Transient


This small island in the middle of the Bili-bili dam. I do not know if this island is an artificial island or a natural island. 

The size of this small island from a distance seems like a small house. There are several shade trees that grow on the island. I do not know whether the tree grows naturally or is planted by people around the dam.

The trees on this island grow well because of the need for water, soil, and sunlight. But the abundant water discharge in this reservoir is transient, the water will recede if the dry season arrives.

Penulis Abal-abal


Masih hits kasus copaisme “warisan”, tulisan seorang anak SMA.

Salah satu statusnya sungguh menohok. “Ketika kau mengopas tulisan seseorang, sesungguhnya kau tidak menghargai si penulis asli, karena sekali lagi, menulis itu tidak segampang yang kau bayangkan. Kalau tidak percaya, coba buat sebuah tulisan panjang (yang ‘berbobot’ tentunya, kalau cuma cerita liburan saja anak SD juga bisa)”

Status yang “kurang ajar” bukan? Mosok cerita liburan dibilang tidak berbobot. Saya yang sejak lama mau fokus sebuah blog ke cerita liburan jadi malas menulis. Tapi setelah tahu kalau tulisannya ternyata copasan, semangat menulis cerita abal-abal kembali membara. Biar tulisan remeh asal bukan hasil curian.

Shalat Tarwih Pertama

Saya lupa kapan kali terakhir shalat Tarwih di masjid, sepertinya 10 tahun yang lalu. Ramadhan malam kedua kemarin saya diajak Papa Boss Tarwih di masjid. Saya tak sanggup menolak, dan ikut saja.

Alhamdulillah ceramah tarwihnya sangat bagus, dengan tema kekinian, dan yang paling utama ceramahnya singkat. Inti ceramahnya, hindari berghibah, karena ghibah sama halnya dengan memakan bangkai saudara sendiri. Berghibah saja dilarang, apalagi memfitnah. Selanjutnya, inti puasa adalah mengendalikan diri dari hal-hal yang dilarang agama.

Shalat tarwih pun berjalan lancar. Imam shalat tidak membacakan ayat-ayat yang panjang, cukup satu dua ayat saja. Sungguh shalat tarwih yang berkesan, semoga bisa shalat lagi.

Selamat Berpuasa, Semangat Berdiet

Sidang Isbat menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada tanggal 27 Mei 2017 besok. Hal tersebut berarti mulai Maghrib hari ini telah masuk bulan Ramadhan. 

Seperti biasa, saya semangat tadarus pada awal Ramadhan. Selepas shalat Magrib tadi, saya mulai tadarus Al Quran 60 ayat Surat Al Baqarah. Lumayan kesambet aplikasi Al Quran di ponsel yang sudah usang (baterenya) ini.

Selain bertekad giat beribadah, saya mencoba (lagi, lagi, dan lagi) untuk berdiet. Kali ini ditambah konsumsi teh hitam hadiah Ramadhan Sar. Badan ini sudah melelahkan untuk dibawa, saking besarnya. Seduhan teh hitam pertama ini menandai dimulainya diet secara resmi. Selamat datang Ramadhan, semangat berdiet.

Antri

C360_2017-05-22-14-07-02-154

“Nomor antrian 98!”, sahut costumer service setengah meradang. Tiba-tiba beberapa pengunjung protes keras “Loh, kenapa sudah 98? Saya 86 daritadi ngantri belum dipanggil-panggil?” Kemudian CS nyeletuk lagi “Sori..sori Nomor 86! Nomor antriannya kebalik.. Sori.. Sori”. Kemudian pengunjung kembali mengantri dengan khusyuk.

Perkara mengantri memang kadang pelik. Saya pun kadang ciut jika melihat pengunjung membludak hingga banyak berdiri karena tak kebagian tempat duduk. Saya jarang malas mengantri, pantang pulang sebelum urusan selesai, daripada pulang untuk menundanya besok atau lusa.

Saya hanya berdoa mudah-mudahan banyak yang pulang tidak melanjutkan penantian masa antriannya. Bosan sih menunggu, apalagi kalau menunggu “kosong”, hanya melamun melihat orang-orang karena kehabisan kuota internet.

