Kisah Telunjuk Sang Raja

Lukisan abstrak

Alkisah di suatu kerajaan, seorang raja berburu ke hutan bersama penasehat dan pengawalnya. Celaka bagi sang raja, telunjuknya tertusuk duri tumbuhan beracun. Sepulangnya ke istana, dokter kerajaan menyarankan agar telunjuk sang raja diamputasi agar racunnya tidak menyebar ke seluruh tubuhnya. Singkat cerita, telunjuk sang raja dipotong, lalu curhatlah dia pada penasehatnya.

“Wahai penasehatku, sungguh sial diriku, dari sekian banyak orang berburu ke hutan, hanya telunjukku ini yang kena racun. Padahal, telunjuk ini punya seorang raja. Bagaimana menurutmu?” tanya sang raja. “Maaf paduka, menurut hamba paduka raja sungguh masih beruntung”, jawab penasehat. “Beruntung katamu? Sungguh lancang dirimu berkata demikian! Aku ini seorang raja, dan tak ada telunjuk seperti ini kamu katakan sebuah keberuntungan?” murka sang raja. “Tapi, paduka masih hidup bukan?”, timpal penasehat. “Ini bukan soal aku masih hidup atau tidak, tapi soal telunjuk! Bukankah sungguh sial aku diantara kalian-kalian yang bersamaku ke hutan!?”, sang raja makin murka, kemudian menyuruh pengawal memenjarakan penasehat.

Penasehat kemudian dipenjarakan. Sang raja pun kembali meneruskan hobinya berburu ke hutan, dia tidak jera. Berburu ke hutan ditemani pengawal-pengawalnya, tanpa penasehat. Suatu saat dalam perburuannya di hutan, rombongan raja dicegat oleh suku kanibal. Seluruh pengawal dimangsa dengan lahapnya, hanya tinggal raja yang hidup, tidak dimakan. Sang raja heran dan bertanya pada ketua suku kanibal “Ada apa gerangan wahai kanibal, mengapa kalian memakan Semua pengawalku dan menyisakan diriku?”. Ketua kanibal berkata “Maaf, kami hanya memakan manusia-manusia yang sempurna fisiknya. Kami melihat engkau tak punya telunjuk, kamu tidak sempurna! Pulanglah! Urus itu telunjuk!”.

Dan pulanglah sang raja ke istananya dengan suka cita, tak jadi mati. Didatangi dan dibebaskannya sang penasehat Karena menganggap penasehat benar dan berjasa, sungguh inilah yang dimaksud keberuntungan oleh penasehat. “Oh penasehat, maafkan diriku, ternyata engkau benar, karena telunjukku yang terpotong malah membawa keberuntungan”, kata sang raja. “Oh begitu paduka? Justru hamba yang berterima kasih pada paduka karena telah memenjarakan hamba”, jawab penasehat. “Mengapa demikian? Engkau mengolok-olokku lagi?” tanya sang raja. “Tidak paduka, hamba tulus mengucap terima kasih. Jika hamba tak dipenjara, tentulah sudah ikut berburu ke hutan bersama paduka. Hamba masih mempunyai anggota tubuh yang lengkap yang tentunya disukai oleh suku kanibal”

Sang raja tertegun, memaknai syukur atas keadaan bagaimanapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s