Jika Tua Nanti

Mati Tua

Tua itu pasti, dewasa adalah pilihan. Jika tua nanti, apakah hidup akan berakhir di panti jompo? Entahlah.

Angka harapan hidup Indonesia menduduki peringkat ke-108 di seluruh dunia. Secara keseluruhan (pria dan wanita), angka harapan hidup Indonesia adalah 70,76 tahun. Monako menempati urutan pertama dengan AHH 89,73 tahun, dan Swaziland urutan terakhir (191) dengan AHH 31,88 tahun. (data CIA World Factbook pada tahun 2011 dalam Wikipedia)

Hasil penelitian yang dilakukan Kementerian Kesehatan menunjukkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada 2014 umur harapan hidup masyarakat Indonesia rata-rata akan mencapai 72 tahun. Padahal, pada 2004, umur harapan hidup hanya pada kisaran 66,2 tahun. Pada perempuan, angka harapan hidup ini lebih besar, bisa lima tahun lebih tinggi. Peningkatan angka harapan hidup itu menyebabkan bertambahnya populasi penduduk berusia lanjut atau usia di atas 60 tahun. Pada 2000 lalu, jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia sekitar 5,3 juta. Pada 2010, jumlah itu meningkat tajam menjadi 24 juta. Meningkatnya angka harapan hidup menunjukkan perbaikan kesehatan masyarakat. Namun pemerintah mesti lebih waspada untuk mengantisipasi perawatan dan pengobatan penduduk usia lanjut. Penduduk lansia sangat rentan terhadap berbagai penyakit, seperti depresi, demensia, gangguan jiwa dan psikis, insomnia, dan gangguan sistem organ. Bila penyakit-penyakit itu tak segera diatasi, akan menjadi kronis. Hal ini menjadi pekerjaan besar bagi Kementerian Kesehatan untuk menyiapkan layanan kesehatan yang lebih baik.
tempo

Membayangkan jika hidup di Swaziland, kemungkinan hidup saya berakhir di pertengahan tahun ini. Tapi saya mau membayangkan yang enak-enak saja, membayangkan hidup hingga 70-an tahun, atau paling banter 63 tahun seperti usia Rasulullah Muhammad SAW. Kira-kira bagaimana kondisi kehidupan kita saat tua nanti?

Teringat saat ke Jepang beberapa tahun yang lalu. Orang tua yang sudah renta masih produktif. Mereka jadi cleaning service, security, ataupun supir bus, dengan tekunnya. Bukannya miskin dan serba kekurangan, orang tua tipe ini lebih senang bekerja daripada ongkang-ongkang kaki di rumah, mereka merasa jauh lebih sehat dan bugar apabila disibukkan dengan bekerja. Mereka jatuh sakit justru bila tidak bekerja, minimal stress melanda dan menggalau tak ada kesibukan.

Persoalannya kemudian, tidak semua orang tua bertubuh sehat. Kebanyakan dari mereka di negara berkembang seperti Indonesia sudah renta dan sakit-sakitan, yang berarti menjadi beban negara. Jika angka harapan hidup meningkat, akan banyak orang tua di kemudian hari, mungkin termasuk saya dan anda (jika dipanjangkan umurnya). Tentunya akan menjadi persoalan lain, termasuk persoalan kesehatan dan kesejahteraan. Semakin banyak orang tua (yang tidak produktif, ingin diperhatikan, dan sakit-sakitan), semakin banyak persoalan negara.

Jika melihat fenomena ini, bisnis paling menjanjikan di masa depan adalah bisnis rumah sakit dan panti jompo. Orang tua yang sakit-sakitan dimasukkan ke rumah sakit, sedangkan yang sehat dimasukkan ke panti jompo hingga ajal menjemputnya. Memang secara alamiah, semua orang ingin menghabiskan masa tua bersama anak-cucunya dan orang-orang yang disayangi. Namun perubahan karakter kebiasaan dan kebudayaan akan menyebabkan hal ini terjadi. Fenomena kedua orang tua (Ayah dan Ibu) yang bekerja di luar rumah menjadikan hal ini niscaya terjadi.

Seorang dosen, profesor, mengeluarkan teori ini di depan kelas. Entah bercanda atau bersungguh-sungguh, beliau mengatakan memilih tinggal di panti jompo jika tua nanti daripada tinggal sendiri apalagi bersama anak cucunya, sekaya apapun. Dasar pemikirannya, saat tua dan pensiun nanti akan ada beberapa opsi keberlanjutan hidup masa tuanya.

Pertama, tinggal sendiri, hanya ditemani istri dan asisten rumah tangga. Anak dan cucunya pasti sudah hidup masing-masing, sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Seperti di surga, dia tinggal menyuruh ART menyediakan ini-itu.

Kedua, tinggal bersama anak-cucunya, entah di rumah anaknya, ataukah di rumahnya sendiri. Memang dibayangkannya sangat nyaman dan menentramkan. Namun kenyataannya bisa lain bila dihadapkan dengan “menjaga cucu” yang ditinggal bekerja kedua orang tuanya –apalagi cucu yang umur balita yang lagi nakal-nakalnya—Sang cucu pasti ingin bermain, dikejar-kejar dan bentuk perhatian lainnya bukan hanya oleh baby sitternya. Sang kakek-nenek pun mau dan perlu diperhatikan. Lalu siapa yang memberi perhatian kepada siapa?

Ketiga, tinggal di panti jompo yang bonafid selayaknya hotel berbintang, bersama teman sebaya yang bisa saling curhat dan bertukar kisah hidup. Anak-cucu cukup datang seminggu sekali saat libur kerja atau sekolah. Tak perlu direpoti menjaga cucu, aktualisasi diri dengan teman sebaya pun dapat. Sungguh bahagianya.

Tapi pikiran tersebut akan dianggap kurang waras oleh sebagian orang yang berpikir normatif. Termasuk bapak-mamak (orang tua saya) yang kelihatannya sangat bahagia menjaga cucunya saat kami berangkat kerja. Mereka dan saya pun pasti akan menolak jika ditawari masuk panti jompo, berhubung panti jompo disini lebih menyeramkan dari penjara. Namun bagaimanapun, saya merasa berdosa dan bersalah menjebak mereka dalam kondisi seperti ini –menjaga cucu. Mungkin di saat tua nanti saya lebih memilih tinggal di panti jompo sambil menulis dan bercengkrama dengan sesama jompo dan membiarkan anak kami hidup mandiri bersama keluarganya.

Tapi pengandaian ini tak perlu dipikirkan dan dibayangkan terlalu jauh. Siapa tahu saya atau anda atau kita dicabut nyawanya sebelum tua nanti, atau sedetik kemudian.

Keterangan foto: Kupu-kupu mati karena tua di penangkaran kupu-kupu Bantimurung, Maros, SulSel.

6 thoughts on “Jika Tua Nanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s