Bukan (Sekedar) Arisan

Janjian, ketemuan, dan deal. Setelah berbasa-basi sejenak, dan yang “naik” kali ini sudah ditetapkan, mari pulang ke rumah masing-masing. Apakah komunitas kita hanya sekedar arisan? Tulisan ini diikutkan dalam 8 minggu ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.

Menurut Maslow, ada 5 tingkatan kebutuhan manusia. Kebutuhan makan, rasa aman, dicintai, dihargai, dan yang terakhir adalah kebutuhan akan beraktualisasi diri, diakui orang lain, bersosialisasi, narsis. Kebutuhan akan aktualisasi diri ini seringkali tidak kita sadari berusaha kita penuhi dengan cara bersosialisasi. Kadang malah kebutuhan ini bagi sebagian orang harus lebih dulu terpenuhi dibanding kebutuhan lain, kebutuhan fisiologis seperti makan misalnya. Kadang saya pun demikian, berlama-lama di depan komputer dengan akses internet, ber socmed, melupakan kepentingan perut dan kroni-kroninya, makan.

Manusia disebut juga makhluk sosial. Sejak kecil manusia pasti butuh teman, saya juga demikian karena saya manusia. Otomatis, teman sepermainan saat kecil adalah komunitas pertama kita, dan selanjutnya adalah komunitas sekolah.

Saat kanak-kanak dulu, saya punya teman sepermainan. Teman satu lorong akhirnya membentuk sebuah komunitas geng pertemanan selorong, kami namakan JHOVEAQ. Entah dari mana nama ini lahir, namun yang masih membekas di ingatan adalah ide timbul begitu saja saat melihat  merk celana dalam “Jovac”. Awalnya geng kami mengambil nama Jovac dengan sedikit modifikasi. Nama Jovec terpilih dan akhirnya diubah menjadi Jhoveaq biar lebih keren. Sungguh senang dan bangganya  saya punya geng kecil, seakan diakui “ada” diantara sekian banyak anak kompleks. Tentu saja senang karena merasa aman, terlindungi, dan kesenangan tersalurkan. Saat sore hari sepulang sekolah, kami saling memanggil untuk pergi bermain atau sekedar ngobrol. Belum lagi teraktualisasinya kami secara pribadi dalam geng tersebut. Saat ada yang tanya “di mana rumahnya si Anu? yang anak Jhoveaq itu…”, betapa bahagianya.

Sebagai komunitas anak-anak, Jhoveaq eksis dengan peran “aktif” anggotanya. Terdiri dari tidak lebih dari 10 orang –saya yang paling tua, aktifitas kami termasuk beragam. Mulai main bola sampai mandi-mandi di bekas galian tanah. Banyak suka-duka kami jalani bersama, mulai berkelahi sesama “anggota”, sampai dimusuhi tetangga. Tak ada “tanda jadi” pendaftaran, tanpa kartu anggota, cukup rumah kami sebagai pembatas, anak se lorong otomatis jadi anggota Jhoveaq. Akhh.. saya jadi teringat Muchlis, Iyan, Eko, Aso, Natsir, Kurnia, dan (alm.) Aco. Sejak SD hingga SMA komunitas ini hadir mewarnai masa kecil kami hingga beranjak remaja. Dan akhirnya dunia perkuliahan memisahkan kami.

Di sekolah pun kehidupan sosial, berkelompok terjalin. Walaupun saya tidak pernah masuk di “geng” manapun, saya senang karena bisa memasuki semua kalangan walaupun tidak se”ideologis”. Saya bisa bergaul dengan anak gunung-gunung, musik-musik, hingga motor-motor, bergaulnya sebatas ngobrol dan tidak saling mengganggu.

Saat ini saya telah berkeluarga, diberikan istri yang cantik, Sar. Tapi entah mengapa, tambah tua saya sepertinya tambah malas bergaul, bersosialisasi, berkomunitas. Keluarga dan akses internet sepertinya sudah cukup memuaskan dahaga narsis dan eksis. Kalau dipanggil teman ngumpul, sepertinya malas keluar rumah. Saya mulai malas cerita basa-basi, menghabiskan waktu saja. Mengetahui kabar teman, cukuplah lewat Facebook atau ngintip BBM Sar. Kecuali ada bisnis baru yang real dan menjanjikan, dengan senang hati saya ikut ngumpul, ketemuan. Sekarang aktivitas sosial pasti ada, tapi tidak dengan berkomunitas. Paling ikut arisan bulanan di kantor, itupun tidak mengunjungi rumah anggota arisan secara bergilir, cukup arisan dikocok di kantor saja. Sesimpel itu. Eh, apakah arisan bisa dikatakan sebagai sebuah komunitas? Pun kalau dapat dikatakan komunitas, kelompok arisan adalah komunitas yang paling sederhana. Walaupun tak banyak berguna bagi kalangan luar anggotanya, paling tidak, arisan berguna sebagai alat bersosialisasi dan menabung. Tak mengapa, asal tidak meresahkan masyarakat, seperti geng motor.

Nah sekarang kebutuhan berkelompok, berkomunitas dalam diri saya kadang membuncah. Sesuai hobi dan kesenangan saya, ingin rasanya masuk jadi “anggota” komunitas blogger, fotografi, desainer, sepeda, dan traveller yang ada di Makassar. Bukan sekedar terakui sebagai “anggota”, namun ikut aktif berbagai kegiatannya. Bukan sekedar komunitas “janjian, ketemuan, deal” selayaknya arisan. Ada yang mau jadi teman saya?

Advertisements

4 thoughts on “Bukan (Sekedar) Arisan

  1. waaah namanya unik bangeeet 🙂 dengan nama itu, jadi makin populer yaaa… banyak fans dong ^^
    ikut banyak komunitas juga ya? berarti kamu aktif sekali ^^ keren! sayang banget saya di Jatim, gak bisa ketemuan dong

    tetap semangat ngeblog yaaa_
    Salam manis,
    Arga Litha

  2. Saya mau menjadi teman Anda, Tidak sekedar menjadi teman arisan (Dan memang tidak. Hehehhe) Deal!!Pokoknya umur tak boleh jadi penghalang untuk terus membangun komunitas sosial.

  3. Banyak juga komunitasnya ya? blogger, fotografi, desainer, sepeda dan traveler 😉 sukses dengan semua komunitasnya, tetap eksis dan narsis 🙂
    Ya saya setuju dengan kebutuhan akan aktualisasi diri, namun semoga kebutuhan itu dapat terpenuhi dengan cara yang baik dan bermanfaat.
    Nice post 😉

  4. Betul…semakin “tua” rasanya semakin malas berkomunitas apalagi fasilitas komunikasi informasi sudah mudah banget d akses… Skrg jadi simpatisan doang sekedar mengasah otak agar tdk brkarat ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s