Rumah sederhana baginda Rasulullah Muhammad SAW

BEGINI KIRANYA RUMAH ITU

‘Umar menangis menyaksikan tubuh yang berbaring miring itu. Lelaki tinggi besar itu tertunduk miris menyaksikan punggung Sang Kekasih Allah tergurat bilur bekas tertekan pelepah kurma yang jadi alas peraduannya.

Sosok agung itu terjaga, tersenyum, dan berkata, “Mengapa engkau menangis ya Ukhayya?”

“Aku teringat Kisra Persia dan Kaisar Romawi”, sahut ‘Umar sambil menyeka airmatanya, “Mereka duduk bertelekan di atas bantal-bantal lembutnya pada singgasana bermahligai, sementara pelayan hilir bergilir tak henti melayani keperluannya.”

“Sedang engkau Ya Rasulallah, sedang engkau..”, ‘Umar tercekat nyaris tak dapat melanjutkan ucapannya, “Engkau di sisi Allah jauh lebih mulia daripada mereka semua.”

Sang Nabi tersenyum kemudian bersabda, “Tidakkah engkau rela wahai ‘Umar, mereka mendapatkan dunia sedangkan akhirat menjadi bagian kita?”

Maka sekira 10 tahun kemudian, ‘Umar murka ketika para sahabat dipelopori ‘Abdurrahman ibn ‘Auf berupaya untuk menambah fasilitas bagi Sang Amirul Mukminin. Ibunda kita Hafshah yang ditugasi untuk menyampaikan hal itu, kena semprot Sang Khalifah.

“Hai Hafshah”, hardiknya, “Sungguh engkau lebih tahu seperti apa keadaan Rasulullah padahal dia lebih mulia daripada bapakmu. Dan Khalifahnya, Abu Bakr, hidup dalam keadaan yang serupa benar dengan teladannya. Adapun kalian, celaka kalian, kalian berusaha memisahkan aku dari dua orang sahabat yang amat kucinta.. Demi Allah, aku takkan mengubah cara hidupku sampai berjumpa Allah dan kedua kekasihku!”

Maafkan kami ummatmu Ya Rasulallah; yang selalu mengokohkan pondasi bagi dunia di dalam hati, dan membangunnya tinggi-tinggu dengan angan-angan tiada henti.. šŸ˜¢

 

Hati ini bergetar, setelah membuka halaman Facebook. Seseorang telah membagikan gambar replika rumah baginda Rasulullah Muhammad SAW. Rumah yang sangat sederhana jika dibandingkan dengan rumah-rumah sekarang. Namun dari keterangan hadist pun Ā rumah ini begitu sederhana bila dibandingkan dengan rumah (atau bahkan istana) para penguasa di jaman tersebut. Rumah sederhana ini hanya terdiri dari ruang tidur merangkap ruang makan dan ruang shalat. Atapnyapun hanya dari pelepah daun kurma, bagaimana kalau turun hujan?

Namun dari rumah sederhana inilah berteduh seorang pemimpin dunia yang disegani kawan maupun lawan yang hari ini ummatnya merupakan salah satu ummat terbesar di muka bumi.

Bandingkan dengan rumah-rumahĀ kita, yang setengah mati kita berlomba-lomba memegahkannya. Untuk apa? Hanya untuk gengsi dan prestise di dunia yang fana ini. Astaghfirullah… Ā 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s