(Berusaha) Menikmati Kenaikan Harga BBM

Entah kapan terakhir kali saya mencicipi es krim ini, sepertinya sudah sekitar sepuluh tahun. Namanya es tong-tong (atau nama Indonesianya es dung-dung) — mungkin karena gong yang dipakai memanggil pembeli jadi ciri khasnya, berbunyi tong rong tong atau dung dung dung —. Di Makassar ada beragam rasa dengan dua versi penyajian, pakai kerupuk berbentuk kerucut dan roti tawar. Foto di atas adalah es tong-tong dengan balutan roti tawar, dibelikan Sar siang tadi.

Waktu saya masih kecil, seingat saya es tong-tong roti tawar ini berharga seratus rupiah, yang krupuk krucut besar limapuluh, krupuk kecil dua puluh lima. Harga sebegitu berlaku pada awal tahun 90-an lalu, dan terus beranjak mengikuti nilai tukar rupiah terhadap dollar, dan tentu saja harga BBM. Kini, harganya Rp 2000, kemarin-kemarin paling Rp 1000. Sar sampai kaget dengan kenaikan harganya. Sepertinya ini imbas dari pengumuman kenaikan harga BBM bersubsidi tadi malam. Premium dari 4500 jadi 6500 perliter, sedangkan solar dari 4500 jadi 5500.

Naiknya harga es tong-tong hari ini (terpaksa) saya wajarkan, mengikuti naiknya harga BBM. Walaupun jika dipikir sepintas, mestinya tak ada hubungan langsung antara es tong-tong dan premium, mereka bukan teman apalagi keluarga dekat. Tidak ada cerita es tong-tong semakin enak jika ditambah bensin, bukan? Penjual es pun naik sepeda saja, yang memakai tenaga betis, bukan naik motor apalagi mobil yang meminum bensin.

Tapi kalau ditelaah sedikit lebih jauh, kita pasti sadar kalau sebenarnya bukan harga BBM yang naik jadi masalah, namun imbasnya mendongkrak harga kebutuhan hidup yang lain. Semua barang kebutuhan tersebut pastinya menggunakan alat angkutan, dan alat angkutan tersebut menggunakan BBM. Kalau direka-reka hubungan es tong-tong dengan BBM, mulai dari bahan baku pembuatan es tentunya mengalami kenaikan harga. Roti tawar entah naik berapa, begitupula dengan sirup dan pembuatan es, biaya operasionalnya pasti membengkak. Tak usahlah saya menjelaskan lebih jauh prosesnya, saya bukan penjual es tong-tong, hanya penikmat. Itu baru soal bahan baku dan operasional penjualan es, belum soal penjual es dan keluarganya butuh makan yang harga makanan sehari-harinya pasti ikut naik. Tidak percaya? Harga lontong padang yang kami beli pagi tadi naik dari 10 ribu kemarin jadi 11 ribu hari ini. Naiknya harga BBM nyata berimbas pada kenaikan harga barang kebutuhan lainnya. Sebuah lingkaran setan.

Makanya saya heran dengan pemerintah yang nekad menaikkan harga BBM, tidak memikirkan dampaknya. Saya secara pribadi tidak terlalu masalah jika harga BBM naik, 10 ribu perliterpun, asal tidak diikuti kenaikan harga barang kebutuhan lain. Memang rakyat miskin yang tak punya kendaraan penenggak premium, hanya bersepeda atau jalan kaki tidak merasakan langsung naiknya harga BBM, tapi dampaknya itu yang membuat rakyat kecil semakin susah makan, susah tidur, susah hidup, susah segala-galanya.

Akhirnya saya (dan mungkin kebanyakan dari kita) hanya bisa berusaha menikmati dampak kenaikan harga BBM, menikmati rasa getirnya. Mau mahasiswa demo sampai jungkir balik pun, harga sudah naik tinggi, percuma, malah menambah keresahan rakyat, membuat macet sana-sini. Es tong-tong roti tawar, mau?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s