Ayah [mode:on]

Di depan ruang operasi. Hening. Hanya bibir yang merapal doa dan mantra demi keselamatan Sar dan calon buah hati kami. Sekira jam 12.45 siang, tangisan seorang bayi pecah. Saya bergeming. Batin saya, mungkin itu bayi si pemuda yang berdiri di samping saya yang juga bernasib seperti saya, menunggui istrinya. Saya tak mau kepedean, biarlah tunggu dulu untuk kepastiannya. Beberapa menit berlalu, seorang perawat keluar dari ruang operasi sambil menggendong bayi mungil dan menyebut nama Sar “keluarganya bu Febriyani? Anaknya perempuan”. Alhamdulillah. Hanya itu yang mampu terucap di bibir dan hati ini. Saya telah menjadi seorang AYAH.

Hari Senin itu, 9 September 2013, 11 hari sebelum dua tahun pernikahan kami, hadiah terindah dari Tuhan hadir di muka bumi. Titipan Tuhan berupa anak dianugerahkan pada kami, sungguh kebahagiaan tiada tara. Hari perkiraan lahir dari dokter sebenarnya bertanggal 15 September, lebih cepat 4 hari dari HPL yang saya hitung sendiri dengan kalkulator kehamilan. Namun setelah rutin cek kehamilan, vonis dokter jika cairan ketuban Sar yang sangat kurang mau tak mau membuat kami khawatir. Konon cairan ketuban kurang akan sangat menyulitkan kelahiran normal, karena air ketuban selain jadi nutrisi janin, juga berfungsi sebagai pelumas saat persalinan.

Saat periksa terakhir tanggal 7 September, dokter menyarankan untuk dirangsang. Namun untuk apa? Takutnya jika dirangsang pakai obat tetap saja susah keluarnya dengan normal. Dokter yang baik hati itu kemudian menyarankan untuk pikir-pikir dulu. Saya katakan dokter baik hati karena konon kebanyakan dokter kandungan dengan serta merta menyarankan untuk operasi caesar. Kalau dokter ini tidak, malah menyarankan untuk meminta restu dan doa orang tua sebelum memutuskan pilihan proses persalinan, normal atau operasi.

Setelah pikir-pikir, meminta saran keluarga dan orang tua, kami memutuskan untuk bersalin dengan operasi caesar. Sar tidak mau dirangsang karena pengalaman saudara-saudara sebelumnya yang merasakan sakit teramat sangat saat dirangsang yang ujung-ujungnya operasi juga. Daripada sakit dua kali, mending langsung operasi sectio caesar. Kami juga khawatir menunggu lama hingga HPL tanggal 15, takutnya kenapa-kenapa dengan si kecil dalam perut. Kekhawatiran juga makin menjadi saat melihat perut Sar yang makin lama kelihatan makin menyusut, tidak sebesar bulan ke-7. Ditambah aktivitas si kecil dalam perut yang makin jarang membuat kami membulatkan tekad operasi caesar.

Setelah janjian dengan dokter, waktu operasi ditentukan tanggal 9. Bukannya terburu-buru dan mengepas-ngepaskan dengan hari ulang tahun Sophia, memang hari itulah yang dipilih. Lebih cepat lebih baik. Saya sebenarnya menunggu “nomor cantik” tanggal kelahiran di bulan September ini antara 130913 (hari Jumat) atau 170913 (hari ulang tahun pernikahan kami). Namun kedua tanggal tersebut dirasa terlalu lama. Kami takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada si kecil dan ibunya jika menunda terlalu lama. Trauma kami kehilangan kesempatan mempunyai anak tahun lalu karena keguguran hadir kembali. Belum lagi riwayat kehamilan Sar kali ini yang pernah jatuh dari motor dan terbentur di bagian perut membuat kami ekstra was-was. Kami tak mau trauma tersebut terulang kembali dengan cara berusaha menjaga kehamilan Sar seketat mungkin, walaupun Tuhan jugalah yang menentukan.

