(Seolah-olah) Investigasi Kasus Penyakit

Minggu lalu, ada kasus kematian misterius sepasang suami-istri, sempat dirawat di RS. Menurut kabar, salah seorang korban dari Arab Saudi beberapa bulan yang lalu. Kabar lainnya, korban mengalami gejala DBD. Dokter RS sendiri belum mendiagnosa pasti penyebab kematian pasiennya, hanya tertulis Suspek Typhoid di catatan rekam medisnya. Beberapa opsi tersebut membuat kami harus mengadakan pelacakan kasus di lapangan. Sebelum penyakit mewabah, jangan sampai ada warga yang menderita gejala penyakit yang sama. Masalahnya kemudian, tempat tinggal korban bukan di daerah kabupaten kami (kabupaten Maros), tapi di wilayah Bone. Pasien hanya numpang berobat ke RS Maros karena aksesnya lebih dekat dibanding ke kota Bone. Jadilah kami hanya berencana investigasi kasus di perbatasan wilayah saja, tidak sampai mengintervensi wilayah tetangga.

Desa di Balik Gunung

Selasa, 28 Mei 2013 kami (saya, boss eselon IV, Smile, dan Kapus) turun lapangan (atau lebih tepatnya naik gunung). Awalnya kami berencana naik motor saja ke lokasi desa perbatasan. Tapi akhirnya kami numpang mobil Kapus. Molor 2 jam dari rencana, akhirnya kami berangkat pakul 10 pagi. Tiba di Puskesmas Camba sekitar pukul 11 menjelang siang, Sebelum berangkat ke lokasi, kami sarapan khas daerah Camba ; Mi Instant, buras, dan telur asin. Sungguh kombinasi makanan yang selalu saya rindukan.

Kami berangkat dari Puskesmas ke lokasi sebelum jam 1 siang. Banyak sudah wejangan yang kami dapatkan dari warga lokal yang kebetulan bekerja di Puskesmas Camba. Hati-hati, apalagi kalau sampai hujan. Bisa-bisa pulang balik dengan tangan hampa. Kalau hujan, jalan becek dan tak dapat dilalui, katanya.

Saya juga teringat 7 tahun lalu saat menerima pengumuman lulus CPNS. Saya bukan warga Maros dan tak banyak tahu kondisi Maros. Banyak yang kasihan pada saya dan menyuruh bersabar. Saat itu, saya ditempatkan di Kecamatan Tompobulu, kecamatan antah berantah yang sepertinya tak ada pegawai yang mau di mutasi kesana. Ada yang sempat mengatakan kalau Tompobulu sangat jauh, butuh tiga musim kesana. Akses ke Tompobulu adalah dengan naik mobil ke Camba, kemudian dilanjutkan dengan naik kuda. Sungguh lelucon yang tidak lucu karena kenyataannya Tompobulu bisa diakses lewat beberapa jalan. Banyak jalan menuju Tompobulu.

Tapi, memori 7 tahun lalu tersebut kembali hadir saat saya berkesempatan menjejak perbatasan Maros-Bone di daerah gunung. Sekaranglah saatnya membuktikan kebenaran akses ke Tompobulu bisa dilalui dengan naik kuda dari Camba. Walaupun dengan membayangkannya saja.

Jarak dari Puskesmas Camba ke Desa Benteng sekitar 15 kilometer. Kami tempuh selama 1 jam dengan naik mobil Puskel Suzuki APV. Jalannya rusak parah, dari batu-batu gunung keras dan sebagian masih dari tanah. Beruntung Kapus Camba lincah bawa mobilnya, salut buat beliau yang tanpa gentar menembus medan berat. Saya sendiri hanya bisa komat-kamit di belakang kursi kemudi, berharap mobil tidak lari mundur atau tergelincir ke jurang. Saya mbatin, ada juga orang yang mau tinggal di daerah terpencil seperti ini walaupun akses pelayanan kesehatannya sangat sulit. Mungkin kecintaan terhadap desa dan tanah kelahiranlah yang membuat warga betah tinggal disini. Dan betul, katanya dibalik beberapa gunung yang mengelilingi desa, disana ada Kecamatan Tompobulu dan dapat diakses dengan jalan kaki atau kuda, ada juga Desa Mattirowalie Kabupaten Bone. Konon sudah ada perencanaan pembangunan jalan yang menghubungkan Maros-Sinjai-Bone di jalan Desa ini. Semoga saja.

Kami bertemu dengan Pak Kepala Desa yang menyambut kami dengan sangat hangat. Tidak ada signal ponsel GSM disini, kecuali beberapa tempat seperti di belakang rumah Kades. Setelah wawancara sedikit dengan kepala desa soal ada tidaknya warganya yang menderita gejala penyakit yang sama dengan korban yang meninggal, kami kembali pulang. Desa Benteng kami nilai masih aman.

Perjalanan pulang saya sempatkan foto-foto. Namun banyak momen pemandangan indah yang terlewatkan karena Tab P1000 yang saya pakai sering ngadat tepat saat mau mengambil gambar. Sekitar 30 kali tablet tersebut hang, dan harus di restart. Kapus masih menawarkan kami jalan-jalan ke Tanah Tengnga, sebuah tempat wisata favorit di Camba. Kita bisa melihat gunung menghampar luas dari lokasi ini katanya. Tapi waktu sudah menjelang malam. Kami langsung ke Puskesmas. Kami tiba di puskesmas sekitar jam 5 sore, dan menjelang jam 6 kami kembali ke kota Maros. Itulah investigasi kasus penyakit beberapa hari lalu. Doa saya semoga tidak ada kasus tambahan, semoga damai selalu di Desa Benteng, dan jalannya cepat diperbaiki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s