Rumah Sakit Hijau, Menyehatkan Manusia dan Bumi

Lagi hangat-hangatnya berita di media massa tentang penelantaran seorang balita oleh 4 Rumah Sakit di Makassar, pasien akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Beragam reaksi kemudian bermunculan, tak sedikit yang mengecam. Penelantaran pasien menjadi cerita tersendiri, kisah klasik buruknya pelayanan rumah sakit seperti sebelum-sebelumnya. Tak ada niatan rumah sakit secara institusi menelantarkan pasien, itu hanyalah ulah oknum semata. Namun saya sedih dan kecewa, membayangkan jika seandainya keluarga sendiri diperlakukan demikian. Itulah salah satu potret rumah sakit kita hari ini. Berurusan dengan rumah sakit –baik sebagai tamu apalagi pasien, ribet dan kadang diluar batas logika kemanusiaan. Hal demikian bisa terjadi pada siapa saja, namun kebanyakan pada si miskin, terbentur masalah uang dan birokrasi. Harapan saya, hal demikian tidak terulang lagi. Dengan fungsi pelayanan sebagai tugas pokoknya, rumah sakit diharapkan dapat memberi pelayanan dengan manusiawi, memanusiakan manusia. Rumah sakit diharapkan menjadi tempat menyembuhkan si sakit, bukan malah membuat tambah sakit.

Green Hospital, rumah sakit berwawasan lingkungan mengalihkan sementara perhatian saya dari kasus di atas. Istilah ini muncul dari isu pemanasan global dimana bumi semakin memanas dan kita sebagai manusia yang numpang hidup, berpijak, dan bernaung di atas bumi, sebagai makhluk yang paling cerdas dan bertanggungjawab atas keberlangsungan bumi diharapkan lebih banyak ambil bagian dalam upaya “penyelamatan” bumi ini. Dari isu ini, muncullah istilah go green, menuju hijau, menjadikan bumi kembali hijau, kembali sejuk dan bersahabat dengan tubuh manusia. Dari istilah go green ini muncullah istilah lain sebagai turunan dan perwujudannya, green hospital salah satunya.

Green Hospital, saya membayangkan sebuah rumah sakit seperti taman surga. Orang-orang sakit tampak bahagia dan cepat sembuh saat masuk rumah sakit ini. Terdengar keren memang, dan sepertinya hanya mimpi dan sangat sulit diwujudkan. Namun di dunia ini ternyata ada rumah sakit tersebut, penampakan green hospital mungkin seperti tayangan berikut.

Filosofi green hospital sangat tepat. Membuat bumi jadi hijau, jadi sehat, sebagaimana tujuan utama rumah sakit menyehatkan kembali si sakit. Jika bumi saja bisa dibuat sehat oleh rumah sakit, tentu manusia lebih bisa disehatkan, bukan? Dari konsep green hospital ini, rumah sakit diharapkan dapat menyehatkan bumi, membumikan bumi, yang manfaatnya akan dirasakan oleh anak cucu kita. Selain fungsi pelayanan kepada orang sakit, rumah sakit diharapkan ramah terhadap bumi, lingkungannya.

Selain lingkungan sekolah dan fasilitas umum yang lain, rumah sakit diharapkan menjadi pelopor bangunan ramah lingkungan. Karena rumah sakit adalah salah satu fasilitas umum yang paling banyak dikunjungi, masyarakat yang berkunjung akan banyak belajar bagaimana menjaga, memelihara, atau membangun lingkungan yang baik. Konsep green hospital diharapkan dapat berjalan dengan baik. Sebagaimana kajian filosofis di atas, menurut saya ada dua hal (saja) yang perlu diingat yaitu tidak membuat bumi malah bertambah sakit dan mengupayakan bumi bertambah sehat. Sebagaimana sebuah sindiran “kalau tidak dapat memperbaiki, jangan merusak”, hal ini berlaku juga dalam konsep green hospital.

Bagaimana implementasi teknisnya? Sederhana saja. Rumah sakit dalam aktivitasnya pasti menghasilkan limbah dan sampah. Pengelolaan limbah dan sampah menjadi hal dasar yang perlu perhatian agar “tidak merusak” bumi, tidak menjadikan sakitnya bumi makin parah. Perusakan hutan dimana-mana, sampah kota tidak terkelola dengan baik, janganlah hasil aktivitas rumah sakit berupa limbah dan sampah malah memperparahnya. Limbah rumah sakit diharapkan dapat dikelola dengan instalasi limbah yang baik. Limbah berbahaya dikelola secara khusus, tidak bercampur dengan limbah rumah tangga karena dapat membahayakan kesehatan. Pengunjung dan pekerja rumah sakit kiranya dapat membuang sampah pada tempatnya.

