“Beasiswa Hanya Mimpi ?”, Tanyaku

Beasiswa Hanya Mimpi

Kabar burung itu datang saat lagi sibuk-sibuknya di Rumah Sakit menghadapi persalinan Sar. Lewat SMS, konon saya dan beberapa teman lulus administrasi beasiswa BPPSDM Kesehatan tahun ini. Saya tak sempat lagi membuka pengumuman resminya di internet, tak ada akses internet dan pikiran fokus ke persalinan Sar dan Lila yang baru lahir. Saya hanya mbatin dan nyaris tak percaya, beasiswa itu sudah saya lupakan karena perkembangannya tak jelas, selalu diundur, sering ditunda. Kalau pun benar, beasiswa itu rejeki buat Lila.

Dulu, mendengar kata BEASISWA, saya langsung membayangkan orang cerdas pandai berkacamata yang tak pernah lepas dari buku. Di benak saya, beasiswa sejatinya diberikan pada dua kriteria saja : orang yang kurang mampu membiayai sekolahnya, dan orang yang istimewa memiliki kemampuan di atas rata-rata. Dua hal pokok itu sajalah kriteria penerima beasiswa. Apalah lagi jika calon penerima beasiswa adalah orang yang cerdas pandai lagi miskin. Pemerintah akan sangat berdosa jika tidak memberi beasiswa pada dua kriteria ini. Jika diluar kriteria itu saya anggap beruntung, atau ekstrimnya “mencuri” yang bukan haknya. Saya “agak keras” tentang pandangan ini, mungkin saya cemburu karena tak pernah dapat beasiswa, padahal kedua kriteria tadi saya penuhi. Lagian, beasiswa saya anggap dari negara yang otomatis dari uang rakyat. Belum ada cerita tersiar sampai ke telinga jika beasiswa juga diberikan oleh pihak swasta, dari perusahaan minyak hingga perusahaan rokok. Di pikiran saya, sungguh beruntung orang yang mendapat beasiswa. Orang tuanya tak perlu repot-repot memikirkan biaya sekolah si anak. Memang kala itu saya tidak mempunyai kenalan atau teman yang mendapat beasiswa. Nikmatnya mendapat beasiswa hanya terdengar lewat pergunjingan teman atau guru yang tak sengaja terdengar.

Bayangan tersebut berlaku hingga saya duduk di bangku kuliah. Hampir tak dapat dipercaya, saya memperoleh bantuan beasiswa. Saya adalah salah seorang dari hampir semua mahasiswa yang beruntung mendapatkan beasiswa. Kala mahasiswa S1 semester kesekian saya mendapatkan beasiswa B3M yang lalu berubah menjadi beasiswa PPA semester berikutnya. Padahal prestasi akademik saya standar saja, tak ada yang istimewa kecuali IPK yang selalu di atas 3 selepas semester 2. Kriteria “beruntung” sedang menghampiri saya. Besarannya uang beasiswa yang diperoleh lumayan bagi mahasiswa pas-pasan seperti saya. Lupa jumlahnya, tapi lumayanlah buat bayar SPP yang masih disubsidi orang tua dan sisanya masih bisa buat sedikit jajan. Sejak saat itu, pandangan saya tentang BEASISWA sedikit berubah, kalau awalnya hanya untuk orang miskin namun cerdas, sekarang akses mendapatkan beasiswa terbuka untuk semua orang, orang yang beruntung.

Namun walaupun mendapat beasiswa, saya masih juga mbatin. Mengapa banyak orang yang tidak melanjutkan sekolah atau kuliah? Masih banyak yang menganggur di rumah atau rela bekerja tanpa melanjutkan pendidikan karena tidak mempunyai biaya sekolah. Ternyata untuk mendapatkan beasiswa, salah satu syaratnya adalah sudah menjalani pendidikan, paling tidak, telah melewati semester pertama yang sedang berjalan. Syarat yang saya pikir rancu karena justru orang tidak sekolah karena tidak mampu membayar biaya masuk sekolah. Mereka tidak mau “berjudi” dengan ketidakpastian. Siapa tahu iming-iming mendapat beasiswa setelah ikut sekolah ternyata ujung-ujungnya tidak dapat. Beasiswa butuh modal awal, modal membayar SPP semester awal, itupun dengan segala resiko ketidakpastian mendapat beasiswa.

