Demi Masa

Sang waktu berjalan begitu cepat, laksana anak panah yang menembus apapun yang berada di depannya, laksana air yang tak henti mengalir kemana saja.

Baru saja rasanya negeri api menyerang di puncak pergantian tahun, sudah lewat tujuh hari saja dari waktu itu, rasanya baru kemarin. Sungguh tujuh hari yang sangat singkat, tak terasa hari, pekan, bulan, dan tahun berganti. Mari memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, mungkin waktu kita akan habis sedetik kemudian.

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).

Advertisements

Nyamuk Aedes

Bukti bahwa gentong adalah sarang jentik masih menguat hari kedua fogging tahun ini. Selain jentik, gentong ini ada nyamuknya. Kebetulan si nyamuk sedang mengapung di atas permukaan air, sedang beristirahat atau bertelur?

Nyamuk ini adalah species Aedes albopictus, satu dari dua penular virus dengue yang dominan di Indonesia selain Aedes aegypti. FYI, perbedaan Aedes albopictus dengan Aedes aegipty adalah corak di bagian kepalanya. Kalau A.albopictus corak kepala lurus seperti angka 1, motif A.aegypti seperti dua huruf C saling membelakangi.

Adanya nyamuk Aedes albopictus ini di suatu daerah membuat daerah tersebut sangat rawan terjadi penularan DBD. Semoga tak ada korban dengue selanjutnya.

Gentong Jentik

Masih banyak warga yang pedesaan yang menggunakan gentong air dari tanah liat. Bahasa Makassarnya, gumbang. Teringat orang gemuk yang kadang diidentikkan dengan gentong. Battala’ gumbang reppe’ (gemuk gentong pecah).

Air yang disimpan dalam gumbang otomatis menjadi sejuk. Mungkin orang terdahulu menggunakan gentong untuk mengendapkan air yang kurang jernih, lalu langsung meminum airnya tanpa dimasak terlebih dahulu.

Sayangnya, dari sekian banyak gumbang yang saya temukan, hampir semuanya memiliki jentik nyamuk. Kelembaban yang tinggi dan gentong yang tak ditutup membuat nyamuk sangat senang bertelur dan beristirahat disini. Banyak kemudian KLB DBD di daerah yang bergentong. Yah mbok airnya dikuras seminggu sekali biar aman.

Gambar Apa?

Seperti biasa, sepulang kerja Khal meminjam hape saya, kemudian minta dibukakan youtube. Anak kecil jaman now memang sudah sangat akrab dengan video online di youtube, bisa dibilang kecanduan malah. Kalau tak dituruti bisa ngamuk. 

Selain menguras kuota, tentu saja sering nonton youtube membuat anak-anak tak terkendali dengan pengaruh youtube. Kalau tak hati-hati bisa rusak mental anak apabila membuka video tontonan yang tak sesuai dengan umurnya.

Berhubung kuota baru beli, saya nonaktifkan internet. Jadilah Khal tidak bisa mengakses youtube. Kali ini dia memilih menggambar dengan tangannya. Saya tak menyangka Khal sudah tahu menggambar, walaupun gambarnya sangat abstrak. Katanya, ini adalah gambar dirinya. 

Hari Sibuk

Dua hari awal kerja tahun 2018 ini sungguh melelahkan. KLB Suspek difteri dan peningkatan kasus DBD di Rumah Sakit lumayan menguras tenaga, keduanya harus ditanggulangi secepatnya dengan tepat.

Kasus suspek difteri masih dirawat di Rumah Sakit, ini adalah kasus baru setelah tahun 2012 yang lalu. Selain mencari sumber utama penularan, kasus kontak harus diamankan dengan pencegahan pemberian antibiotik dan imunisasi, termasuk tenaga kesehatan yang menangani. Telah dilakukan pengambilan sampel kasus dan kontak, tinggal menunggu hasil lab.

DBD juga meningkat di pertengahan musim penghujan ini, kasus menyebar di daerah padat dan slump area. Mestinya masyarakat ikut berpartisipasi memberantas sarang nyamuk dengan 3Mplus.

Happy Kiddy

Ada arena bermain untuk anak yang baru di Trans Studio Mall Makassar, Happy Kiddy. Wahana bermain lumayan lengkap seperti seluncuran, mandi bola, dan ayunan. Bahkan ada flying fox dan arena skating-nya.

Tiket masuknya lumayanlah, paling murah 100 ribuan bagi non member. Tapi bermain sampai puas, semua wahana, dengan konsep outbond anak yang aktif bergerak.  Mending main ini daripada masuk Tim*z***, 150 ribu puasnya kegantung.

Selain tempat yang menyenangkan bagi anak-anak, arena bermain anak seperti ini adalah surga tersembunyi bagi seorang ayah. Tak perlu repot tawaf keliling mall untuk menghabiskan waktu menemani sang istri, cukup duduk diam tenang memperhatikan sang anak bermain.

