Service Centre Laptop Lenovo Luar Biasa

Cerita bermula dari rusaknya laptop Lenovo Papa, monitornya tak bisa nyala. Sebulanan lalu, monitor tiba-tiba mati setelah sejam laptop dinyalakan, kemudian matinya berangsur lebih cepat, dan akhirnya sekarang tak bisa dinyalakan. Dari diagnosa abal-abal saya, kerusakan ada pada monitor atau terkena virus. Untuk penegakan diagnosa, kami berniat ke service centrenya, mumpung masih masa garansi. Laptop Lenovo Papa baru berusia 9 bulan, belum ada setahun.

Singkat cerita, kamipun ke tempat service yang tertera di kartu garansi, nama tokonya HND computer di MTC. Ternyata alamatnya tidak valid. Itupun kami diarahkan ke HND jl Ince Nurdin. HND MTC hanyalah toko penjualan, bukan service centre. Untuk mengobati rasa kecewa, Papa membeli laptop Dell yang bisa diputar layarnya 360. Harganya dua kali lipat laptop Lenovo pesakitan miliknya. Pokoknya laptop barunya keren, dengan layar sentuh bisa diubah jadi model tablet. Hari itu kami batal ke HND service centre Ince Nurdin, sudah hampir malam, pasti toko sudah tutup. Tugas ke service centre lalu Papa delegasikan ke saya.

26 Agustus, laptop saya bawa ke HND IN. Saya buta jalan, tak kepikiran juga buka google maps. Saya hanya berbekal keterangan karyawan HND MTC kalau HND IN berada di belakang gedung Manunggal, di dekat Ayam Goreng Sulawesi. Setelah beberapa kali mengitari gedung Manunggal, akhirnya HND IN ketemu, susah didapat karena jalur jalan satu arah. Mesti mutar jauh kalau kelewatan.

Saya lalu menyerahkan laptop yang dimaksud pada CS. Saya perlihatkan kerusakannya. Syukurlah Laptopnya masih dalam masa garansi, perbaikan gratis. Tak ada kerusakan fisik, sticker garansi di bagian bawah laptop masih utuh, tanda kalau laptopnya belum pernah diutak-atik. Tapi, si Laptop baru bisa diambil setelah 14 hari. Itupun akan dikonfirmasi lewat telepon kemudian mengenai kerusakan apa saja yang ada. Tak ada penjelasan CS mengapa bisa selama itu. Memang begitu mekanisme service garansi, katanya. Saya menyerah saja, mungkin memang demikian kalau gratisan. Ribet. Teringat waktu ponsel Sony Xperia Sar diperbaiki, masih dalam masa garansi tapi lama menunggu perbaikan sampai dua bulan. Mending ini laptop dua minggu, daripada ponsel dua bulan!

Saya cukup bersabar dalam masa penantian dua minggu tersebut, untunglah Papa ~si empunya laptop~ bisa mengerti. Papa hanya berharap kalau bisa data dan program yang ada dalam laptop tidak hilang karena hard disknya tidak bermasalah. Papa sungguh sabar, mungkin beliau sudah tidak terlalu berharap pada laptopnya itu, berhubung sudah punya laptop yang baru. Memang yang lama sudah dilupakan kalau ada yang baru. Tapi tetap saja beban mengurusi laptop dilimpahkan pada saya.

Setelah 14 hari, tanggal 9 September, tak ada pemberitahuan mengenai nasib si laptop dari CS HND padahal dia sudah berjanji akan memberi konfirmasi sebelumnya. Saya nekad ke HND, mumpung ada waktu lowong. Bolak-balik ke suatu tempat tak jelas tidak ada masalah sedikitpun bagi suami Jobless seperti saya. Keluhan hanya ditujukan pada panas matahari yang menyengat dan bensin motor yang menipis.

Seperti yang saya duga sebelumnya, perbaikan laptop belum kelar. Si CS mengatakan kalau “barangnya” masih dalam perjalanan. Saya diminta mengecek kembali sore hari atau besok paginya. Tapi saya bergeming, meminta si CS yang proaktif mengkonfirmasi kalau “barang” sudah ready. Saya pulang dengan tangan hampa, lelah, dan kehabisan bensin.

