Ganti Nama Anak [mode:on]

image

Nama adalah doa, melekat seumur hidup kepada si empunya. Manusia mati pun hanya meninggalkan nama, makanya memberi nama bukan perkara mudah, apalagi menggantinya.

Hari ini tepat ulang bulan ke-3 Lila, putri kami. Lila sedang rewel-rewel dan lucu-lucunya. Masih teringat saat Lila lahir hingga sekarang ini. Tepat di hari ke-7 diadakan Aqiqahan Lila di rumah Bapak. Nama Kalila Tsabita Nindyari kemudian melekat padanya mulai hari sakral tersebut. Memang kewajiban seorang Ayah adalah memberikan nama yang baik pada anaknya dan nama tersebut telah melewati berbagai screening dan perdebatan sengit.

Nama tersebut adalah hasil googling dan artinya kurang lebih seperti ini. Kalila berarti yang terkasih atau kekasih. Kami memilih nama ini karena terdengar indah dan cocok artinya, Kehadiran Lila memang sudah lama dinanti dan saat masih dalam kandungan, Lila lah yang selalu “mendamaikan” kami. Sar yang awalnya memilih nama ini dengan penentuan ejaan dan kharakatnya diserahkan pada saya. Berulangkali saya googling, arti Kalila adalah tetap saja “yang terkasih”.Sedangkan Tsabita berarti teguh, kami ingin anak ini teguh pendiriannya, teguh imannya. Nama ini saya pilih dari requestan kakak ipar yang ingin nama “Tabitha”, namun setelah googling arti Tabhita (rusa jantan) tidak pas. Tabitha saya ganti Tsabita, mirip-mirip tipislah namun artinya jauh berbeda. Sedangkan Nindyari adalah gabungan kata (yang dipas-paskan) dari Nidya (perempuan) dan Yari (gabungan nama kami, Yasir dan Sari).

Hari Aqiqah, penentuan nama tiba. Secarik kertas berisi nama lengkap Lila saya berikan ke pak Ustadz untuk di doakan. Beberapa lama sang Ustadz menatap kertas tersebut, entah berdoa ataukah heran dengan namanya yang panjang. Beliau hanya berkelakar, “Subhanallah, panjang betul namanya… bakal repot kalau mengisi lembar jawaban saat ujian nanti.. hehehe”. Saya lega, tak ada yang komplain secara berlebihan atas pemberian nama ini. Jadilah saya keesokan harinya langsung ke Catatan Sipil untuk membuat akte lahir Lila.

Pengurusan akte lahir di Makassar ternyata sangat mudah. Di kantor Catpil, saya hanya melampirkan surat keterangan lahir asli Lila dari RS, fotokopi KTP suami-istri, Kartu Keluarga, dan Fotokopi surat nikah. Setelah itu petugas memberikan secarik kertas sebagai bukti pemasukan berkas. Akte kelahiran Lila pun jadi setelah menunggu selama 2 minggu. Seringkas itu, gratis pula! Saya jadi heran dengan orang-orang tua yang malas mengurus akte kelahiran anaknya dengan alasan ribet.

Masalah kemudian muncul beberapa hari kemudian. Bukan masalah serius tapi membuat tidak enak hati. Seorang teman menanyakan nama lengkap Lila, ternyata nama anak kami serupa tapi tak sama. Nama anaknya Khalila (dengan tambahan hurup H di depan K), artinya sama saja, yang terkasih. Wah, ada masalah nih, tak ada dua kebenaran dalam dua hal yang berbeda. Saya tetap bersikukuh kalau nama anak yang tepat adalah Kalila, karena sudah saya searching di internet. “Ah…sudahlah, mungkin sama saja”, gumam saya tak ingin memperpanjang debat.

Setelah itu beberapa hari kemudian Bapak juga bertanya, nama Lila pakai huruf H di depan K atau tidak. Saya jawab tidak, dan beliau sedikit komplain, kalau menurut beliau yang tepat itu Khalila, bukan Kalila. Beliau tidak tahu pasti apa arti Kalila, yang jelas beda artinya dengan Khalila. Saya mbatin, “Haloooo… mengapa Bapak tidak komplain saat aqiqah? mengapa baru bilang saat akte lahirnya sudah jadi? Ataukah saya yang terlalu lincah membuat akte lahir?”.