Tahu Terakhir

Bakso tahu ini setahu saya adalah yang terakhir di piring. Sepertinya juga yang terakhir di lemari pendingin. Mau saya comot, tapi enggan bin segan. Siapa tahu ada yang lebih membutuhkan, lebih lapar. Saya sih sudah kenyang dengan dua bakso tahu sebelumnya.

Biasanya makanan terakhir di piring memang enggan saya comot. Kalau ada pesta gorengan di kantor biasanya ada satu gorengan yang tersisa. Saya enggan jadi yang terakhir memakannya. Rasanya balala dudui (terlalu rakus) mengembat yang terakhir. 

Mungkin semuanya berpikiran demikian, hingga akhirnya sering ada satu makanan yang tersisa, mubazir. Kecuali saya kelaparan dan ada yang mempersilahkan, makanan terakhir saya sikat juga.

2017 Favorites

Saya paling suka foto berdua dengan Khal, putri semata wayang kami. Bukan foto pemandangan yang indah-indah atau foto makanan yang menggugah selera. 

Padahal momen saat mengambil foto biasa-biasa saja. Di depan Indomaret setelah Khal beli jajan. Saya ingat betul, beberapa hari setelah foto itu, saya mengunggah status whatsapp dengan lirik lagu Foolish Father-nya weezer. Sungguh memilukan. 

Namun berhubung foto ini telah terposting disini sebelumnya, saya posting terfavorit kedua saja. Foto awan, saat di atas pesawat Makassar-Jogja. Saat itu serasa sangat dekat dengan-Nya. Setelah mengambil foto, pesawat tak bisa mendarat di Jogja berhubung cuaca buruk. Alhamdulillah Allah SWT masih memberi kesempatan hidup.

The Last Hour 2017

The last hour. Ini adalah jam terakhir tahun 2017 di penanggalan masehi. Tak terasa 8759 jam telah berlalu dan akan berganti di tahun 2018. Seperti tahun-tahun sebelumnya jelang pergantian masa, resolusi tahun baru selalu terniatkan, walaupun sudah pasti gagal.

Tahun 2018 resolusi kembali diniatkan, seperti yang sudah-sudah. Pastinya, saya mau menjadi pribadi yang lebih baik lagi (ah.. klise). Teruntuk blog ini, saya mau posting apa saja setiap hari, 365 hari. 

Resolusi ini saya yakin hanya bertahan selama 2 hari. Hari pertama adalah kontemplasi, dan hari kedua malas kembali melanda. Tapi tak mengapa, yang penting sudah berniat, perihal mengaktual itu urusan kesekian.

Rempeyek Kacang Tanah

Saya biasa menyebutnya kerupuk, atau geruput. Ya, camilan apapun yang kresh-kresh gurih dimulut saya sebut kerupuk. Beda dengan orang Jawa yang lebih spesifik, rempeyek ini contohnya. Konon ini bukan kerupuk, tapi peyek. 

Rempeyek atau peyek adalah sejenis makanan pelengkap dari kelompok gorengan. Secara umum, rempeyek adalah gorengan tepung beras yang dicampur dengan air hingga membentuk adonan kental, diberi bumbu (terutama garam dan bawang putih), dan diberi bahan pengisi yang khas, biasanya biji kacang tanah atau kedelai. 

Peran tepung di sini adalah sebagai pengikat. Pengisi dapat juga bahan pangan hewani berukuran kecil, seperti ikan teri, ebi, udang kecil, jingking, atau laron. Mau?

Pallumara Ikan Bete-Bete


Karena menjomblo malam ini, saya “beranikan diri” memasak sendiri. Daripada kelaparan!? Kemarin malam karena kelaparan, beli nasi kucing di angkringan dekat rumah walaupun sudah malam, tak puas pula.

Rencana menu sore ini sederhana saja, tahu tempe. Saya bergegas ke pasar, tempe ada tahu sudah sold out. Saya tergoda tawaran ikan murah dari penjual ikan. Ikan bete-bete, 10 ribu sekitar 15 ekor. Saya beli saja, menemani sang tempe.

Sampai di rumah, saya bingung ikannya mau diapakan. Mau digoreng, tapi pengalaman sebelumnya ikan ini hancur bila digoreng. Saya masak pallumara saja, dengan bumbu minimalas. Bawang merah, bawang putih, garam, bumbu instan, dan kunyit.

Temporary

Sawah tetangga lebih hijau daripada sawah tetangga yang satunya. Musim hujan telah tiba, saatnya menikmati lansekap pemandangan sawah menghampar hijau. Entah siapa yang punya, biasanya sih tuan sawah yang punya banyak sawah.

Pemandangan hamparan sawah hijau tak sepanjang tahun bisa dinikmati. Temporer. Jelang panen, hamparan sawah berubah warna jadi kuning. Saya sih sukanya warna hijau daripada kuning. Beda dengan petani yang pastinya suka padinya berwarna kuning, tanda jerih payah peluh keringatnya selama ini akan terbayarkan. Semoga hujan tak deras-deras amat, biar sawah pak tani aman dari banjir. 