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah Sudahlah

Ah…

Waiting 2017

Pagi 2017. Ini adalah suasana menunggu pertama tahun ini. Menunggu apa gerangan? Menunggu kepastian yang ditunggu bakalan datang. Tahun 2016 kemarin masih menunggu juga, intensitas menunggu tidak berkurang. Menunggu sambil melakukan hal-hal yang dirasa baik.

Kalau sampai saya bisa posting sesuatu ke blog ini sambil menunggu, berarti menunggunya cukup lama. Sambil menunggu saya biasa buka instagram setengah jam, twitter seperempat jam, memotret lima menit, dan menulis 101 kata tidak penting selama 10 menit. Jadi, sudah lamakah saya menunggu? Tepat setelah saya menulis ini yang ditunggu datang. Buang waktu main socmed membuat saya telat posting tulisan ini.

Semangat baru 2017. Semangat menunggu!

New Horizon

Musim tanam sudah dimulai berbarengan musim hujan. Sawah kembali hijau, menggantikan hitamnya tanah bekas bakaran lahan. Semoga musim hujan kali ini tak membawa banjir yang menyapu lahan persawahan. 
Konon pemerintah tak mengimpor beras tahun ini, stok beras cukup dari para petani. Mereka pekerja keras, sangat keras. Bisa tak makan nasi negara ini kalau mereka mogok kerja, tak mau menanam padi atau menjaga tanaman padinya dari hama. Kerja keras petani harus diapresiasi, salah satunya dengan menjaga harga beras dengan layak, tanpa impor beras.
Teringat Ambo (kakek) yang seorang petani, saya harus mewarisi jiwa pekerja kerasnya. Kalau tak ingin hidup begini-begini saja. Harus!

Need Mood Booster


Lagi bosan, galau, plus malas. Need Mood Booster. Entah mengapa hari ini begitu berat terasa. Padahal tak ada kerjaan yang mendesak untuk diselesaikan. Lihat saja postingan terakhir di blog ini sudah sekitar dua bulanan tak diisi. 
Kadang, mood booster adalah secangkir kopi. Namun untuk hari ini sepertinya tak ada. Air galon habis. Mungkin sekedar foto-foto, tapi tak ada juga yang menarik untuk difoto. Mungkin ini karena sang istri tersayang juga sedang tidak mood disana. Mungkinkah rasa bosan menular? Perantaraan penularannya melalui telepati dan alam bawah sadar?
Butuh penyemangat lagi. Mungkin menulis ini itu bisa menjadi penyemangat, sambil foto bunga. Mari menulis!

Suami tak tahu diri

Dasar suami tak tahu diri! Makan seenaknya, tidur sepuasnya. Kerja ogah-ogahan, gerutu seharian. Lalu minta ini itu seakan kewajibannya sudah dia penuhi? No way! Tak ada tempat di bumi bagi suami begini!

Suami yang baik (baca: tahu diri) adalah suami yang SIAGA PLUS, siap antar jaga plus mandiri. Siap siaga disuruh ini-itu plus masak-masak sendiri, cuci baju sendiri, tidur-tidur sendiri. Kalau perlu jaga anak sendiri.

Terakhir, suami tahu diri itu tidak tidur sebelum anak istrinya tidur, tidak makan sebelum anak istrinya makan, tidak mandi sebelum anak istrinya mandi! Semangat pagi wahai suami tahu diri sedunia. Mari menikmati secangkir kopi buatan sendiri.

Rejeki tipu-tipu blackberry

DSC_0245

Sebuah pesan masuk ke bb jekardah istri yang saya pegang. Katanya, kami menang undian satu unit honda jazz, berkat kesetiaan kami menggunakan ponsel bb. Alhamdulillah.
Seperti biasa saya curiga saja dengan “keberuntungan” tersebut. Biasanya penipuan, saya mbatin. Maklum, saya tak pernah menang undian. Hadiah hiburan seperti kipas angin apalagi mobil. Tidak pernah! Entahlah, penipu sungguh tega mempermainkan perasaan saya.
Isi pesan tersebut sangat meyakinkan, dengan logo RIM yang lumayan meyakinkan kalau pesan tersebut benar dari pihak RIM. Namun kecurigaan saya berubah menjadi keyakinan kalau pesan tersebut benar penipuan. Ada typo dalam pesan, dan situs memakai blog gratisan. Alhamdulillah kami tak tertipu.