Hari yang ditunggu tiba, proses persalinan di Rumah Sakit Bersalin Plat merah ternyata sangat rumit (akan saya tuliskan secara khusus). Namun akhirnya operasi caesar berakhir dengan sukses walaupun dramatis. Setelah suster menyatakan itu anak saya, pukul 12.48 itu, si kecil yang berbobot 2750 gram dan panjang 45 cm itu saya qamatkan di sebuah ruangan. Dan betullah kekhawatiran kami, perawat mengatakan kalau si kecil tadi waktu lahir tidak langsung menangis. Bahasa medisnya ASFIKSIA, tidak bernafas karena tersumbat, sehingga dokter melakukan tindakan khusus. Setelah dilahirkan, si kecil pun mesti diobservasi di inkubator karena kebanyakan lendir dari mulutnya, mungkin si kecil sempat meminum cairan ketuban ibunya, entahlah. Alhamdulillah si kecil cepat pulih dan bisa dirawat gabung dengan ibunya di hari ke-3. Hari ke-4, kami sudah bisa pulang ke rumah.

Kelahiran si kecil bagai sebuah mimpi, kebahagiaan tak terkira menjadi seorang ayah. Pasti demikian rasanya saat Bapak menerima kehadiran saya di dunia, dan pastinya untuk semua ayah di muka bumi. Kewajiban pertama seorang ayah adalah memberi nama anaknya dengan nama yang baik. Sebelumnya saya belum mempunyai stok daftar nama perempuan. Saya masih menganggap pamali jika memberi nama sebelum kelahiran. Tidak ada yang tau secara pasti anaknya laki-laki atau perempuan sebelum dilahirkan, belum lagi kekhawatiran masalah persalinan yang bisa saja terjadi.

Setelah googling dan bermufakat dengan Sar, akhirnya terpilihlah nama si kecil. KALILA TSABITA NINDYARI, yang berarti yang tersayang yang kuat putri Yasir dan Sari. Nama yang tentu saja akan menjadi doa buat si kecil sepanjang hidupnya. Kewajiban seorang ayah selanjutnya, menjaga si kecil, mencukupi kebutuhannya, dan membimbingnya dengan baik. Semoga saya bisa menjadi ayah yang baik. Cepatlah besar nak, tetaplah sehat dan kuat, semoga menjadi anak yang baik dan shalehah. Kalau sudah pandai ngomong, panggilah aku AYAH.

Advertisements

7 thoughts on “Ayah [mode:on]

  1. barokallohu ya. kehadiran Kalila semoga menambah kebaikan, kebahagiaan dan keberkahan keluarga. insya Alloh berikutnya bisa normal yaa….:)

  2. Terharu bacanya Mas. Jadi inget masa-masa nunggu lahiran di dalem ruang lahiran. Selamat sekali lagi Mas.
    Jadi inget beberapa minggu sebelum lahiran, posisi kepala anak saya masih di atas, dokternya bilang, kalo mau cepet lahiran dirangsang aja, diinduksi. Trus saya langsung nyolot bilang gak mau ke dokternya. Eh dokternya senyum, trus bilang:
    “bukaaan, maksud saya ya bapaknya yang rajin-rajin kasih induksi alami, sering-sering ditengokin atuh si Kakaknya yang di dalem.” Hihihi..
    Semoga selalu buat ayah, bunda dan Kalila ya Mas.. 🙂

    1. Terima kasih mas.. Iya, saya juga sering induksi alami 🙂 tapi takdir berkata lain, mesti operasi.. Saya mesti banyak belajar dari mas Dani ngasuh si kecil nih.. Sekali lagi, terima kasih mas.. 🙂

  3. Selamat pak! Sy ikut mendoakan, semoga si kecil kelak menjadi apa yg diharapkan kedua orang tuanya. Dan tentunya tetap sehat. Amin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s