Indahnya Bantimurung, (Tapi ……)

2013-07-05 panorama gunung batu

Sawah yang menghampar luas, air sungai yang mengalir jernih, gunung yang menjulang, dan birunya langit. Siapa yang tidak suka melihat pemandangan seperti ini? Sampai lukisan anak kecil pun (kebanyakan) akan seperti ini —dua gunung dengan matahari plus sawahnya—.

Minggu lalu berkesempatan (lagi) menikmati pemandangan seperti ini. Atas nama tugas, meminjam motor atasan, dan jadilah perjalanan hari itu ke daerah Leang-Leang, Kecamatan Bantimurung. Kalau selama ini orang mengenal Bantimurung dengan air terjunnya, tujuan saya hari itu bukan kesana, tapi disekitarnya. Pemandangan indah ini akan memanjakan mata sepanjang perjalanan. Mungkin sudah biasa dan bosan bagi penduduk setempat, tapi tidak dengan mata saya. Saya cuma bisa bilang “Subhanallah” sepanjang perjalanan.

Perjalanan hari itu bertajuk “investigasi peningkatan kasus diare akut”. Saya mesti turun langsung karena ada beberapa penduduk di satu lokasi menderita diare. Saya mesti memberikan rekomendasi yang tepat untuk pencegahan penularan. Tapi, disini saya tidak mau membicarakan itu, saya cuma takjub dengan pemandangan alam Bantimurung.

Saya lalu membayangkan sebuah profesi, jalan-jalan, dalam bahasa Makassar disebut “Pajokka”. Tapi bukan sekadar jalan-jalan menghabiskan uang, malah dia menghasilkan uang dari jalan-jalannya tersebut. Sungguh mungkin merupakan profesi impian dari semua orang. Sebenarnya banyak orang yang kemudian “terpaksa terjerumus” ke dunia “travelling”, jalan-jalan ke sebuah daerah, menceritakannya, kemudian mendapatkan uang. Uangnya dari mana? Dari sponsor lah, termasuk pengiklan. Salah satu yang terkenal namun belum saya baca bukunya adalah “Naked Traveller” yang menceritakan sebuah objek wisata apa adanya. Mungkin naked traveller lah yang menginspirasi sebuah brand operator selluler meluncurkan kegiatan nekad traveller. Mungkin kalau pensiun nanti, ada yang mau mensponsori saya jalan-jalan keliling dunia. Hehehehe.

Kembali ke Bantimurung, setelah takjub dengan pemandangan alamnya, saya disuguhi beberapa kondisi yang cukup memprihatinkan. Akses jalan rusak parah, walaupun sebagian sudah agak mulus dengan tersentuhnya oleh jalan beton. Dari sisi kesehatan, sebagian besar penduduknya tidak memiliki jamban, kebanyakan mereka buang hajat di sungai atau di kebun. Sumber air minum pun langsung dari sungai, kadang penduduk memanfaatkan air hujan juga. Belum lagi kandang ayam yang tersebar di beberapa titik. Sungguh miris bila melihat pemandangan alamnya. Bantimurung indah, tapi…..

*Seluruh foto adalah koleksi pribadi, diambil dengan kamera Nokia N8, diedit sebisanya dengan photoshop.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s