Sekitar dua bulan kemudian, kami mengadakan syukuran kelahiran Lila, sekalian pindahan rumah. Ada teman Bapak seorang ustadz yang hadir, beliau cakap berbahasa Arab. Pembicaraan 6 mata terjadi, Bapak bertanya pada sang Ustadz, “Ustadz, apa arti Khalila?”, Ustadz jawab “Kekasih”. Bapak bertanya lagi “Kalau Kalila ustadz”, serta merta sang ustadz teman Bapak jawab “Tumpul”. Saya terhenyak, langit seakan-akan mau runtuh, dunia kiamat! Sumpah serapah saya tujukan pada internet yang memberi referensi nama yang salah. Maksud hati memberi nama dengan arti yang baik, apalah daya saya terkelabui internet, tanpa kroscek ke yang ahlinya.

Akhirnya dengan sedikit diskusi dengan Sar, diputuskan mengganti nama Lila di akte lahirnya, dari Kalila menjadi Khalila. Kami tidak ingin Lila menderita dan menyesal seumur hidup akan pemberian nama yang keliru tersebut, walaupun pada awalnya sebenarnya niatan kami tidaklah demikian. Penggantian (atau koreksi huruf) nama ini tak perlu Aqiqah dan kurban kambing kembali karena bedanya hanya pada masalah huruf, bukan esensinya.Namun perkara mengganti nama di akte lahir konon tidak mudah. Tidak semudah mengganti nama file atau blog. Saya googling informasinya, memang bisa namun rumit dan dengan biaya yang tidak sedikit. Mesti ke pengadilan dulu untuk mengurus legal hukumnya, itupun dengan membawa dua orang saksi. Informasi awal tersebut saya tak telan mentah-mentah, saya tak mau tertipu oleh internet lagi. saya tetap berusaha langsung ke kantor Catpil pagi tadi untuk bertanggung jawab mengurus semuanya, apapun yang terjadi. Seribet dan semahal apapun akan saya jalani, asal nama Lila berubah menjadi baik.

image

Pagi tadi saya ke Kantor Catpil, kebetulan tak ada urusan lain. Di sana saya gemetaran dan komat-kamit semoga urusannya dimudahkan. Saya bertemu seorang petugas di pintu masuk dan memberitahu langsung ke loket. Di loket, saya hanya diminta mengisi formulir ganti nama, dan melampirkan akte kelahiran asli, fotokopi KK dan KTP, tanpa perlu ke pengadilan. Tanda terima berkas diberikan, dan petugas berjanji akan selesai dalam empat hari kerja. Soal berapa biayanya akan saya update disini nantinya, semoga gratis kembali.

Hikmahnya?
1. Jangan asal caplok nama di internet tanpa kroscek kebenaran artinya. Bertanyalah pada ahlinya. Pilihlah nama yang baik dalam hal indah didengar dan bagus artinya.
2. Mengurus akte kelahiran mudah dan ringkas. Asal mau berusaha dan meluangkan sedikit waktunya, tanpa minta bantuan calo.
3. Semuanya masih mungkin dan bisa dikompromikan, termasuk mengubah nama. Entahlah dengan perkara mengubah nama saat sudah dewasa, dimungkinkan namun sepertinya sedikit lebih rumit.

Update…
Perubahan akte kelahiran Lila akhirnya jadi juga, tepat di waktu yang kantor Catpil janjikan. Biayanya? (masih) gratis!!!

Advertisements

3 thoughts on “Ganti Nama Anak [mode:on]

  1. Kalau di tempat saya sekarang, akte lahir langsung dikeluarkan oleh RS, jd harus sudah punya nama setelah anak lahir, krn hari kedua sudah ditanya sama pihak RS, selembar kerta eh hanya selembar kertas kecil saja, lebih kecil dari lembar buku tulis biasa hehe

    Mudah2an urusannya lancar yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s