang mengganjal di pikiran saya. Konon luka bekas gigitan atau cakaran hewan penular rabies tidak boleh dijahit dan diperban karena akan mempercepat proses masuknya virus ke ujung saraf. Kecuali hal tertentu yang lebih membahayakan, seperti untuk menghentikan pendarahan, bisa dijahit dan diperban. Tapi luka 2 pasien GHPR ini dijahit dan diperban. Apakah dokter yang menangani tahu tatalaksana perawatan luka GHPR? saya tak mau berdebat dan akhirnya berasumsi kalau luka memang harus dijahit untuk menghentikan pendarahan. Saya pun tidak ketemu dokter yang menangani pasien, sepertinya sedang tidak jaga, dan pengalaman sebelumnya, bakal ribet kalau berdebat dengan dokter.

Setelah sedikit wawancara tersebut, saya ke kantor dan melaporkan kejadian ini (terjahit dan terperbannya luka GHPR) kepada atasan tingkat 3. Beliau hanya “melenguh”, mengatakan tidak boleh demikian. Begitu saja sambil menginstruksikan observasi pasien oleh Puskesmas. Seorang “senior” pun mengatakan kalau luka tak boleh tertutup. Kalau tertutup, akan mempercepat virus ke ujung saraf pusat yang serta merta mempercepat kematian pasien. Saya tegaskan “mempercepat kematian pasien” karena jika memang betul kasus GHPR ini adalah positif Rabies, dipastikan cepat atau lambat Rabies akan membunuh pasien. Sekedar info, masa inkubasi Rabies adalah 7 hari sampai 2 tahun (sangat bervariasi tergantung tingkat keparahan luka, lokasi luka, dan daya tahan tubuh penderita). Perlu diingat kalau Angka Kefatalan Kasus (CFR – Case Fatality Rate) Rabies adalah 100%, dalam artian dari 10 pasien positif Rabies, semuanya akan mati karena Rabies, cepat atau lambat. VAR hanya membantu melambatnya virus ke sistem saraf pusat (*maaf kalau keliru menjelaskan).

Adapun pasien yang positif Rabies mestinya diberi Imunoglobulin berupa Serum Anti Rabies (SAR) yang disuntikkan ke luka dan sekitar luka. Walaupun tak banyak menolong pasien dari kematian, SAR juga dapat memperpanjang harapan hidup pasien. Masalahnya kemudian, SAR sangat sulit didapatkan dan harganya sangat mahal. Jika VAR disuntik 4 kali menghabiskan sekitar 600 ribu, SAR yang efektif untuk dosis anak-anak biayanya berkisar 6 juta dan untuk dosis dewasa bisa sampai 20 juta.

Bukannya mendahului takdir Tuhan, saya hanya berdoa mudah-mudahan ada keajaiban, semoga kedua pasien diberi kesembuhan dan umur panjang, atau anjing yang menggigit hanya pura-pura gila.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s