Rumah sakit diharapkan menyediakan tempat sampah yang terpisah antara sampah organik dan non organik untuk memudahkan pengolahannya. Sampah organik dapat didaur ulang, dijadikan kompos dan menjadi pupuk alami bagi tumbuhan yang ada di lingkungan rumah sakit. Sampah non organik yang masih bisa dipakai setelah melalui proses sterilisasi bisa dibuat suatu barang yang lebih berguna, barang kerajinan contohnya. Adapun sampah yang tak bisa dipakai lagi dapat dimusnahkan segera tanpa harus bercampur dengan sampah rumah tangga yang dibuang di tempat pembuangan sampah akhir. Rumah sakit dapat memusnahkannya secara mandiri dengan incenerator tanpa membebani pihak lain. Hal ini dapat mengurangi beban bumi karena sampah yang sulit terurai. Jika limbah dan sampah sudah terkelola dengan baik, niscaya sebuah rumah sakit sudah bisa dianggap tidak merusak lingkungan.

Hal selanjutnya adalah dengan membuat lingkungan semakin sehat. Dua hal yang bisa dilakukan adalah hemat energi dan menanam pohon. Hemat energi listrik dapat dilakukan dengan menggunakan sumber energi listrik yang terbarukan dan berkelanjutan seperti listrik tenaga surya atau tenaga angin. Memang agak mahal di awalnya, namun kedepannya jika sudah berlanjut dapat berefek besar terhadap penghematan energi tak terbarukan. Penghematan energi listrik lainnya adalah dengan tidak menyalakan alat listrik termasuk lampu secara berlebihan. Penggunaan lampu listrik yang boros energi dapat dikurangi dengan sistem pencahayaan alami. Penyejuk ruangan elektronik yang menggunakan banyak energi listrik dapat diganti dengan sirkulasi udara yang alami. Sirkulasi udara ini dapat lebih menyehatkan dibanding penyejuk elektonik. Namun demikian, kendala terbesar dari pencahayaan dan sirkulasi udara alami terkait erat dengan desain rancang bangun rumah sakit sejak awal. Desain awal pembangunan sebuah rumah sakit harus memikirkan efek pencahayaan dan sirkulasi udara yang alami, sehingga harus dibuat perencanaan awal yang sangat matang. Bukannya membangun rumah sakit asal jadi, asal terbangun. Hal ini akan menyulitkan jika dikemudian hari rumah sakit tersebut mengarah ke green hospital, renovasi di banyak ruang malah akan membuat biaya semakin membengkak.

Menanam pohon sudah jamak dilakukan oleh penggiat gerakan go green. Hal inilah yang realistis dapat dilakukan pihak rumah sakit dalam mendukung gerakan green hospital. Apalagi bila bangunan rumah sakit masih mempunyai ruang yang belum terpakai. Ruang yang belum terpakai inilah yang dapat digunakan sebagai lahan terbuka hijau. Menanam pohon langsung di tapak tanah bangunan atau tanaman hijau dalam pot dapat dilakukan.

Green Hospital

Itulah dua hal pokok yang dapat dilakukan dalam rangka mendukung gerakan green hospital. Dukungan dari semua pihak termasuk masyarakat terutama pemerintah setempat sebagai penentu kebijakan sangat diharapkan dalam mendukung program ini, tanpa menafikan tugas utama rumah sakit sebagai pelayanan yang baik terhadap pasien. Rumah Sakit Hijau, memanusiakan manusia, membumikan bumi.

One thought on “Rumah Sakit Hijau, Menyehatkan Manusia dan Bumi

  1. Teknologi pengolahan limbah medis yang sekarang jamak dioperasikan hanya berkisar antara masalah tangki septik dan insinerator (pembakaran). Keduanya sekarang terbukti memiliki nilai negatif besar. Tangki septik banyak dipersoalkan lantaran rembesan air dari tangki yang dikhawatirkan dapat mencemari tanah. Terkadang ada beberapa rumah sakit yang membuang hasil akhir dari tangki septik tersebut langsung ke sungai-sungai, sehingga dapat dipastikan sungai tersebut tercermari zat medis. Insinerator, yang menerapkan teknik pembakaran pada sampah medis, juga bukan berarti tanpa cacat. Badan Perlindungan Lingkungan AS (United States Environmental Protection Agency -USEPA) menemukan teknik insenerasi merupakan sumber utama zat dioksin yang sangat beracun. Penelitian terakhir menunjukkan zat dioksin ini menjadi pemicu tumbuhnya kanker pada tubuh. Hal yang sangat menarik dari permasalahan ini adalah ditemukannya teknologi pengolahan limbah dengan metode ozonisasi, satu metode sterilisasi limbah cair rumah sakit yang direkomendasikan USEPA pada tahun 1999. Teknologi ini sebenarnya dapat juga diterapkan untuk mengelola limbah pabrik tekstil, cat, kulit, dan lain-lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s