Rumah sederhana baginda Rasulullah Muhammad SAW

BEGINI KIRANYA RUMAH ITU

‘Umar menangis menyaksikan tubuh yang berbaring miring itu. Lelaki tinggi besar itu tertunduk miris menyaksikan punggung Sang Kekasih Allah tergurat bilur bekas tertekan pelepah kurma yang jadi alas peraduannya.

Sosok agung itu terjaga, tersenyum, dan berkata, “Mengapa engkau menangis ya Ukhayya?”

“Aku teringat Kisra Persia dan Kaisar Romawi”, sahut ‘Umar sambil menyeka airmatanya, “Mereka duduk bertelekan di atas bantal-bantal lembutnya pada singgasana bermahligai, sementara pelayan hilir bergilir tak henti melayani keperluannya.”

“Sedang engkau Ya Rasulallah, sedang engkau..”, ‘Umar tercekat nyaris tak dapat melanjutkan ucapannya, “Engkau di sisi Allah jauh lebih mulia daripada mereka semua.”

Sang Nabi tersenyum kemudian bersabda, “Tidakkah engkau rela wahai ‘Umar, mereka mendapatkan dunia sedangkan akhirat menjadi bagian kita?”

Maka sekira 10 tahun kemudian, ‘Umar murka ketika para sahabat dipelopori ‘Abdurrahman ibn ‘Auf berupaya untuk menambah fasilitas bagi Sang Amirul Mukminin. Ibunda kita Hafshah yang ditugasi untuk menyampaikan hal itu, kena semprot Sang Khalifah.

“Hai Hafshah”, hardiknya, “Sungguh engkau lebih tahu seperti apa keadaan Rasulullah padahal dia lebih mulia daripada bapakmu. Dan Khalifahnya, Abu Bakr, hidup dalam keadaan yang serupa benar dengan teladannya. Adapun kalian, celaka kalian, kalian berusaha memisahkan aku dari dua orang sahabat yang amat kucinta.. Demi Allah, aku takkan mengubah cara hidupku sampai berjumpa Allah dan kedua kekasihku!”

Maafkan kami ummatmu Ya Rasulallah; yang selalu mengokohkan pondasi bagi dunia di dalam hati, dan membangunnya tinggi-tinggu dengan angan-angan tiada henti.. 😢

 

Hati ini bergetar, setelah membuka halaman Facebook. Seseorang telah membagikan gambar replika rumah baginda Rasulullah Muhammad SAW. Rumah yang sangat sederhana jika dibandingkan dengan rumah-rumah sekarang. Namun dari keterangan hadist pun  rumah ini begitu sederhana bila dibandingkan dengan rumah (atau bahkan istana) para penguasa di jaman tersebut. Rumah sederhana ini hanya terdiri dari ruang tidur merangkap ruang makan dan ruang shalat. Atapnyapun hanya dari pelepah daun kurma, bagaimana kalau turun hujan?

Namun dari rumah sederhana inilah berteduh seorang pemimpin dunia yang disegani kawan maupun lawan yang hari ini ummatnya merupakan salah satu ummat terbesar di muka bumi.

Bandingkan dengan rumah-rumah kita, yang setengah mati kita berlomba-lomba memegahkannya. Untuk apa? Hanya untuk gengsi dan prestise di dunia yang fana ini. Astaghfirullah…  

Pentingnya Tabayyun, Cek dan Ricek

Titip uang bisa jadi kurang, titip omongan bisa jadi lebih

1. Sehabis pulang dari sawah, kerbau rebahan di kandang dengan wajah capek dan nafas yang berat. Datanglah anjing. Kerbau lalu berucap :
“Ahh teman lama, aku sungguh capek dan besok mau istirahat sehari”.

2. Anjing pergi dan jumpa kucing di sudut tembok, dan berkata :
“Tadi saya jumpa kerbau, dia besok mau istirahat dulu.
Pantaslah, sebab boss kasih kerjaan terlalu berat sih”.

