Postingan Terakhir [mode:off]

Twit Terakhir Uje

Pada akhirnya… Semua akan menemukan yang namanya titik jenuh… Dan pada saat itu… kembali adalah yang terbaik. Kembali pada siapa..??? Kepada “DIA” pastinya… Bismi Ka Allohumma ahya wa amuut…
Uje…

Itulah kicauan terakhir Uje –Ustadz Jefri Al-Bukhori, sang ustadz gaul yang fenomenal itu. Beberapa minggu kemudian, sebuah kecelakaan motor menjemput Uje menemui ajalnya. Dari penelusuran langsung ke laman Twitter Uje, twit tersebut diposting tanggal 14 Maret 2013 yang terforward dari akun Path beliau. Twit sebelum itu bertanggal 29 Oktober 2012 yang menandakan kevakuman dari dunia perkicauan selama hampir 5 bulan. Setelah twit 14 Maret sebenarnya ada delapan twit di bulan April, tapi hanya berupa twit reply-an dari mention followersnya. Fakta ini membuat kebanyakan dari kita menganggap twit terakhir tersebut menjadi pertanda kepergian Uje untuk selama-lamanya.

Kemudian saya bayangkan seandainya Uje gemar berkicau (dan twitnya tentu yang “baik” saja semacam nasihat atau kutipan ayat Al-Qur’an), paling tidak sehari satu kicauan seperti contohnya : “Alhamdulillah tiba di rumah dengan selamat, saatnya istirahat. Sampai jumpa lagi twips, tetap istiqomah” atau “Ya Rabb, ampuni hamba-Mu” dan kemudian beliau wafat secara tiba-tiba. Twit terakhir tersebut tetap saja akan dikait-kaitkan sebagai pertanda mendekatknya kematian. Fenomena “pertanda” kematian ini memang ada di masyarakat kita. Bagaimana kemudian sejak dulu kita menghubung-hubungkan mimpi terakhir atau perilaku yang dianggap “aneh” oleh seseorang sebelum kematiannya sebagai sebuah pertanda. Sekarang, “kicauan terakhir” sepertinya akan menjadi fenomena tersendiri.

Perkembangan penggunaan akun jejaring sosial akan menjadi saksi fenomena “pertanda” kematian ini. Bisa jadi pertanda tersebut akan muncul di kicauan terakhir di Twitter, atau status terakhir di Facebook, atau tulisan terakhir di blog. Tidak adanya pengetahuan kita tentang kapan datangnya ajal menjadikan kita hanya mampu menebak-nebak sampai menghubung-hubungkan sebuah fenomena “aneh” ketika seseorang berpulang. Ketika saya menulis tentang ini, adakah diantara anda yang berpikir ini adalah pertanda kematian saya segera? Sepertinya tidak ada kecuali ajal memang menjemput saya setelah memposting ini.

Teringat beberapa teman yang telah mendahului, akun jejaring sosialnya masih bisa diakses tanpa ada yang menonaktifkannya, entah sampai kapan. Beda halnya dengan buku yang bisa hilang atau musnah terbakar atau hosting dan domain blog berbayar yang mempunyai batas masa pakai, postingan di jejaring sosial termasuk blog gratisan akan tetap ada selama internet belum mati atau perusahaan penyedia layanan tidak gulung tikar. Jejak di internet bisa diakses siapapun, kapanpun, dimanapun. Seterbuka itu.

Bagaimana seandainya saya menulis sesuatu yang buruk, mengumpat dan mencela pihak lain di blog ini, atau menjelek-jelekkan orang lain dalam kicauan Twitter atau status Facebook? Postingan tersebut akan menjadi cerminan terakhir dari pribadi saya yang tentunya akan dipandang buruk oleh yang membacanya. Sebaik apapun pribadi kita, atau sebaik apapun pencitraan kita dari tulisan atau kicauan sebelum-sebelumnya itu tidak banyak berpengaruh. Tulisan terakhirlah yang dilihat khalayak sebagai cerminan diri kita. Selama akun jejaring sosial semacam Facebook, Twitter, atau platform Blog masih aktif atau tidak diretas, tulisan terakhir tersebut akan aktif dan dapat diakses hingga akhir zaman.

Oleh karenanya, saya jadi takut ngeblog, dalam artian khawatir memposting sesuatu yang jelek-jelek, tidak bermanfaat, dan mungkin menyakiti orang lain. Bukannya bosan ngeblog, mungkin mulai hari ini dan selanjutnya akan selektif dalam memposting tulisan di blog ini. Tidak seintens dulu yang bahkan hingga mewajibkan diri sendiri untuk ngeblog tiap hari dengan ikut tantangan postaday. Walaupun jarang lagi menulis disini dan terkesan ada yang ditutup-tutupi, munafik, itu lebih baik daripada saya menulis yang buruk, jelek dan tidak bermanfaat. Siapa tahu sang malaikat pencabut nyawa datang menjemput sedetik, semenit, sejam, sehari, seminggu, sebulan, setahun kemudian, atau bahkan sebelum tulisan ini sempat saya posting.

Tapi…… ini bukan akhir kiprah saya dalam ngeblog, mungkin foto dan tulisan abal-abal saya alihkan kesini :))

Teringat kalimat Pakde Cholik “Ngeblog itu enak, tapi tidak seenaknya!”, sesederhana itu transformasi pemikiran saya akan eksisnya blog ini. MENULIS YANG BAIK ATAU DIAM. Sampai jumpa lagi, temans…. 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Postingan Terakhir [mode:off]

  1. yup,
    petanda kematian memang ada. apalagi orang-orang kita banyak yg percaya hal-hal mistis.
    saya juga kadang melihat-lihat akun fb teman yang sudah meninggal. itu mau dipajang sampai kapan ya? begidik juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s