Saya berbahagia, masih bisa menikmati pemandangan indah begini. Saya sempatkan singgah memotret. Masya Allah.

Foolish Father (by Weezer)

​Simple love songs. Drenched in poisons. I’ve been out of long. Hesitate to throw your stones. When criminals are victims. Looking back into our past. There’s no cause for these symptoms now.

Forgive your foolish father. He did the best that he could do. You are his daughter. He’d do anything for you. Think of how destroyed he feels. Walking to his grave plot. Knowing that the one he loves. Hates him with all of her heart. 

Please Remember your dad. Although he’s been astray. How comical. The stuff that makes a man. Everything will be alright in the end.

-Weezer-

nanti juga lo paham


Pilihan antara menyerah atau tetap bertahan. Segala keputusan ada konsekuensinya, entah itu baik atau buruk. Lakukan saja yang terbaik, Insya Allah ada jalan terbaik. nanti juga lo paham.

Boneka ini adalah hadiah capit-capitan timezone. Lihat saja profil picture saya di wa, boneka ini mengapit manis di ketiak sebelah kiri. Sekarang duduk manis di dadboard mobil Sar. Saya kadang repot melihat ke depan bila ada sapi ini. Entah mengapa Sar pasang terus disini. nanti juga lo paham.

Dengan kerendahan hati dan kesabaran yang nyaris berbatas, aku memberi tenggat, paling lama tiga bulan. Namun sepertinya aku memilih bertahan. Mengapa? nanti juga lo paham.

Eric Maxim Choupo-Moting

​Sebut saja namanya Choupo, dia biang keladi gagalnya MU mempertahankan cleansheet pada pekan ke-4 EPL musim ini. Bukan hanya satu gol, tapi dua gol dicetaknya ke gawang De Gea yang masih perawan. Satu gol dengan sepakan, satunya lagi dengan sundulan. Sungguh menyakitkan.

Eric Maxim Choupo-Moting nama lengkapnya. Usianya 28 tahun, dengan kewarganegaraan ganda (atau naturalisasi?) Kamerun lalu Jerman. Baru bermain di Inggris musim ini setelah hijrah dari klub Jerman Schalke dengan status bebas transfer. Sepertinya dulu dia tak terkenal. Tapi malam ini dia membuat luka MU, bisa jadi terkenal karenanya.

Beruntung MU tidak kalah, gol Rashford dan Lukaku menyelamatkan muka MU. 

Corner

​Saat negeri ini telah merdeka, telah merdeka kah rakyatnya? Terkhusus saya! Pertanyaan yang senantiasa berulang saat peringatan kemerdekaan Repubik Indonesia, negeri tercinta ini.

Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, oleh sebab itu bla bla bla. Kemerdekaan selalu saja disebut, tapi sudah merdekakah kita? Banyak penjajah baru setelah Jepang dan Belanda. Banyak? Iya banyak! Salah satunya adalah penjajahan pikiran.

Pikiran kalau yang kaya lebih berhak mengeksploitasi si miskin, pikiran kalau wanita selalu benar dan suami selalu salah, pikiran kalau hidup baru sah jika sudah apdet status sosmed, pikiran kalau baru makan namanya kalau makan nasi, pikiran kalau bendera harus berkibar saat dinaikkan. Merdeka!

Ooh, Shiny!


Saya senang memotret, memotret apa saja. Teknologi semakin baik, tak ada batasan ruang memori untuk memotret. Kalau dulu terbatasi 36 kutip dalam satu roll, sekarang tidak. Berapa kali kutip dalam satu objek pun bisa, selama ruang memori masih ada.

Namun akhir-akhir ini saya malas memotret, kecuali kepepet seperti merekam data penting atau ada momen khusus. Seperti kemarin, momen berangkatnya Papaboss dan Mamaboss ke tanah suci harus terpotret. Tapi saya malas memotret banyak-banyak di tempat umum seperti di bandara, risih. 

Hubungannya dengan foto ini? Iseng saja sambil mengikutkan di tantangan foto wordpress, ooh shiny. Bunga pukul sepuluh yang mekar kuncup tiap hari.

Antrian Pegadaian

Karena “tak ada kerjaan”, saya ke kantor “mengatasi masalah tanpa masalah” pagi ini, ya Pegadaian. Saban bulan tanggal 20 saya mesti membayar cicilan emas Sar. 

Investasi cicilan emas kami rasa sepadan dengan kemampuan kami. Ringannya hanya 5 gram, cukuplah untuk kami cicil tiap bulan. Masalahnya kemudian, membayar cicilan harus dilakukan di kantor pegadaian. Tak ada opsi membayar online atau transfer ATM. Hal yang sangat merepotkan bagi yang punya kerjaan statis.

Seperti pagi ini, saya mendapatkan nomor antrian 28, tapi yang dilayani baru nomor 15. Jika tiap pengunjung dilayani selama 2 menit, maka saya butuh 26 menit menunggu. Sungguh sangat tidak produktif.