3. Kucing lalu cerita ke kambing dan berkata :
“Kerbau komplain boss kasih kerja terlalu banyak & berat. Besok gak mau kerja lagi”.

4. Kambing jumpa ayam dan berucap :
“Kerbau gak suka kerja untuk boss lagi, sebab mungkin ada boss lain yang lebih baik”.

5. Ayam jumpa monyet dan berkata : “Kerbau gak akan kerja untuk bossnya dan ingin cari kerja di tempat yang lain”.

6. Saat makan malam monyet jumpa boss dan berkata :
“Boss, si kerbau akhir-akhir ini sudah berubah sifatnya dan mau meninggalkan boss untuk kerja dengan boss lain.”

7. Mendengar ucapan monyet, boss marah besar dan membunuh si kerbau karena dinilai telah mengkhianatinya.

Ucapan asli kerbau :
“SAYA SUNGGUH CAPEK, DAN BESOK MAU ISTIRAHAT SEHARI”.

Lewat beberapa teman akhirnya ucapan ini sampai ke boss dan pernyataan kerbau telah berubah menjadi :
“Si Kerbau akhir-akhir ini telah berubah sifatnya dan mau meninggalkan boss untuk kerja dgn boss lain”.

Sangat baik untuk disimak :

• Ada kalanya suatu ucapan harus berhenti (stop) sampai telinga kita saja. Tidak perlu diteruskan ke orang lain.

• Jangan percaya begitu saja apa yang dikatakan orang lain, meskipun itu orang terdekat kita. Kita perlu check & recheck kebenarannya sebelum bertindak.

• Kebiasaan melanjutkan perkataan orang lain dengan kecenderungan menambahi (mengurangi), bahkan menggantinya berdasarkan PERSEPSI SENDIRI bisa berakibat fatal.

• Bila ragu-ragu akan ucapan seseorang yang disampaikan via orang lain, sebaiknya kita langsung bertanya pada yang bersangkutan.

Bila ingin menyampaikan sesuatu kepada orang lain, baik juga memakai 3 kriteria yang harus dipenuhi :
– Apakah benar?
– Apakah baik?
– Apakah berguna?

Bila semua jawabannya “YA”, sampaikanlah… Mudah-mudahan ini menjadikan kita lebih memahami akan pentingnya kebenaran sebuah berita serta membuat kita lebih berhati-hati lagi dalam menyampaikan informasi.

Selamat siang, mari bertabayyun.

Save Indonesia, Bersatulah!

Punya gunung emas belum tentu menjadi berkah, melainkan juga musibah. Minyak dan emas selalu terkait dengan darah dan nyawa manusia. Cadangan emas dibawah bumi Papua yang saat ini dikelola Freeport masih memiliki cadangan jutaan kilogram emas lagi yang baru habis dieksploitasi pada tahun 2056.

Kontrak Karya (KK) Freeport habis pada 2021. Pernah terjadi MoU antara pemerintahan SBY dan Freeport pada 2009 lalu untuk memperpanjang lagi s/d 2041. Tapi dengan berlindung kepada UU Minerba yg menyebutkan bahwa KK baru bisa dievaluasi 2 tahun sebelum kontrak habis, maka Jokowi membatalkan MoU tersebut.

Amerika kebakaran jenggot. Jika Freeport tidak diperpanjang kontraknya, maka cadangan emas milik Amerika yang menjadi pondasi mata uang Dolar diseluruh dunia bakal rontok. Amerika tetap ingin menancapkan kukunya di Freeport, apapun taruhannya.

Negosiasi ulang KK Freeport baru bisa dilaksanakan pada 2019, dimana Jokowi masih berkuasa s/d Okt 2019.

Opsi Amerika cuma ada 2:
Perpanjang kontrak Freeport (meski ada beberapa penyesuaian) atau hancurkan Indonesia.