Tak ada konfirmasi dari HND tentang nasib si laptop hingga tanggal 11 September, batas kesabaran masih ada walaupun sudah menipis. Saya menelepon HND sore harinya, jawaban CS tetap sama, laptopnya belum ada (padahal dia memberi janji surga sejak kemarinnya). Yah sudahlah, toh gratisan tak bayar. Memang begitu laptop bagus, salah konsumen kenapa membelinya.

Akhirnya tanggal 14 September telepon dari HND tiba, suara seorang laki-laki, sepertinya suara teknisinya. Singkat saja ucapannya, barangnya sudah ready pak, katanya. Karena sibuk, baru pada tanggal 16 September saya pergi mengambil si laptop. Ditemani Sar, siang bolong kami ke HND IN. Jarak rumah ke HND adalah satu jam perjalanan. Bayangkan bagaimana hangusnya kami ditengah perjalanan, naik motor soalnya, demi laptop yang bukan punya kami. Hehehe.

Sampai di HND IN, ngantri sebentar, lalu menyerahkan nota service ke CS. Tak berapa lama kemudian, laptop keluar. Saya lalu mengeceknya. Tombol on saya tekan namun si laptop tak mau menyala, penyakitnya tak sembuh, gejalanya tak berubah. Saya tanyakan ke CS, dia bilang lowbet. Si CS kemudian memberikan kabel charger punyanya. Tapi si laptop tetap tak mau menyala. Si laptop kemudian dimasukkan lagi ke dalam, mungkin di cek lagi. Tak lama kemudian si laptop keluar. CS kemudian bilang kalau si laptop harus disimpan kembali, diservice lagi. Kerusakan pada fleksibelnya. Hampir saya kehabisan kesabaran dan mengamuk sejadi-jadinya. Saya kecewa mengapa laptop tidak dilakukan pengecekan ulang sebelum menghubungi saya. Rumah saya jauh tau!!

Saya bilang ke CS agar dihubungi secepatnya. Si CS bilang saya sudah dihubungi sejak tanggal 11 tapi telepon tak saya angkat, makanya dia SMS. Saya katakan tak ada telepon apalagi SMS konfirmasi sebelumnya. Si CS bertahan bilang ada. Saya minta diperlihatkan kotak keluar SMSnya, si CS mencari dan tidak ketemu, lalu bilang SMSnya sudah dia hapus. Saya mengerti kalau si CS cuma ngeles, sudahlah.

Untunglah akal sehat masih jalan, walaupun kecewa saya iyakan saja. HND itu cuma toko tempat penitipan service centre resmi yang ada di Jakarta. Seluruh barang yang “bermasalah” dititip saja di HND untuk dibawa ke Jakarta. Ibarat terminal, HND hanya persinggahan sementara sebagai perantara barang.

Tidak ada yang bermasalah selain yang punya laptop. Siapa suruh beli laptop bagus. Tapi kalau kinerja service centre begini, merugilah mungkin perusahaannya. Anggaplah laptop diservice di service centre (SC) pusat, teknisi di SC hanya melihat nota service. Kalau nota service ditulis “kerusakan monitor”, maka teknisi SC langsung mengganti monitor tanpa melakukan pengecekan ulang terlebih dahulu. Bayangkan berapa harga monitor yang diganti padahal mungkin tidak rusak. Si teknisi SC langsung mengirimkan kembali barang yang dia anggap sudah diperbaikinya. Sesampainya barang di “cabang”, teknisi cabang tidak memeriksa ulang laptopnya sudah bagus atau belum, dia langsung menghubungi pemilik laptop ( kostumer) bahwa laptopnya sudah ready padahal tidak dia periksa.

Bayangkan saja kalau kostumer tidak langsung datang mengambil barangnya. Tentu saja selama itu pula si laptop masih dalam keadaan rusak. Akumulasi waktu tersebut yang membuat laptop lama menganggur. Ah sudahlah, pihak Lenovo juga tak mungkin memberi laptop baru yang canggih untuk kostumer yang sedang sial seperti kami. Mari kembali menunggu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s