Cerita tentang perjuangan mendapatkan beasiswa berlanjut sekarang ini. Plot ceritanya bertambah rumit karena saya sudah berstatus PNS daerah. Memperoleh beasiswa tidaklah mudah, masih banyak senior di daerah yang mesti dilalui, walaupun saya yakin kapasitas saya selaku abdi negara tidak kalah dengan senior-senior tersebut. Kalau akhirnya mendapat beasiswa, bersiaplah disentimeni oleh senior yang kebetulan tidak mendapat beasiswa, bersiaplah juga mengurus segala birokrasi yang berbelit demi seleksi berkas beasiswa. Beda halnya dengan beasiswa bagi kalangan pendidik seperti pengajar/ dosen. Sepertinya beasiswa bagi kalangan ini melimpah dan sangat mudah, baik dalam maupun luar negeri.

Kisah saya mendaftar beasiswa sejak tiga tahun lalu (tahun 2011). Beberapa alasan dan pertimbangan saya mengusul beasiswa selain dua hal pokok di atas (cerdas dan miskin) adalah :
1. Masa pengabdian sudah lebih dari cukup. Masa tugas saya sudah lebih dari dua tahun.
2. Tempat kuliah harus dekat dengan keluarga. Selain biaya hidup yang murah jika bersama keluarga, saya belum sanggup LDR dengan orang tua dan Sar (saat itu masih persiapan menikah). Pilihan kuliah di pulau Sulawesi, bukan di pulau Jawa. Salah satu universitas yang berakreditasi A di pulau Sulawesi adalah Universitas Hasanuddin (Unhas), dan itu satu-satunya pilihan.

Tahun 2011, saya mengusul beasiswa BPPSDMK ke bagian kepegawaian kantor di saat injury time. Kebetulan saat itu saya telat mengetahui informasinya. Pengumpulan berkas yang hanya satu hari membuat saya kelabakan dan hampir patah semangat. Tapi, beberapa senior tetap menyemangati, jadilah saya mendaftar apa adanya. Bisa ditebak, bagian kepegawaian kantor tidak bisa merekomendasikan saya dengan alasan banyak berkas yang mesti diurus secara kolektif. Konon salah satu yang paling berat pengurusannya adalah analisis jabatan yang mengurusnya harus lewat BKD. Entah itu benar adanya ataukah hanya upaya menjegal semangat saya. Saya pasrah, batal melanjutkan perjuangan karena ternyata jurusan yang bakal saya tembak di Unhas (Epidemiologi) tidak masuk dalam daftar BPPSDMK. Untuk Unhas hanya ada Hukum Kesehatan yang tidak saya minati. Belum rejekinya saya dapat beasiswa tahun ini.

Tahun 2012 saya mendaftar lagi, tapi kali ini pusat (Kemenkes) lewat Dinkes Provinsi merekomendasikan nama saya untuk dapat beasiswa FETP Unhas. Jika jadi, saya dan penerima beasiswa lainnya (ada belasan orang) akan menjadi mahasiswa FETP pertama di Unhas. FETP Unhas baru mau dibuka tahun itu dan kami adalah mahasiswa pertamanya. Setelah bolak-balik mengurus berkas, bahkan sampai meminta rekomendasi akademik dari dua orang guru besar, ternyata FETP Unhas tidak jelas juntrungannya. Konon FETP Unhas tidak jadi dibuka karena belum memenuhi beberapa persyaratan krusial. Selain itu, ternyata belum ada MOU antara pihak FETP Unhas dengan Kemenkes mengenai kerjasama penyelenggaraan bantuan beasiswa ini. Bayangan sekolah di depan mata pupus dalam sekejap. Lagi-lagi belum rejeki saya dapat beasiswa tahun ini.