Waspadalah!!! Pada kurun 2016 – 2018 bangsa ini bakal diserang issue separatis dan konflik SARA. Kelompok radikal bakal kebanjiran transfer uang Dolar dan Real. Pentolan kelompok intoleran itu aslinya cuma menjalankan peran sebagai event organizer bernama KERUSUHAN. Terima order, terima fulus, bikin kerusuhan disana-sini, dan kirim laporan kepada sang juragan.

Gereja dibakar, masjid dibakar, larangan membangun masjid, larangan membangun gereja, makin berseliweran beritanya di sosial media. Mereka yang ingin beragama tetapi miskin pengetahuan, bakal jadi korban hasutan provokator yang memimpin mereka angkat senjata. Isue Sunni-Syiah yang sukses menghancurkan Suriah dan Irak akan diduplikasi di republik ini.

Aceh dan Papua adalah titik masuk potensial bagi Amerika untuk mensuriahkan NKRI. Para oportunis yang mendompleng kepentingan Amerika bakal berpesta-pora. Parpol-parpol busuk ikut menunggangi kepentingan Amerika untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Dengan konsesi bahwa jika Jokowi terguling dan mereka berkuasa, maka KK Freeport bakal diperpanjang.

Hura hara dan kegaduhan politik makin banyak. Demo buruh dan mahasiswa bakal merajalela. Karena ada bandar besar yang membiayai mereka. Buruh dan mahasiswa adalah obyek penderita dari para aktivis yang melakukan konspirasi dengan parpol busuk yang melacurkan diri kepada Amerika.

Bangsa ini terancam, negeri ini sedang memasuki episode bencana yang sudah didepan mata. Tapi warganya masih sibuk berkelahi akibat aspirasi politiknya yang beda afiliasi. Masih ribut melakukan dikotomi sebagai pendukung Prabowo atau pendukung Jokowi. Sibuk dengan onani politik bersama TV One atau Metro TV.

Banggalah menjadi INDONESIA. Cobalah buka mata hati dan nurani anda, dan sejenak mengesampingkan suku, agama, mazhab atau warna kulit anda. Berpikir dan bertindaklah sebagai warga negara Indonesia.

Negeri tercinta sedang terancam bahaya. Ayo bersatu, ayo saling mendukung. Jangan mau dipecah belah oleh Rambo dan sejenisnya.

Bangsa ini adalah bangsa yang besar dan kaya raya jika warganya bersatu membangun negeri. Jayalah NKRI.

***dicopas sementahnya dari sosmed sebelah***

Kisah Telunjuk Sang Raja

Lukisan abstrak

Alkisah di suatu kerajaan, seorang raja berburu ke hutan bersama penasehat dan pengawalnya. Celaka bagi sang raja, telunjuknya tertusuk duri tumbuhan beracun. Sepulangnya ke istana, dokter kerajaan menyarankan agar telunjuk sang raja diamputasi agar racunnya tidak menyebar ke seluruh tubuhnya. Singkat cerita, telunjuk sang raja dipotong, lalu curhatlah dia pada penasehatnya.

“Wahai penasehatku, sungguh sial diriku, dari sekian banyak orang berburu ke hutan, hanya telunjukku ini yang kena racun. Padahal, telunjuk ini punya seorang raja. Bagaimana menurutmu?” tanya sang raja. “Maaf paduka, menurut hamba paduka raja sungguh masih beruntung”, jawab penasehat. “Beruntung katamu? Sungguh lancang dirimu berkata demikian! Aku ini seorang raja, dan tak ada telunjuk seperti ini kamu katakan sebuah keberuntungan?” murka sang raja. “Tapi, paduka masih hidup bukan?”, timpal penasehat. “Ini bukan soal aku masih hidup atau tidak, tapi soal telunjuk! Bukankah sungguh sial aku diantara kalian-kalian yang bersamaku ke hutan!?”, sang raja makin murka, kemudian menyuruh pengawal memenjarakan penasehat.

