Senyum Kecut

Bahagia itu sederhana, melihatnya tersenyum ceria penuh bahagia. Kadang senyum narsis mengembang, sambil bercermin di kaca spion motor. Selepas pulang kerja, jika tak hujan saya yang menjemput Khal, naik motor. 

Khal lebih suka diantar-jemput naik motor. Mungkin lebih bebas menikmati perjalanan. Saya pun merasakan kebahagiaan yang sama saat naik motor, kemacetan bagaimanapun bisa ditembus, bahan bakarnyapun masih terjangkau.

Konon, sebentar lagi Pertalite yang diminum si motor akan naik harganya, begitupula dengan pajaknya yang naik hingga dua kali lipat. Tak mengapa sih, asal bahan pokok lain tak ikut naik, asal Khal masih bisa tersenyum, susu dan popoknya masih terbeli, walaupun utang sana-sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s