Tahun 2013 kembali saya mendaftar beasiswa BPPSDMK, bukan saat injury time seperti tahun 2011, tapi saat extra time. Masalah klasik, tidak ada informasi yang cepat sampai di telinga. Pengiriman berkas pun dilakukan susulan via Dinas Kesehatan Provinsi. Bukannya kebetulan, ternyata Kemenkes mengundur jadwal penerimaan berkas hingga dua minggu, membuat harapan lulus berkas tetap ada.

Berikut ini skrinsut Dokumen Seleksi Administrasi
bea
bea 2

Setelah dinyatakan lulus berkas seleksi administrasi, syarat selanjutnya yang mesti disetor berkasnya adalah :
bea 3

Masalahnya kemudian, salah satu berkas yang mesti dikumpulkan adalah Tanda registrasi (bukti pembayaran biaya pendidikan di Universitas). Yang tidak mungkin ada bagi yang belum membayar SPP. Mundurnya jadwal pengumuman dan sudah tetapnya (bahkan telah berjalan) jadwal perkuliahan tidak dapat disatukan. Syarat ini jadi masalah pelik karena :
1. Awalnya, seleksi berkas tidak mensyaratkan membayar SPP. Biaya SPP semester awal di Pasca Sarjana Unhas kelas reguler berkisar Rp. 5,1 juta.
2. Pihak Universitas sudah menjalankan perkuliahan, pembayaran SPP sudah ditutup.
3. Kebanyakan yang lulus administrasi tidak berniat “memodali terlebih dahulu” biaya kuliah semester pertama. Catatan : Bedakan antara yang “niat kuliah” dengan “niat beasiswa”. Yang sudah kuliah memang niat kuliah, perkara dapat tidaknya beasiswa itu urusan belakangan. Konon dari 30-an orang yang lulus administrasi, 12 diantaranya sudah kuliah.
4. Tidak semua yang lulus administrasi otomatis mendapatkan beasiswa. Dari selentingan kabar di provinsi, SulSel hanya mendapat jatah 9 quota, yang berarti hanya 9 diantara 12 orang yang sudah kuliah yang mendapatkan beasiswa. Berarti ada 3 yang gugur.

Otomatis, peluang saya hampir 0% mendapatkan beasiswa dengan persyaratan ini. Saya tidak mau berjudi dengan membayar SPP karena tidak termasuk ke 12 orang tersebut yang berpeluang mendapatkan beasiswa. Saya masih memegang teguh dua kriteria pokok peraih beasiswa, cerdas dan miskin. Kalau Kemenkes tetap memasukkan syarat Tanda registrasi (bukti pembayaran biaya pendidikan di Universitas) sebagai syarat pokok namun tidak ada kepastian juga, tahun-tahun kedepannya saya bakal sulit mengikuti beasiswa BPPSDMK karena kesulitan “modal awal”.

Kiranya ini jadi bahan pembelajaran bagi semuanya, terutama bagi yang berminat mengusul beasiswa. Kebanyakan beasiswa mensyaratkan penerimanya sudah terdaftar sebagai mahasiswa, sudah kuliah, sudah membayar SPP. Bagi pemberi beasiswa, mungkin sistem perekrutannya bisa diperbaiki, penerima beasiswa bukan melulu yang sudah kuliah. Saya masih berharap kebijakan ini dapat berubah, dan rejeki buat Lila tidak tertukar.

6 thoughts on ““Beasiswa Hanya Mimpi ?”, Tanyaku

  1. Berliku banget Mas syarat untuk mendapatkan beasiswa. Semoga bisa dapet rejekinya ya Mas..

    ———-

    Iya mas, ribet juga, itu pun masih banyak cerita yang tersensor.. Terima kasih mas, Amiin doanya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s