Penasehat kemudian dipenjarakan. Sang raja pun kembali meneruskan hobinya berburu ke hutan, dia tidak jera. Berburu ke hutan ditemani pengawal-pengawalnya, tanpa penasehat. Suatu saat dalam perburuannya di hutan, rombongan raja dicegat oleh suku kanibal. Seluruh pengawal dimangsa dengan lahapnya, hanya tinggal raja yang hidup, tidak dimakan. Sang raja heran dan bertanya pada ketua suku kanibal “Ada apa gerangan wahai kanibal, mengapa kalian memakan Semua pengawalku dan menyisakan diriku?”. Ketua kanibal berkata “Maaf, kami hanya memakan manusia-manusia yang sempurna fisiknya. Kami melihat engkau tak punya telunjuk, kamu tidak sempurna! Pulanglah! Urus itu telunjuk!”.

Dan pulanglah sang raja ke istananya dengan suka cita, tak jadi mati. Didatangi dan dibebaskannya sang penasehat Karena menganggap penasehat benar dan berjasa, sungguh inilah yang dimaksud keberuntungan oleh penasehat. “Oh penasehat, maafkan diriku, ternyata engkau benar, karena telunjukku yang terpotong malah membawa keberuntungan”, kata sang raja. “Oh begitu paduka? Justru hamba yang berterima kasih pada paduka karena telah memenjarakan hamba”, jawab penasehat. “Mengapa demikian? Engkau mengolok-olokku lagi?” tanya sang raja. “Tidak paduka, hamba tulus mengucap terima kasih. Jika hamba tak dipenjara, tentulah sudah ikut berburu ke hutan bersama paduka. Hamba masih mempunyai anggota tubuh yang lengkap yang tentunya disukai oleh suku kanibal”

Sang raja tertegun, memaknai syukur atas keadaan bagaimanapun.

Secercah Bahagia dari Uang Receh

Es Krim Murah AW

Siang itu saya ke sebuah toko elektronik di bilangan jalan Veteran, mencari kabel LAN. Toko lumayan ramai pengunjung. Seorang bapak, pelanggan lain sedang menghitung uang, kemudian terlibat percakapan dengan pelayan toko. “Duh, kurang duaribu uangnya dek… Ini dulu nah, nanti lain kali saya bayar kurangnya”, kata si bapak. “Duh pak, saya cuma pelayan”, pelayan toko menolak memberi keringanan. Air muka si bapak berubah pucat, mencari sereceh dua receh uang koin dan kertas di kantongnya, mengobok-obok isi dompetnya demi mencari uang duaribu perak. Jika saya menjadi si Bapak, mungkin saya pun berpikir jauhnya pulang ke rumah gara-gara duaribu perak.

Saya menguping pembicaraan tersebut, kemudian pura-pura bertanya kepada si Bapak. “Kenapa Pak?”. “Anu Pak, uangnya kurang duaribu”, jawab si Bapak agak malu. Saya kemudian mengeluarkan uang empat ribuan dari kantong, dua ribu saya kasih ke Bapak, dua ribu saya masukkan kembali ke kantong, persiapan bayar parkir. Si Bapak kemudian setengah mati berterima kasih pada saya. Saya tersenyum dan berlalu pergi, sambil mengangkat telepon yang tiba-tiba berbunyi.

Maaf, tulisan ini bukannya untuk pamer kalau saya sudah berbuat baik hari ini. Saya cuma mbatin, sekeras itukah kehidupan? Perkara duaribu, bisa jadi panjang urusan? Memang betul kata orang, kadang kita meremehkan uang receh duaribuan, tapi bukankah tak ada seratus ribu bila tak ada uang duaribu yang menggenapkan uang sembilanpuluhdelapanribu? Dilain sisi, tanpa sadar kadang kita hamburkan uang demi segelas es krim di mall, atau mengisi kartu temson demi permainan tak jelas, atau membiarkan uang receh tergeletak di lantai. Saat butuh, baru kita merindukan “uang kecil” tersebut.

Saya bayangkan kalau saya yang berada di posisi si Bapak, ada beberapa pilihan bagi saya sih. Pertama, telepon Sar suruh transfer duit. Kedua, tebal muka minjem ke tukang parkir, cincin batu akik saya simpan buat jadi jaminan. Ketiga, tak jadi beli itu barang. Tapi, ada sedikit rasa penyesalan, mengapa saya tak memberi uang lebih ke si Bapak. Mudah-mudahan beliau tak berurusan panjang dengan tukang parkir.