Hari Yang Melelahkan, Penuh Amarah

Pagi tadi emosi tersulut, sebuah truk kontainer menghalangi jalan. Si truk mundur dari singgasananya, tiga orang anak muda (sepertinya kenek kontainer) menyetop pengguna jalan yang melintas agar si truk bisa mundur dengan mulus. Tapi si sopir truk membunyikan klaksonnya berulang-ulang, entah dia takut menabrak atau penanda “MINGGIR… SAYA MAU LEWAT!!”. Saya tidak masalah si truk sebesar apa menghalangi jalan, asal tidak berisik, tidak membunyikan klakson yang bunyinya seperti terompet sangkakala itu. Maunya saya, si truk mundur perlahan tanpa bunyi klakson, tokh ada 3 orang yang mengatur lalulintas. Saya emosi, menerabas jalan sambil membunyikan klakson motor yang bunyinya sebesar kentut itu tanpa henti. Sebenarnya perkara remeh yang membuat emosi tersulut, jadinya bad mood sepanjang hari ini.

Siangnya, perut keroncongan, tak ada makan siang nasi rantang hari ini dari kantor. Sebagian pegawai sudah berpuasa hari ini. Sebagian lainnya belum, termasuk saya yang baru berpuasa besok. Mau makan di warung tak ada yang buka, mereka menghormati orang yang berpuasa hari ini. Selalu saja rasa lapar membuat emosi segera menyebar. Namun ini masih tertahankan, tak seperti pagi tadi. Masih ada biskuit pengganjal perut, pengganti nasi.

Lalu sore ini, pulang kantor tanpa pamit, mengendap-endap seperti pencuri, berharap tak kena hujan padahal mendung sudah menggantung di sudut langit. Sekitar satu kilometer sebelum tempat transit, disambut hujan deras. Mantel terpakai, namun sepatu yang selama ini saya jaga keperawanannya dari air hujan akhirnya ikut basah bersama pakaian dinas. Saya pakai apa ke kantor, besok? Emosi lagi, tapi lagi-lagi kualitasnya tak seperti pagi tadi.

Pulang dari tempat transit, masih hujan, tapi tetap di terabas karena perut gamelanan. Saya cuma khawatir sama istri, Sar yang sedang hamil. Takut flu menyerangnya disaat kondisi tak fit. Tapi kami sudah sama-sama bosan menunggu ketidakpastian hujan reda. Separuh perjalanan, seorang bikers, keriput, berhelm hijau ciri khas “anggota” menerabas genangan air. Cipratan air membasahi kami. Sekonyong-konyong kami teriaki bikers itu “WOIIII” dengan suara parau menahan amarah. Si bikers tetap melaju, entah takut mendengar teriakan kami atau pura-pura tidak dengar.

Saya sadar, tak ada gunanya meluapkan amarah. Tak ada yang peduli, malah mungkin kami dianggap gila oleh pengendara lain karena berteriak kesetanan di tengah jalan. Saya menghela nafas, terdiam, dan melanjutkan perjalanan. Langsung teringat nasehat ibu agar saya lebih sabar menghadapi segala hal. Tak ada gunanya marah, malah membuat jatuh harga diri. Menghela nafas panjang, wudhu, shalat, berbaring, tidur adalah beberapa tips agar tidak termakan oleh amarah. Tapi jika sudah marah, masihkah kita mengingat tips-tips itu?

Bunyi klakson, rasa lapar, dan basah kehujanan. Apa yang mampu mempercepat tersulutnya emosi saya? Ternyata bunyi klakson peringkat pertama. Bagi sebagian besar orang memang terasa aneh, namun begitulah adanya saya. Emosi saya gampang tersulut bila di klakson tak jelas dari belakang. Kadang saya balas dan bisa jadi menimbulkan adu mulut hingga adu jotos. Sekarang ini saya rasa tak ada gunanya penciptaan dan penemuan klakson, fungsinya beralih dari “peringatan dan menyapa” menjadi “intimidasi dan pamer”.

Akhh… Hari ini penuh emosi, amarah. Kata orang Makassar PANAIK CERAQ, naik darah. Semoga besok tidak emosian lagi, berhubung puasa Ramadhan. Marhaban Ya Ramadhan.

Advertisements

2 thoughts on “Hari Yang Melelahkan, Penuh Amarah

  1. Atur aja semua biar sesuai keinginanmu nak, jika umurmu sudah cukup membuatmu berpikir logis maka saat itu kamu tau siapa dirimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s