Secercah Bahagia dari Uang Receh

Es Krim Murah AW

Siang itu saya ke sebuah toko elektronik di bilangan jalan Veteran, mencari kabel LAN. Toko lumayan ramai pengunjung. Seorang bapak, pelanggan lain sedang menghitung uang, kemudian terlibat percakapan dengan pelayan toko. “Duh, kurang duaribu uangnya dek… Ini dulu nah, nanti lain kali saya bayar kurangnya”, kata si bapak. “Duh pak, saya cuma pelayan”, pelayan toko menolak memberi keringanan. Air muka si bapak berubah pucat, mencari sereceh dua receh uang koin dan kertas di kantongnya, mengobok-obok isi dompetnya demi mencari uang duaribu perak. Jika saya menjadi si Bapak, mungkin saya pun berpikir jauhnya pulang ke rumah gara-gara duaribu perak.

Saya menguping pembicaraan tersebut, kemudian pura-pura bertanya kepada si Bapak. “Kenapa Pak?”. “Anu Pak, uangnya kurang duaribu”, jawab si Bapak agak malu. Saya kemudian mengeluarkan uang empat ribuan dari kantong, dua ribu saya kasih ke Bapak, dua ribu saya masukkan kembali ke kantong, persiapan bayar parkir. Si Bapak kemudian setengah mati berterima kasih pada saya. Saya tersenyum dan berlalu pergi, sambil mengangkat telepon yang tiba-tiba berbunyi.

Maaf, tulisan ini bukannya untuk pamer kalau saya sudah berbuat baik hari ini. Saya cuma mbatin, sekeras itukah kehidupan? Perkara duaribu, bisa jadi panjang urusan? Memang betul kata orang, kadang kita meremehkan uang receh duaribuan, tapi bukankah tak ada seratus ribu bila tak ada uang duaribu yang menggenapkan uang sembilanpuluhdelapanribu? Dilain sisi, tanpa sadar kadang kita hamburkan uang demi segelas es krim di mall, atau mengisi kartu temson demi permainan tak jelas, atau membiarkan uang receh tergeletak di lantai. Saat butuh, baru kita merindukan “uang kecil” tersebut.

Saya bayangkan kalau saya yang berada di posisi si Bapak, ada beberapa pilihan bagi saya sih. Pertama, telepon Sar suruh transfer duit. Kedua, tebal muka minjem ke tukang parkir, cincin batu akik saya simpan buat jadi jaminan. Ketiga, tak jadi beli itu barang. Tapi, ada sedikit rasa penyesalan, mengapa saya tak memberi uang lebih ke si Bapak. Mudah-mudahan beliau tak berurusan panjang dengan tukang parkir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s